Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Desember 2017 | 00.32 WIB

Ke Bungin, Pulau Terpadat di Dunia, Tempat Kambing Makan Apa Saja (2)

PADAT PENDUDUT: Anak-anak Bungin bermain sepak bola di salah satu sudut kampung. - Image

PADAT PENDUDUT: Anak-anak Bungin bermain sepak bola di salah satu sudut kampung.

Sampah adalah dilema bagi Bungin: berharga, tapi juga menimbulkan persoalan lingkungan. Resto apung, selain ”atraksi” kambing-kambing, turut mendongkrak wisatawan ke sana.


SEKARING RATRI A., Sumbawa


DI Bungin, hubungan kambing dengan kertas dan plastik, barangkali, seperti si bocah dalam cerpen Mahfud Ikhwan, Belajar Mencintai Kambing. Relasi yang awalnya terbentuk karena tak ada pilihan lain.


Di dalam cerpen yang termaktub dalam buku bertajuk sama itu, si bocah sebenarnya ingin sepeda. Tapi oleh ayahnya malah dibelikan kambing. Di Bungin, si kambing maunya rumput. Namun, yang ada...sampah!


Bungin yang sempit dan padat itu memang ”kaya” sampah. Saat Jawa Pos ke pulau di Nusa Tenggara Barat tersebut pertengahan November lalu, limbah rumah tangga dengan gampang dijumpai di tiap sudut. Di kolong-kolong rumah panggung. Di jalanan kampung yang secara administratif masuk Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, itu. Juga di tepi laut.


”Orang sini memang banyak yang masih enggan buang sampah ke TPS (tempat pembuangan sampah),” kata Tison Sahabuddin, tokoh pemuda Bungin. Bukan karena malas. Tapi karena di Bungin sampah berharga. Jadi komponen penting untuk meninggikan lokasi rumah.


Rumah warga Bungin yang umumnya etnis Bajo biasanya setinggi 1 sampai 5 meter. Terdiri atas tiga lapisan fondasi: pasir ditumpuk batu karang, lalu ditutup dengan sampah, baru lapisan teratas adalah pasir.


Tentu sampah yang dibutuhkan tidak sedikit. Persoalannya, memiliki sampah sejumlah itu adalah ”kemewahan” yang tidak dimiliki warga miskin di pulau seluas 9,5 hektare yang disesaki sekitar 3.500 jiwa tersebut. ”Warga kurang mampu akhirnya sering minta sampah ke warga yang berpunya,” kata Tison.


Kalaupun sampah didapat, masih ada masalah lain: pasir untuk menutupi sampah-sampah itu. Yang terjadi kemudian, karena tak dilapisi pasir, ketika pasang surut air, sampah pun meluber ke mana-mana. Dan sebagian di antaranya berakhir di perut kambing-kambing di sana.


Ketua Badan Permusyawaratan Desa Bungin Sukiman mengungkapkan, volume sampah kian bertambah belakangan gara-gara banyaknya warung kopi. Sampai ratusan. Umumnya bertempat di kolong rumah-rumah panggung. ”Jumlahnya ratusan dan tiap sore sampai malam selalu ramai,” katanya.


Itu belum termasuk empat toko kelontong besar. Toko-toko tersebut menyuplai kebutuhan kios-kios di sekitar pulau yang warganya mayoritas bekerja sebagai nelayan atau pembuat perahu itu.


Upaya pembenahan pengelolaan sampah bukannya tak dilakukan. Pada 2009 Tison dan karang taruna setempat menginisiatori pembangunan pipa saluran. Selain itu, dia membeli mobil untuk mengangkut sampah secara swadaya. Mobil tersebut mengangkut sampah seminggu tiga kali. Daya tampung TPS yang telah ada pun dibesarkan. ”Dampaknya memang belum signifikan. Tapi cukup terasa,” ucapnya.


Sukiman menambahkan, pada 2014 kepala desa juga mengangkat seorang petugas pengangkut sampah. Dia digaji tetap oleh pemerintah desa. Kalau dibiarkan, sampah memang bisa kian menambah persoalan lingkungan pulau terpadat di dunia itu. Padahal, Bungin sudah megap-megap karena luas aslinya yang cuma 2 hektare ”dipaksa” menjadi 9 hektare akibat ledakan populasi.


Ikan tangkapan mulai menyusut karena karang-karang yang masih hidup disulap jadi fondasi rumah. Belum lagi kebiasaan menggunakan bom ikan.


Untung, seperti juga halnya dalam persoalan sampah, mulai ada setitik cahaya di ujung terowongan gelap. Sejak 2014, setelah belajar di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok Barat, sejumlah pemuda setempat mulai mengembangkan keramba (keranjang atau kotak dari bilah bambu untuk membudidayakan ikan di sungai, danau, atau bendungan).

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore