Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Juli 2017 | 14.20 WIB

Bersafari ke Masai Mara, Taman Nasional Terbesar di Kenya (2-Habis)

LIAR: Segerombolan gajah di Taman Nasional Masai Mara, Kenya. - Image

LIAR: Segerombolan gajah di Taman Nasional Masai Mara, Kenya.

Di kamp tempat menginap selama safari, tidak ada penerangan dan air yang memadai. Namun, semua itu terbayar setelah bersafari pada hari kedua. Berikut lanjutan pengalaman wartawan Jawa Pos Tomy C. Gutomo dari Narok, Kenya.


SETELAH bersafari pada hari pertama, rombongan kami tiba kembali di Enchoro Wildlife Camp, tempat kami menginap. Langit sudah mulai gelap. Waktu menunjuk pukul 18.15.


Onesmus, pengemudi sekaligus pemandu wisata kami, menyerahkan kami kepada petugas kamp untuk mengatur tenda kami. Dari tujuh orang anggota rombongan, enam –termasuk Jawa Pos– menginap di kamp.


Seorang lagi menginap di hotel. Kamp ini maksimal hanya menerima 30 tamu dengan 15 rumah tenda. Tenda kanvas 2,5 x 3 meter didirikan di atas panggung beton setinggi 60 cm. Di atas tenda diberi atap dari jerami.


Di dalam tenda ada tempat tidur dan dipan untuk dua orang. Pilihannya, dua bed kecil atau satu bed besar. Tersedia shower air hangat, WC duduk, dan wastafel di dalam tenda tersebut. Ada satu lampu setara 10 watt di dalamnya. Sepintas bagus.


”Tengah malam lampu dipadamkan,” kata Salome, petugas hotel yang melayani kami. ”Oh ya, jangan lupa selalu menutup tenda dengan rapat. Kalau tidak, akan ada monyet menyelinap masuk,” sambungnya.


Setelah meletakkan barang di tenda, kami ke tempat makan malam. Kyoko Limo, petugas dari biro perjalanan, sudah menyambut kami di meja makan. Kamp tersebut memperbolehkan pihak biro perjalanan membawa sendiri juru masak.


Kyoko adalah juru masak yang ditugasi ikut di grup kami. ”Silakan minum teh dan kopi dulu. Sebentar lagi makanan saya hidangkan,” kata Kyoko.


Tak sampai 15 menit, Kyoko datang membawa makanan. Malam itu dia memasak kari ikan, kentang goreng, dan tumis sayur. Tidak ada nasi. Enak sekali untuk perut kami yang keroncongan setelah perjalanan jauh dan bersafari.


Sebelum kembali ke tenda, Onesmus mengingatkan kami agar sudah sarapan pukul 05.45. Sebab, pukul 06.00 safari dimulai. ”Pagi waktu terbaik bersafari,” kata Onesmus.


Jawa Pos malam itu sekamar dengan Keith Kennete, turis asal Amerika Serikat, di tenda sisi timur. Hanya kami yang tidak berpasangan. Dua pasang lainnya, Susan Arours dan Dim Kemperman (Belanda) serta Josep Mara Cornet Masana dan Judith Trepat Parra (Spanyol), berada di tenda sisi barat.


Masalah terjadi saat kami ke kamar mandi. Air yang mengalir sangat kecil. Bahkan untuk menyiram WC tak memungkinkan. Jadilah kami tidur dengan aroma pesing. ”Ini bau kencing kita sendiri. Tidak masalah,” kata Keith, lantas tertawa.



Dalam hati saya membayangkan, bagaimana bila besok pagi harus buang air besar. Sebelum tidur, saya berdoa agar tidak kebelet keesokan harinya.


Malam itu begitu dingin. Hujan turun lumayan deras. Pukul 22.00 lampu sudah dipadamkan. Suasana di kamp gelap gulita. Belum lama tertidur, tiba-tiba ada suara teriakan dari tenda sebelah.


Gaduh sekali. Penasaran, kami pun keluar tenda berbekal lampu senter dari HP. ”Ada monyet masuk tenda. Sudah pergi,” kata seorang Masai yang bekerja sebagai penjaga kamp kepada kami. ”Silakan kembali tidur,” lanjutnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore