
Qomaruzzaman saat menyirami tanaman melon miliknya. Meski terlahir tanpa tangan, dia tidak menyerah untuk terus berusaha mandiri
Kecuali mencangkul dan menyemprotkan pestisida, Qomaruzzaman mengerjakan sendiri proses menanam, merawat, dan memanen melon. Menolak disekolahkan di SMA luar biasa karena merasa dilahirkan sempurna.
MUHAMMAD SU'AEB, Lamongan
---
SATU per satu buah melon itu ditimbangnya dengan saksama. Dari pohon ke pohon. Di tanah seluas ribuan meter persegi tersebut.
Matahari mulai terik di Desa Sendangharjo, Lamongan, Jawa Timur, pada Selasa lalu itu (10/4). Tapi, tak sedikit pun konsentrasi pria berkaus merah tersebut terganggu.
''Merawat melon ini seperti merawat bayi. Harus teliti melihat perkembangannya,'' kata Qomaruzzaman, pria berkaus merah tersebut, kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Lima tahun sudah Qomar, sapaan akrabnya, bergelut dengan melon jenis golden. Lima tahun yang lebih dari cukup untuk menggambarkan kegigihan dan ketegaran pria 30 tahun itu.
Meski terlahir sebagai difabel, tanpa kedua tangan, Qomar tak pernah menganggap itu sebagai kekurangan.
Karena itu pula, dia menolak, bahkan marah, saat sang ibu menyekolahkannya ke SMA luar biasa.
Qomar memilih tak melanjutkan pendidikan. Sebab, dia merasa dilahirkan sempurna. Hanya tak dianugerahi tangan oleh Tuhan. "Saya selalu yakin, di balik kekurangan pasti ada kelebihan," katanya.
Pria yang masih betah melajang itu membuktikan benar kata-katanya tersebut. Dia mandiri sejak kecil. Menyelesaikan sekolah di tingkat SD dan SMP dengan mengandalkan kaki kanan untuk menulis.
Berbagai pekerjaan juga dia geluti setelah memutuskan untuk tak melanjutkan ke SMA. Sebelum menjadi petani melon dengan hasil puluhan juta sekali panen.
Dia sempat bekerja sebagai buruh penggemukan sapi milik tetangga. Tugasnya mencari rumput dengan sabit.
Tugas itu bisa dia jalankan dengan baik. Namun, dia kewalahan ketika hewan yang dia rawat tumbuh besar. Sebab, sering mengamuk dan dia menjadi korban. "Saya lalu berhenti," ujar anak kelima pasangan Madji dan Khamimah itu.
Qomar lantas beralih jadi buruh pengupas jagung. Sebab, di daerahnya yang masuk wilayah Kecamatan Brondong itu banyak petani jagung.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
