Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2017 | 10.56 WIB

Kisah-Kisah di Balik Beroperasinya Command Center (CC) 112 Surabaya

MENUNGGU KONTAK: Dari kiri, Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan, Dimas Andrianto, dan Bambang Bastiawan sedang bekerja di ruang Command Center 112 gedung Siola. - Image

MENUNGGU KONTAK: Dari kiri, Muhammad Ardiansyah Putra Panjaitan, Dimas Andrianto, dan Bambang Bastiawan sedang bekerja di ruang Command Center 112 gedung Siola.



Masih ada lagi. CC 112 juga sering mendapat laporan tentang penyelamatan binatang. Padahal, laporan itu sebenarnya tidak menjadi tugas CC 112. Namun, segala sesuatu pasti ada yang mengawali.



Pada Agustus 2016 ada laporan penyelamatan binatang di dekat Rumah Hantu Darmo. Saat itu CC 112 masih berumur sebulan. Petugas juga belum terlalu pengalaman. Rata-rata masih orientasi.



Laporan itu cukup membingungkan petugas. Setidaknya menimbulkan kegamangan. Direspons ataukah tidak. Seorang warga meminta pertolongan mengevakuasi sapi yang terperosok saluran.



Warga melaporkan, sapi tersebut berkeliaran di jalanan. Pengendara mobil yang melintas membunyikan klakson agar sapi menepi. Tapi, sapi itu kaget. Lompat. Lalu, mencebur ke saluran.



Petugas yang bingung meminta arahan ke kepala linmas yang saat itu dijabat Sumarno. Marno yang kini menjadi staf khusus wali kota akhirnya menjawab pada sore harinya. Dia memerintah petugas untuk terjun ke saluran. Katanya, semua makhluk hidup harus ditolong. Termasuk binatang. Itu adalah momen kali pertama petugas CC 112 terlibat dalam penyelamatan binatang.



Pukul 16.00 petugas sudah ada di tempat. Menurut Ardi, itu adalah evakuasi paling memakan tenaga. Bahkan, bisa dibilang melibatkan paling banyak aparat. Layaknya pembongkaran pedagang kaki lima (PKL). Ada PMK, linmas, dishub, dan satpol PP. Mereka sulit melakukan evakuasi karena sapi itu sudah menjadi tontonan warga.



Khusus kisah tersebut, Ardi memanggil petugas PMK Bambang Prawito untuk bercerita. Saat itu Bambang masih bertugas di lapangan. Kebetulan, dia juga yang menangani sapi itu.



Bambang berkisah bahwa saat ke tempat kejadian perkara (TKP), dia agak terkejut. Maklum, sapinya gemuk. Kulit putih sapi tersebut berubah abu-abu kehitaman karena tertutupi lumpur. Sapi itu memberontak sejadi-jadinya saat hendak diselamatkan pemiliknya. Untung, pemilik berhasil mengikat tali yang terhubung ke hidung sapi. Jadi, calon hewan kurban tersebut tidak bisa kabur jauh.



Bambang menuruni tangga untuk menjangkau dasar saluran. Tiga meter dalamnya. Tapi, sapi masih beringas. Masih setengah jalan, sapi sudah menyeruduk tangga.



Niat turun ke saluran diurungkan. Bambang menyeletuk, sapi tersebut harus ditangani pawangnya. Seorang pria di sampingnya langsung menyahut. Kebetulan, dia terbiasa menangani sapi. Pria asal Tubanan, Kecamatan Tandes, itu datang bersama putranya.



Dua jam evakuasi tidak membuahkan hasil. Warga yang menonton semakin banyak. Bak aksi matador menaklukkan banteng. Dua jam berkutat dengan lumpur, sapi itu akhirnya kelelahan. Melihat kesempatan tersebut, sang pawang turun. Dia mengikatkan tali pipih yang tersambung dengan crane. Tali itu mengikat bagian tubuh sapi. Setelah dievakuasi ke darat, sapi masih memberontak. Bambang khawatir warga yang menonton menjadi sasaran amuk sapi. Begitu berhasil mengevakuasi, pria yang terbiasa menangani sapi tersebut cukup menepuk badan sapi. ”Le, muliho, Le (Nak, pulanglah, Nak, Red). Setelah ngomong gitu, sapinya tenang!” jelasnya geleng-geleng.



Kemudian, sapi tersebut berjalan sendiri menuju rumah. Memang, sehari-hari sapi itu dilepas sehingga mengetahui jalan pulang. Namun, Bambang dan petugas lain tetap membuntuti sapi itu. Siapa tahu ada yang mengklakson. Lompat, lalu masuk saluran lagi. Jangan sampai kerja dua kali.



Setelah penyelamatan sapi, petugas tidak lagi kebingungan saat ada laporan penyelamatan binatang. Selama setahun ini, ada tiga penyelamatan binatang yang dilakukan. Yakni, kucing, anjing, dan ular yang masuk kampung. Ular itu terlepas dari kandangnya. Karena pemiliknya tidak diketahui, ular tersebut diserahkan ke Kebun Binatang Surabaya (KBS).



Selain Surabaya, ada 11 daerah lain yang mengoperasikan 112. Yakni, DKI Jakarta, Batam, Tangerang, Depok, Bogor, Bandung, Surakarta, Balikpapan, Denpasar, Mataram, dan Makassar.



Sejatinya layanan panggilan darurat dibutuhkan di semua kota di Indonesia. Semakin cepat ditangani, dampak kejadian darurat bisa diminimalkan. Masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak menyalahgunakan panggilan darurat tersebut. (*/c7/git)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore