Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Juli 2018 | 20.43 WIB

Kisah Para Guru Peserta Space Camp di Pusat Angkasa Luar AS

ANTUSIAS: Sepuluh guru peserta pelatihan astronot dan Anton Susanto, manager corporate communications Honeywell Indonesia (tengah), di Pusat Angkasa Luar dan Ruang Angkasa AS USSRC di Alabama. - Image

ANTUSIAS: Sepuluh guru peserta pelatihan astronot dan Anton Susanto, manager corporate communications Honeywell Indonesia (tengah), di Pusat Angkasa Luar dan Ruang Angkasa AS USSRC di Alabama.

Jasa Wernher von Braun dalam sejarah luar angkasa Amerika Serikat (AS) diabadikan di Huntsville, Alabama. Di kota itu pula sepuluh guru Indonesia napak tilas dan dilatih dunia keastronotan. Berikut liputan wartawan Jawa Pos SUSILO yang baru pulang mendampingi para guru tersebut di Alabama.


---


UNTUK menjangkau Huntsville, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Bandara Internasional Chicago. Kira-kira sama dengan dari Juanda ke pusat kota Surabaya. Luas kotanya sedikit lebih besar daripada Surabaya, yakni 556 kilometer persegi. Terik mentarinya pun lebih menyengat. Bahkan mencapai 40 derajat Celsius jika tepat di ubun-ubun.


Seluruh koleksi mahakarya insinyur roket yang populer pada abad ke-20 asal Jerman tersebut tersimpan rapi di United State Space and Rocket Center (USSRC) alias Pusat Angkasa Luar dan Ruang Angkasa AS. Jumlahnya lebih dari 1.500 item. Nilainya mencapai puluhan juta dolar AS. Kompleks USSRC berdiri di atas lahan militer AS dan National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang telah dihibahkan.


Itu berkat Von Braun Kala itu, sebagai direktur pertama Marshall Space Flight Center alias Pusat Penelitian Peroketan dan Pesawat Ruang Angkasa NASA, Von Braun menginisiatori pembangunan museum. Tujuannya, pusat dokumentasi sejarah eksplorasi ruang angkasa AS.


Di sana tersimpan semua kiprah Von Braun. Mulai misi peluncuran roket pertama yang menembus luar angkasa atau yang dikenal dengan roket V-2. Sampai misi fenomenal Saturn V yang membawa manusia pergi ke bulan, yakni Apollo pada 1969. Termasuk coretan Von Braun di secarik kertas lusuh yang berisi tentang mimpinya ke luar angkasa pada usia 12 tahun.


Sejak dibuka pada 1970 untuk objek wisata umum warga AS, USSRC mulai merambah ke dunia pendidikan pada 2004 melalui program Space Camp. Mereka merangkul guru untuk menjangkau jutaan murid di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hingga kini, sudah 2.776 guru dari 54 negara bagian AS dan 62 negara di belahan dunia yang telah mengikuti program tersebut.


Jangan salah persepsi. Mereka dilatih tidak untuk menjadi astronot. Namun, mereka diajari cara menerapkan STEM. Yakni, pendekatan pembelajaran interdisiplin lewat science, technology, engineering and mathematics.


Tahun ini Indonesia diwakili 10 guru dari seluruh Nusantara yang lolos seleksi untuk mengikuti kamp selama sepekan, 25-27 Juni lalu. Mereka adalah Mohammad Ridwan dari Sekolah Darma Yudha Riau, Warsono (SMP Purnama 1 Cilacap), Abdul Rahman (MAN Insan Cendekia Gorontalo), Mega Lamita (SD Tunas Daud Bali), dan Darum Budiarto (SMKN 1 Bula, Maluku).


Selanjutnya, Jessica Hostiadi (SDS Rhema En Cara Bogor), Rosdiana Akmal Nasution (SD Bogor Raya), Faqih Al Adyan (Bunda Mulia School/SPK Jakarta), Nur Fitriana (SDN Deresan Sleman, Jogjakarta), dan Widia Ayu Juhara (SMP Taruna Bakti Bandung).


Mayoritas adalah guru dari sekolah bertaraf internasional, kecuali Nur Fitriana. Guru kelas V itu menyatakan sangat bersyukur bisa lolos seleksi dalam program Space Camp yang diselenggarakan Honneywell Indonesia. Kiprahnya dalam menekuni STEM berbuah manis.


Hal itu, rupanya, menjadi salah satu modal Nur untuk bisa bergabung dalam Space Camp. Kiprah ibu tiga anak tersebut terlihat sejak pindah dari sekolah internasional ke SDN Deresan pada 2015.


Tentu bukan perkara mudah untuk beradaptasi dari sekolah swasta internasional yang sarat fasilitas ke sekolah pemerintah yang kondisinya memprihatinkan.


"Sudah tua. Sekolahnya mau ambruk. Mayoritas murid kami dari keluarga kurang mampu. LCD cuma satu untuk gantian 12 kelas. Apalagi kalau ada rapat," ungkap Nur.


"Saya yang terbiasa mengajar dengan fasilitas ideal harus berpikir keras untuk menyiasatinya," lanjut perempuan berjilbab itu saat diwawancarai di mes University of Alabama, tempat menginap para guru selama mengikuti pelatihan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore