Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 November 2018 | 21.21 WIB

Kisah Thitacarini, Biksuni Pertama Indonesia Kandidat Doktor

Bhiksuni Thitacarini, berdoa saat detik-detik menjelang perayaan Waisak di Candi Sewu, Klaten, Senin (29/5). - Image

Bhiksuni Thitacarini, berdoa saat detik-detik menjelang perayaan Waisak di Candi Sewu, Klaten, Senin (29/5).

Di dunia ini tidak banyak perempuan yang memilih jalan hidup sebagai biksuni. Pasti tidak banyak pula biksuni yang memiliki gelar doktor (PhD). Thitacarini merupakan kombinasi dua hal yang sedikit itu.


HENDRA EKA, Jakarta


---


SUDAH beberapa minggu ini Thitacarini kembali ke Indonesia. Biasanya, hari-harinya dihabiskan dengan belajar di Universitas Kelaniya, Sri Lanka. Thitacarini kembali ke Indonesia karena sejumlah kegiatan. Salah satunya, menjadi panitia inti konferensi umat Buddha se-Asia pada 15-17 September di gedung Prasadha Jinarakkhita, Jakarta. Tempat itu memang spesial bagi Thitacarini. Di sanalah dia menetap sementara selama berada di Jakarta.


Jawa Pos menemui Thitacarini di gedung tersebut. Saat itu tampak sembilan piring kecil berwarna merah yang berisi lauk-pauk dan buah-buahan segar. Siap disajikan untuk makan siang sang biksuni.


Ada sajian nasi, bihun goreng, terong, kentang balado, telur dadar, sayur buncis, sayur sawi putih, nanas, dan semangka. Serbavegetarian. Tak ketinggalan, dua botol minuman sari kedelai dan lou han kuo (teh herbal) menemani makan siangnya.


Sebelum makan, Thitacarini bersama lima perempuan yang menyajikan makanan tersebut berdoa bersama. Thitacarini duduk di kursi, sedangkan lima perempuan lain lesehan di sekitar kursi sambil berdoa sejenak.


Makanan tersebut merupakan sumbangan dari dana umat Buddha yang berkunjung ke gedung Prasadha Jinarakkhita (PJ). "Makanan ini semua sumbangan umat, sarapan dan makan siang saya semuanya berasal dari dana umat," ujarnya.


Thitacarini terlahir dengan nama asli Julia Surya 32 tahun lalu di Bengkalis, Riau. Dia dibesarkan oleh keluarga sederhana yang menganut aliran kepercayaan. "Di daerah saya itu mayoritas Chinese. Mereka itu (menganut, Red) kepercayaan, tapi mengaku Buddhis," kata perempuan berkacamata tersebut.


Ayahnya seorang pedagang barang elektronik, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga yang pernah berkecimpung di bidang salon kecantikan di Bengkalis.


Pada 2005 keluarga Thitacarini mendapat cobaan. Kakek yang sangat dia sayangi meninggal dunia. Selama tujuh hari setelah meninggalnya sang kakek, keluarga Thitacarini mengadakan doa bersama yang dipimpin seorang biksu. Sejak itulah Thitacarini bersama keluarga semakin tekun mendalami ilmu agama Buddha.


Setelah menamatkan SMA di Bengkalis, dia melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah. Saat itu pula dia menjadi samaneri (calon biksuni). Namanya resmi berganti dari Julia Surya menjadi Thitacarini yang berarti keteguhan dalam menjalani kehidupan.


Tepat pada tahun keempat, Thitacarini menyelesaikan studinya. Dia menyandang predikat cum laude sarjana agama Buddha dengan indeks prestasi 3,87. Tak perlu waktu lama, samaneri Thitacarini meneruskan kuliah S-2 di Universitas Kelaniya, Sri Lanka. Dia mendapat dukungan beasiswa dari umat Buddha Singapura, Majelis Buddhayana Indonesia, dan Perempuan Buddhis Indonesia. Thitacarini yang tidak memiliki kenalan siapa-siapa di Sri Lanka dipertemukan dengan sesama samaneri dari Hongkong, Visuddhicari, yang juga akan ditahbiskan sebagai biksuni.


Untuk menjadi biksuni, seseorang harus memiliki akses untuk menemui perwakilan otoritas atau sangha biksuni setempat. Biksuni harus ditahbiskan oleh seorang biksuni (tidak boleh biksu). Sangha Agung Indonesia (Sagin) saat itu belum memiliki seorang pun biksuni yang ditahbiskan dengan tradisi therawada. Karena itu, belum ada yang bisa memimpin prosesi upasampada atau menahbiskan seorang samaneri menjadi biksuni.


Akhirnya, karma baik memayungi langkah Thitacarini. Penantian lama untuk menjadi biksuni tiba. Pada 12 Mei 2012 di Dekanduwala Dharma Center, Sri Lanka, Thitacarini bersama seniornya Dhammacarini dan Visuddhicari ditahbiskan menjadi biksuni. Saat itu usia Thitacarini masih 26 tahun.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore