Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 November 2017 | 23.26 WIB

Secangkir Kopi, Komunitas Berbagi Cerita Anak Muda

BERBAGI: Anggota komunitas Secangkir Kopi. - Image

BERBAGI: Anggota komunitas Secangkir Kopi.

Bagi sebagian orang, berbagi cerita kepada orang lain, barangkali, bukan kebutuhan. Banyak yang lebih sreg diam seribu bahasa. Sebisa mungkin, masalah tertutup rapat. Apalagi jika mengandung aib. Komunitas Secangkir Kopi berusaha mengubah pemikiran itu.


DRIAN BINTANG SURYANTO, Surabaya


NIMAS Mega Purnamasari bilang, semua orang butuh pundak untuk bersandar. Kalau tidak, endapan masalah akan jadi depresi. Bisa meledak. Bak mercon tersulut apik. Bak pentol korek kena gesek.


Kalau sudah begitu, apa pun bisa dilakukan untuk menghilangkan bunuh diri. Mulai shopping spree alias melampiaskan dendam lewat belanja hingga bunuh diri. Nimas ingin menghindarinya. Terutama di kalangan anak-anak muda di Surabaya. ’’Ternyata, angka bunuh diri di Indonesia sudah mencapai 800 ribu orang,’’ ucapnya. Itulah angka yang tercatat sejak 2015 sampai saat ini.


Pada 20 Oktober Nimas menggagas komunitas Secangkir Kopi bersama kawannya, Vito Satwika. Karena anyar, komunitas itu pun masih berjuang mencari peserta. Sistemnya jemput bola. Nimas dan Vito rajin menyambangi kampus-kampus di Surabaya. Hanya segelintir mahasiswa yang sudah bergabung.


Nama Secangkir Kopi dipilih berdasar kebiasaan remaja saat ini. ’’Ngobrol masalah, tapi sambil santai,’’ jelas Vito, pria lulusan SMA Negeri 14 Surabaya, tersebut.


Selain teknik jemput bola, Nimas dan Vito memiliki satu cara tersendiri untuk mempromosikan komunitasnya. Yakni, melalui jejaring media sosial. Mereka membuat satu akun khusus untuk mewadahi mereka yang ingin bergabung di Instagram. Akunnya adalah @secangkirkopi.sby.


Menurut mereka, penggunaan media sosial bisa lebih praktis. Tidak hanya digunakan sebagai ajang promosi. Akun tersebut juga bisa digunakan sebagai pengingat. Tentang jadwal pertemuan hingga tema apa yang akan mereka usung pada pertemuan selanjutnya. ’’Apalagi anak muda zaman sekarang. Mana ada yang nggak pakai Instagram,’’ ucap Nimas.


Pertemuan perdana Secangkir Kopi berlangsung pada Sabtu (28/10) di salah satu restoran di kawasan Jemursari. Ketika itu restoran tersebut terasa sepi. Jam masih menunjukkan pukul 15.00. Dalam suasana itu, Nimas dan Vito mojok untuk ngobrol. Mereka menuju tempat yang tiga mejanya sudah ada tulisan reserved. Sudah dipesan.


Namun, yang datang tidak banyak. Dari tiga meja tersebut, hanya dua yang terpakai. Satu untuk peserta, satu lagi untuk barang-barang. ’’Padahal, yang konfirmasi banyak banget. Apa karena dadakan, ya?’’ ucap Nimas.


Akhirnya, diskusi pun dilangsungkan hanya dengan lima peserta. Sedikit, memang. Namun, peserta datang dari berbagai latar belakang. Dua di antaranya sudah bekerja di sebuah perusahaan. Sementara itu, tiga lainnya masih mahasiswa. Akhirnya, satu per satu diberi kesempatan untuk mengenalkan diri.


’’Jangan lupa sebutkan lima fun fact tentang kalian yang tidak diketahui orang lain ya,’’ kata Vito mengawali pembicaraan.


Karena setiap peserta tidak saling kenal, yang terjadi adalah keheningan. Tidak ada satu orang pun yang mau mengawali perkenalan. ’’Ya udah, deh, aku dulu yang memperkenalkan diri,’’ ungkap Nimas memecah keheningan.


Perempuan alumnus jurusan sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu bercerita tentang ketakutannya yang aneh. Perempuan 23 tahun tersebut paling takut dengan tempe. Dia selalu jingkrak-jingkrak saat melihat makanan itu. ’’Mungkin karena itu nggerumbul jadi satu, terus ada jamurnya. Makanya nggilani,’’ ucapnya sembari bergidik membayangkan tempe. Sungguh, fobia yang aneh.


Fakta baru tersebut membuat semua peserta Secangkir Kopi terpana. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani berkata-kata. Mereka hanya tertawa terbahak-bahak. Celetukan Nimas itu pun mencairkan suasana.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore