
ANTIK: Keberadaan pasar antik di Jalan Surabaya, Menteng Jakarta Pusat semakin tergerus dengan keberadaan online.
Bagi yang suka berburu barang antik, pasti tidak asing dengan Pasar Antik di Jalan Surabaya. Pasar barang antik yang terletak di Menteng Jakarta Pusat ini meyajikan beragam barang antik. Namun dalam perkembangannya, kini nama besar Jalan Surabaya semakin tergerus dengan zaman. Seperti apa kini kondisinya?
Yesika Dinta, Jakarta
JawaPos.com - Melihat deretan kios pasar antik Jalan Surabaya, membuat mata seolah melihat dimensi lain. Pasalnya beragam aneka rupa barang antik dijajakan, mulai dari barang pecah belah, keramik, lampu hias hingga perkakas lainnya. Di kios-kios berderet tersebut, para pengunjung hingga wisatawan silih berganti mencari barang yang diimpikan.
Namun di tengah era teknologi yang semakin canggih, pasar yang berada di sekitaran perumahan elite itu pelan tapi pasti mengalami kemunduran. Kendati demikian, barang-barang antik selalu punya daya tarik bagi kolektor dan penggemarnya.
Untuk diketahui, sebanyak 202 toko masih eksis menjajakan barang antik. Letaknya yang cukup strategis menjadi primadona pengunjung yang singgah ke Jakarta. Tak heran, ratusan lapak berumur puluhan tahun itu sudah terkenal sebagai ikon pasar antik sejak era mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Bukan hanya bagi masyarakat ibu kota, melainkan dari berbagai daerah yang gemar memburu barang antik.
Tak ada harga pasti untuk barang antik nan unik di Jalan Surabaya. Asal sama-sama sepakat, barang yang diinginkan pun langsung berpindah tangan. Berbicara barang antik tidaklah ada harga pasti.
Salah satu pedagang ukiran patung yang sudah lama berualan di Jalan Surabaya mengatakan, banderol harga biasanya dimulai dari pecahan ratusan ribu sampai batas yang tidak tertentu. Selain barang pecah belah, hiasan lampu, pasar antik di Jalan Surabaya juga menyuguhkan patung, radio tua hingga koleksi vinyl (piringan hitam).
"Kalau harga tergantung kesepakatan penjual dan pembeli saja. Mulai ratusan ribu hingga puluhan juta," ujar kakek yang tak ingin disebutkan namanya kepada JawaPos.com, Minggu (1/7).
Ane, 49, warga kawasan pecinan di Jakarta Utara pun tak ragu mencari barang antik di lokasi yang berdiri sejak 1975 silam itu. Dia mencari patung Buddha kecil berwarna putih untuk sembahyang. “Rp 2 juta saja,” katanya sambil menawar di satu toko yang menjual patung dengan harga Rp 2,5 juta.
Pedagang lainnya yang juga anak dari Ketua Pasar Antik dan Koper, Yusuf mengaku telah banyak perubahan yang terjadi terhadap lapak-lapak itu. Dari segi bangunan, awalnya hanya terbuat dari triplek, namun kini sudah dibentuk menjadi bangunan permanen.
Selain itu, mendengar cerita orang tuanya, dia menceritakan betapa banyak pihak yang mendukung dan mempertahankan pasar tersebut. Meski berhasil dipertahankan, lapak barang antik dan koper terlihat semakin berkurang.
“Pihak kelurahan, kecamatan semua mendukung. Selama ini masih di otak-atik karena ini tanah penghijauan, tanah perairan, tapi masih dapat izin. Dulu pernah dua jalur, kanan kiri, sekarang cuma satu arah,” tutur pria 33 tahun tersebut.
Kini, ketika teknologi semakin berkembang pesat, banyak pedagang yang beralih menjual barang-barangnya melalui internet. Dengan begitu, kolektor bisa memperoleh barang yang diinginkan dari online shop.
“(Pembeli) masih mending tahun 2000 ke bawah, tahun 1990-an. Awal online shop, (Pasar Antik) mulai sepi. Jatuh semua dari pedangan kaki lima, glodok banyak yang bangkrut. Teknologi nggak bisa dibohongin,” urainya.
Penasaran, silahkan berkunjung. Lokasinya cukup mudah, karena terletak di dekat Stasiun Cikini.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
