Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 September 2018 | 22.27 WIB

Jonatan Christie dan Keinginan Berbagi setelah Kebanjiran Bonus

Pebulu tangkis Jonatan Christie dan Antoni Ginting ketika meraih medali pada Asian Games 2018 lalu - Image

Pebulu tangkis Jonatan Christie dan Antoni Ginting ketika meraih medali pada Asian Games 2018 lalu


Bonus yang diterima Jonatan Christie setelah berjaya di Asian Games beragam, mulai uang, emas, hingga makan gratis. Dia pun tak ingin menikmati kebahagiaan itu sendiri.


Nuris Andi Prastiyo, Jakarta


---


MIMPI menjadi juara selalu meluap di benak Jonatan Christie setiap kali melangkah ke pertandingan bulu tangkis. Termasuk di Asian Games 2018. Tapi, melihat komposisi lawan-lawannya, menembus semifinal menjadi target paling realistis di Asian Games lalu.


Sang pelatih Hendry Saputra pun memandang seperti itu. Tapi, Jonatan ternyata melompat jauh lebih tinggi daripada hitung-hitungan tersebut. Momentum didapat ketika dia mengalahkan unggulan pertama dari Tiongkok Shi Yuqi pada babak awal. Setelah itu, Jojo -sapaan Jonatan Christie- terus melaju tanpa bisa dibendung.


Betapa bahagianya ketika medali emas itu akhirnya menjadi miliknya. Medali tersebut mengakhiri dahaga 12 tahun Indonesia di nomor tunggal putra. Kali terakhir medali emas dipersembahkan Taufik Hidayat di Doha, Qatar, pada 2006. Saking bahagianya, Jojo sampai melakukan aksi lepas baju begitu memenangkan pertarungan dengan Chou Tien Chen.


Pebulu tangkis 20 tahun itu sadar kemenangannya bukan hanya milik sendiri. Bukan cuma milik keluarganya. Tapi, milik semua orang Indonesia. Termasuk mereka yang hadir di Istora ketika final. Juga warga Bidara Cina, Kampung Melayu, Jakarta Timur, tempat Jojo dilahirkan dan mengisi masa kecilnya. Kampung tempat orang tuanya, Andreas Adi Siswa dan Marlanti Djaja, tinggal.


Jika dengan mereka yang hadir di Istora Jojo berbagi kebahagiaan dengan melepas baju, di Bidara Cina dia larut dalam acara sederhana yang dibuat para tetangga.


Kepulangan Jojo ke Bidara Cina pada 1 September itu memang benar-benar tidak biasa.


Dia disambut ratusan warga sejak dari mulut gang rumahnya.


"Awalnya, saya mau nggak datang. Tapi, untuk menghargai para tetangga yang sudah bikin acara, saya putuskan datang," katanya. Jojo benar-benar menikmati kepulangannya kali ini. Sebab, dia melihat semua tetangganya begitu bahagia atas raihan yang direngkuhnya di Asian Games 2018.


Jojo tidak hanya berhenti berbagi kebahagiaan di Bidara Cina, kampung masa kecilnya. Dia juga ingin membagi kebahagiaannya dengan masyarakat Lombok yang menjadi korban gempa bumi. Pebulu tangkis kelahiran 15 September 1997 tersebut menyisihkan bonusnya untuk korban gempa.


"Rencananya, kami ingin membangun 50 selter, tempat tinggal sementara bagi masyarakat di sana," ungkapnya.


Tak hanya itu, Jojo juga berkeinginan membangun sekolah dan masjid di Lombok. "Fasilitas itu sangat dibutuhkan masyarakat Lombok," ujarnya.


Gempa yang mengguncang Lombok memang merobohkan banyak sekolah dan masjid. Jojo ingin ambil bagian untuk membangun kembali sekolah dan masjid. Sebab, dia tahu masyarakat Lombok mayoritas muslim. Selain itu, banyak anak usia sekolah di sana. "Saya pikir rencana itu sangat penting untuk direalisasikan," sebutnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore