Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 September 2018 | 03.16 WIB

Cara Perguruan Silek Limbago Budi Jaga Tradisi leluhur Minangkabau

Tuo Silek Limbago Budi, Rizal Intan Sati saat melatih seorang bule yang ingin belajar silek Ranah Minang - Image

Tuo Silek Limbago Budi, Rizal Intan Sati saat melatih seorang bule yang ingin belajar silek Ranah Minang

Silek (silat) adalah seni bela diri turun-temurun yang diwariskan tetua Minangkabau sejak ratusan tahun silam. Tanpa terus dibumikan kepada generasi selanjutnya, bukan tidak mungkin tradisi yang menjadi simbol lelaki Ranah Minang itu hilang di telan masa.


Riki Chandra, Sumbar


Dari kerisauan itulah lahir Perguruan Silek Limbago Budi, di Nagari Cupak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar). Perguruan yang dibesarkan Rizal Dt Intan Sati itu supaya terus berupaya menjaga tradisi leluhur Minangkabau.


Bahkan, eksistensinya kini telah merambah ke siswa di bangku sekolah. Rizal Intan Sati mengatakan, Limbago Budi dikukuhkan sejak 2015 silam. Meski sebetulnya, aktifitas melatih dan menghidupkan silat tradisi sudah berlangsung sejak tahun 2008 silam.


"Ini perguruan silek tradisi bukan silat. Limbago itu artinya lembaga. Sedangkan budi menyangkut akhlak. Jadi, limbago budi adalah lembaga atau wadah membina akhlak generasi muda, termasuk para gurunya dengan silek," kata Rizal Intan Sati saat berbincang dengan JawaPos.com, pekan lalu.


Tuo silek bernama asli Rizal Cardov itu mengatakan, Limbago Budi berjalan otodidak dengan tujuan akhir melahirkan pendekar Ranah Minang yang berdudi pekerti dan akhlak mulia. Seperti cita-cita hakekat silek yang diwariskan pada tetua Minangkabau dulunya.


"Perguruan ini lebih kepada wadah pendidikan informal yang membina mental dan karakter orang Minang sesungguhnya," sebut Intan Sati.


Logo sasaran Limbago Budi itu bulat menggelinding dengan makna mengikuti perputaran zaman. Namun, silat tradisi yang dikembangkannya tidak menghilangkan satu pun adat dan adab dalam bersilat.


Minangkabau sendiri, lanjut ayah tiga anak itu, memiliki banyak variasi dan corak langkah silek tradisi yang semuanya disebut aliran. Sampai hari ini, terdapat ratusan aliran silek tradisi yang berkembang dari pelosok Nagari di Sumbar.


Berkembangnya aliran silek tradisi ini, kata Rizal, adalah bentuk pengembangan silek dari tuo (guru silat). Misalnya, satu guru sila datang membawa aliran ke suatu daerah, dan nantinya di daerah itu, alirannya dilebur dalam tatanan adat dan istiadat daerah setempat.


"Hanya ada dua aliran yang kentara di Minangkabau. Pertama silek darek dan silek rantau. Silek darek berkembang di tiga luhak dan gerakannya akan cenderung mematikan, seperti silek harimau. Sedang silek rantau, berkembang di sepanjang pesisir pantai," katanya.


Perguruan Limbago Budi, terang lelaki 43 tahun itu, memadukan empat aliran silek tradisi. Pola langkah dasar dan galuik (bergelut)-nya, memakai langkah ampek (empat) Cupak, Kabupaten Solok. Sedangkan pola serangnya memakai silek tuo harimau.


Untuk kuncian, lebih memakai silek induak (induk) ayam dari Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan untuk serang bela, memakai langkah tigo (tiga) Kinari.


Melatih Sabar, Bukan Untuk Mencari Lawan


Seiring berjalan waktu, perguruan Silek Limbago Budi kian diminati generasi. Paling tidak, hari ini, perguruan ini memiliki sebanyak 227 orang lebih anggota. Jumlah sasarannya pun terus bertambah. Sedikitnya, sudah ada lima sasaran Limbago Budi yang tersebar di Kabupaten Solok, Kota Solok dan Kota Sawahlunto.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore