Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2017 | 04.54 WIB

Sugeng Beny dan Sudarsono, Survival Leukemia yang Jadi Relawan

BERCENGKERAMA: Sudarsono (dua dari kiri) dan Sugeng Beni (dua dari kanan) mengobrol dengan pasien lain di samping Gedung POSA RSUD dr Soetomo. - Image

BERCENGKERAMA: Sudarsono (dua dari kiri) dan Sugeng Beni (dua dari kanan) mengobrol dengan pasien lain di samping Gedung POSA RSUD dr Soetomo.



Dalam menjalankan tugasnya sebagai relawan, dia kerap menahan rasa sakit hati. Sebab, pasien baru sering menganggapnya makelar. Tuduhan itu dia balas dengan bukti nyata. Dia tulus membantu setiap pasien yang kesulitan, baik jarak maupun waktu. Sugeng pun ikut berduka ketika ada salah seorang pasien yang meninggal dunia. ’’Biasannya ketemu guyon-guyon sekarang kehilangan. Sakitnya pasien sakit saya juga. Karena saya sendiri kan pernah merasakan sakit,’’ ungkapnya sembari memelankan suara.



Selain Sugeng, relawan lainnya, Sudarsono, punya latar belakang serupa. Dia memilih mengabdikan diri sebagai relawan karena juga merasakan sakit chronic myeloid leukemia (CML). Hingga kini, dia harus mengonsumsi obat Tasigna empat kali sehari. Mengonsumsi obat tersebut tidak boleh telat. Karena itu, dia selalu sigap membantu melayani kesulitan pasien lain.



Berbeda dengan Sugeng, aktivitas Dar, panggilan akrab Sudarsono, berbeda. Selain menjadi relawan di Yayasan ELGEKA, setiap Jumat dia membantu mengepel masjid. Tindakan tersebut dilakukan atas kemauannya diri. Tujuannya, memiliki jiwa sosial yang tinggi.



Dar juga mendapat dukungan penuh dari istri. Kebetulan istrinya juga mengabdikan diri di salah satu lembaga sosial masyarakat. Perjuangannya pun sama dengan Sugeng yang tidak mengenal waktu kapan harus dibutuhkan. ’’Niatnya lillahi taala,’’ ujarnya, lantas tersenyum ramah.



Sugeng dan Sudarsono membantu pasien penderita leukemia yang kondisinya darurat. Artinya, jika ada pasien luar Surabaya, mereka ikut membantu. Bantuan itu berupa pengambilan obat dan pengurusan administrasi. Dari jasa mereka, kadang ada sebagian pasien yang memberikan ucapan terima kasih. Namun, mereka tidak pernah mengharap pamrih. Keduanya justru tulus memberikan pelayanan.



Kini keduanya membuat program. Namanya Tabungan Bersama. Tujuannya, mempersiapkan para penderita kanker leukemia saat evaluasi setiap akhir tahun. Evaluasi itu bertujuan melihat perkembangan penyakit yang diderita. Membaik atau justru memburuk. Biasanya, evaluasi tersebut membutuhkan dana yang cukup besar. Karena itu, Sugeng dan Dar mencetuskan program Tabungan Bersama untuk menanggulangi hal tersebut.



Program tabungan bersama itu sudah berjalan selama enam bulan. Baru ada 30 dari sekitar 150 pasien yang turut aktif menabung. Sisanya masih pasif. Keduanya mengaku berterima kasih kepada pelayanan BPJS Kesehatan. Sebab, dengan adanya program BPJS, pasien leukemia bisa mengonsumsi obat secara gratis. Mengingat harga obat cukup mahal. ’’Kami berterima kasih kepada BPJS. Sangat merasa terbantu,’’ jelasnya. (*/c15/ano)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore