Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 April 2018 | 20.35 WIB

Kegigihan Qomaruzzaman, Petani Melon yang Terlahir tanpa Tangan

Qomaruzzaman saat menyirami tanaman melon miliknya. Meski terlahir tanpa tangan, dia tidak menyerah untuk terus berusaha mandiri - Image

Qomaruzzaman saat menyirami tanaman melon miliknya. Meski terlahir tanpa tangan, dia tidak menyerah untuk terus berusaha mandiri

Kecuali mencangkul dan menyemprotkan pestisida, Qomaruzzaman mengerjakan sendiri proses menanam, merawat, dan memanen melon. Menolak disekolahkan di SMA luar biasa karena merasa dilahirkan sempurna.



MUHAMMAD SU'AEB, Lamongan


---


SATU per satu buah melon itu ditimbangnya dengan saksama. Dari pohon ke pohon. Di tanah seluas ribuan meter persegi tersebut.



Matahari mulai terik di Desa Sendangharjo, Lamongan, Jawa Timur, pada Selasa lalu itu (10/4). Tapi, tak sedikit pun konsentrasi pria berkaus merah tersebut terganggu.



''Merawat melon ini seperti merawat bayi. Harus teliti melihat perkembangannya,'' kata Qomaruzzaman, pria berkaus merah tersebut, kepada Jawa Pos Radar Lamongan.



Lima tahun sudah Qomar, sapaan akrabnya, bergelut dengan melon jenis golden. Lima tahun yang lebih dari cukup untuk menggambarkan kegigihan dan ketegaran pria 30 tahun itu.



Meski terlahir sebagai difabel, tanpa kedua tangan, Qomar tak pernah menganggap itu sebagai kekurangan.



Karena itu pula, dia menolak, bahkan marah, saat sang ibu menyekolahkannya ke SMA luar biasa.



Qomar memilih tak melanjutkan pendidikan. Sebab, dia merasa dilahirkan sempurna. Hanya tak dianugerahi tangan oleh Tuhan. "Saya selalu yakin, di balik kekurangan pasti ada kelebihan," katanya.



Pria yang masih betah melajang itu membuktikan benar kata-katanya tersebut. Dia mandiri sejak kecil. Menyelesaikan sekolah di tingkat SD dan SMP dengan mengandalkan kaki kanan untuk menulis.



Berbagai pekerjaan juga dia geluti setelah memutuskan untuk tak melanjutkan ke SMA. Sebelum menjadi petani melon dengan hasil puluhan juta sekali panen.



Dia sempat bekerja sebagai buruh penggemukan sapi milik tetangga. Tugasnya mencari rumput dengan sabit.



Tugas itu bisa dia jalankan dengan baik. Namun, dia kewalahan ketika hewan yang dia rawat tumbuh besar. Sebab, sering mengamuk dan dia menjadi korban. "Saya lalu berhenti," ujar anak kelima pasangan Madji dan Khamimah itu.



Qomar lantas beralih jadi buruh pengupas jagung. Sebab, di daerahnya yang masuk wilayah Kecamatan Brondong itu banyak petani jagung.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore