Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Agustus 2017 | 18.25 WIB

Lari Menanjak 21 Kilometer tanpa Turunan Sama Sekali

MENANJAK: Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo (kiri) melahap menu latihan menanjak 21 km di Iten, Kenya. - Image

MENANJAK: Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo (kiri) melahap menu latihan menanjak 21 km di Iten, Kenya.

Latihan paling menyiksa di pekan kedua mengikuti training di Iten, Kenya adalah berlari menyusuri Fluorspar Hill. Treknya menanjak dari start hingga finis. Wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo ikut merasakan gemblengan tersebut.
--


TAK seperti sebelumnya, latihan pada Senin pekan lalu (31/7) dimulai agak siang. Pukul 7.30 waktu setempat. Sengaja agak siang karena para pelatih di kamp High Altitude Training Centre (HATC) menyadari kami semua lelah setelah bersafari ke Lake Nakuru National Park.


Willy Songok, manajer HATC, mengajak kami berlari menyusuri rute baru yang lebih banyak tanjakannya. Dari kamp, kami melintasi pusat Kota Iten, lalu masuk ke perkampungan melewati St Patrick’s High School, sekolah yang melahirkan banyak pelari juara dunia.


”Berlari santai saja. Jarak yang kita tempuh sekitar 15 km. Yang masih kecapekan cukup 8 km,” kata Songok.


Hari itu saya memilih opsi kedua. Sebab, masih lelah setelah naik mobil safari berjam-jam sehari sebelumnya.


Memasuki hari pertama di pekan kedua, latihan berlangsung santai. Setelah easy run 5 km saat sore, kami kembali berdiskusi dengan konsultan dan pelatih tamu kami, Hugo van den Broek.


Intinya, Hugo berpesan bahwa variasi latihan itu sangat penting. Latihan yang monoton akan membuat tubuh tidak lagi terstimulasi. ”Makanya, ada yang seminggu lari saja ratusan kilometer tetap catatan waktunya tidak pernah bertambah,” katanya.


Selasa (1/8) adalah hari ”bersejarah” bagi penghuni kamp. Biasanya kami berlari menyusuri tanjakan dan turunan. Kali ini kami diajak berlari menyusuri Fluorspar Hill.


”Treknya sepanjang 21 km. Semuanya tanjakan. Beberapa tanjakan antara 5–7 persen. Tidak ada yang flat, apalagi turunan,” kata Godfrey Kiprotich, salah seorang pelatih kami yang juga mantan pelari jarak jauh.


Kami berangkat naik mobil pukul 05.30. Setiap peserta diberi bekal satu pisang dan sebiji telur rebus. Dibutuhkan waktu 1,5 jam untuk menuju lokasi. Jalannya sangat buruk.


Menurut Adharanand Finn, peserta yang sudah beberapa kali ikut kamp, rekor catatan waktu yang dicetak peserta kamp di Fluorspar Hill adalah 2 jam 3 menit. ”Hari ini kita harus memecahkan rekor itu,” kata penulis buku Running with The Kenyan tersebut.


Kami start dalam posisi jalan menanjak. Dua kilometer pertama rombongan masih membentuk peloton. Memasuki kilometer ketiga sudah mulai terpecah. Beberapa tercecer di belakang. Termasuk saya tentunya. Beberapa kali saya terpaksa berjalan karena takut kram.


Hari itu tim kami benar-benar memecahkan rekor. Peserta dari Jerman, Anke Esser, mampu menyelesaikan tanjakan 21 km dalam waktu 1 jam 48 menit.


Anke adalah volunter Gathimba Edward Foundation, sebuah lembaga yang membantu kehidupan anak-anak di Kenya. Anke akan tinggal tiga bulan di Iten. ”Saya menikmati sekali Fluorspar Hill. Udaranya segar, banyak pohon dan banyak anak-anak menyapa. Ada juga anak-anak yang ikut berlari,” kata Anke. ”Saya berusaha melupakan tanjakannya,” tambahnya.


Kehadiran anak-anak kecil di perkampungan yang kami lewati memang menghibur. Mereka menyapa dan menyemangati kami. Saat saya berjalan kaki, misalnya, dua anak berusia sekitar tujuh tahun berlari di depan saya. ”Come on. Keep run,” kata salah seorang di antara mereka, lantas tertawa.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore