
BERCENGKERAMA: Sudarsono (dua dari kiri) dan Sugeng Beni (dua dari kanan) mengobrol dengan pasien lain di samping Gedung POSA RSUD dr Soetomo.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan, dia kerap menahan rasa sakit hati. Sebab, pasien baru sering menganggapnya makelar. Tuduhan itu dia balas dengan bukti nyata. Dia tulus membantu setiap pasien yang kesulitan, baik jarak maupun waktu. Sugeng pun ikut berduka ketika ada salah seorang pasien yang meninggal dunia. ’’Biasannya ketemu guyon-guyon sekarang kehilangan. Sakitnya pasien sakit saya juga. Karena saya sendiri kan pernah merasakan sakit,’’ ungkapnya sembari memelankan suara.
Selain Sugeng, relawan lainnya, Sudarsono, punya latar belakang serupa. Dia memilih mengabdikan diri sebagai relawan karena juga merasakan sakit chronic myeloid leukemia (CML). Hingga kini, dia harus mengonsumsi obat Tasigna empat kali sehari. Mengonsumsi obat tersebut tidak boleh telat. Karena itu, dia selalu sigap membantu melayani kesulitan pasien lain.
Berbeda dengan Sugeng, aktivitas Dar, panggilan akrab Sudarsono, berbeda. Selain menjadi relawan di Yayasan ELGEKA, setiap Jumat dia membantu mengepel masjid. Tindakan tersebut dilakukan atas kemauannya diri. Tujuannya, memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Dar juga mendapat dukungan penuh dari istri. Kebetulan istrinya juga mengabdikan diri di salah satu lembaga sosial masyarakat. Perjuangannya pun sama dengan Sugeng yang tidak mengenal waktu kapan harus dibutuhkan. ’’Niatnya lillahi taala,’’ ujarnya, lantas tersenyum ramah.
Sugeng dan Sudarsono membantu pasien penderita leukemia yang kondisinya darurat. Artinya, jika ada pasien luar Surabaya, mereka ikut membantu. Bantuan itu berupa pengambilan obat dan pengurusan administrasi. Dari jasa mereka, kadang ada sebagian pasien yang memberikan ucapan terima kasih. Namun, mereka tidak pernah mengharap pamrih. Keduanya justru tulus memberikan pelayanan.
Kini keduanya membuat program. Namanya Tabungan Bersama. Tujuannya, mempersiapkan para penderita kanker leukemia saat evaluasi setiap akhir tahun. Evaluasi itu bertujuan melihat perkembangan penyakit yang diderita. Membaik atau justru memburuk. Biasanya, evaluasi tersebut membutuhkan dana yang cukup besar. Karena itu, Sugeng dan Dar mencetuskan program Tabungan Bersama untuk menanggulangi hal tersebut.
Program tabungan bersama itu sudah berjalan selama enam bulan. Baru ada 30 dari sekitar 150 pasien yang turut aktif menabung. Sisanya masih pasif. Keduanya mengaku berterima kasih kepada pelayanan BPJS Kesehatan. Sebab, dengan adanya program BPJS, pasien leukemia bisa mengonsumsi obat secara gratis. Mengingat harga obat cukup mahal. ’’Kami berterima kasih kepada BPJS. Sangat merasa terbantu,’’ jelasnya. (*/c15/ano)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
