
Afrizal Akmal inisiator gerakan Hutan Wakaf usai menanam pohon di kawasan Kabupaten Aceh Besar, Kamis (5/4).
Pria yang tak menyelesaikan studi Prodi Konservasi Sumber Daya Hutan di Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Yayasan Teungku Chik Pante Kulu, Aceh ini melanjutkan, di awal memulai gerakan sempat mengalami kesulitan. Donasi yang masuk pun minim karena banyak orang masih bertanya-tanya pada gerakan ini.
Di sisi lain, kampanye tentang Hutan Wakaf pun belum begitu massif dilakukan ketika itu. Bukti nyata atas gerakan ini belum terlihat. “Sekarang terus berkembang dan apresiasi makin banyak berdonasi. Artinya setiap orang berbagai kalangan baik aktivis lingkuangan, birokrat, seniman, mahasiswa dan lain sebagainya. Yang merasa ikut peduli melakukan donasi,” kata anak pertama dari empat bersaudara ini.
Ia melanjutkan, selama ini masih banyak orang beranggapan bahwa wakaf hanya ada khusus untuk masjid, pesantrean dan lainnya. Padahal banyak hal atau aspek yang bisa diberikan dan diwakafkan untuk kepentingan orang banyak, seperti kepeluan konservasi.
“Ketika ini kita kelola dan kita bangun menjadi hutan, insya Allah ada manfaatnya,” tambahnya.
Alasan Afrizal dan rekan-rekannya memilih kawasan Aceh Besar untuk membeli tanah Hutan Wakaf karena masih banyak lahan yang kritis dan potensial di sana. Selama ini potensi yang ada belum diperhatikan dan dikolelo dengan baik oleh warga maupun pemerintah setempat. Padahal jika digarap dengan baik akan memberikan dampak positif untuk kelestarian alam Aceh.
“Kita pilih ini, terutama di Jantho karena ia terhubung dengan Sungai Krueng Aceh dan ini hulunya. Jadi sumber air masyarakat Kota Banda Aceh dari Jantho. Ketika kita melakukan konservasi di sini maka dampak positifnya juga untuk kepentingan masyarkat Banda Aceh,” kata Afrizal yang kini berdomisili di Banda Aceh.
Gerakan ini terus melakukan kampanye di media sosial untuk menggalang simpati sekaligus dana. Mereka yang berdonasi tak hanya dalam negeri saja, khususnya Aceh. Namun ada juga dari mancanegara seperti Thailand, Jerman dan sejumlah negara lainnya. Besaran donasinya yang terima Afrizal sangat beragam mulai Rp 100 ribu; Rp 200 ribu; Rp 1 juta dan Rp 2 juta.
Ia pun berharap, semangat ini terus berkobar dan berlanjut untuk memperluas lahan Hutan Wakaf nantinya. Sehingga generasi selanjutnya masih merasakan manfaat akan hutan.
Sejatinya, semua orang harus memiliki inisiatif untuk menjaga hutan bukan hanya pemerintah. Ini agar terciptanya sumber daya hutan yang bisa bermanfaat untuk generasi masa depan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
