Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Juli 2017 | 02.14 WIB

D’Miracle, Komunitas Pesulap Surabaya Arahan Demian Aditya

UNJUK KEBOLEHAN: Pesulap dari komunitas D’Miracle Fendy Flarino memamerkan kemampuannya bermain kartu. - Image

UNJUK KEBOLEHAN: Pesulap dari komunitas D’Miracle Fendy Flarino memamerkan kemampuannya bermain kartu.


Mereka masih muda. Tapi, sudah getol menggeluti seni ’’tipu-menipu’’ yang sangat lawas. Yakni, sulap. Modal mereka adalah ketekunan dan logika. Bukan sulap, bukan sihir.





JOS RIZAL, Surabaya





YA, sulap memang seni memperdayai. Menipu penonton agar seolah-olah percaya pada keajaiban yang sedang ada di panggung. Atau, memberi tahu penonton –yang sejatinya sudah tahu sulap adalah seni trik– bahwa hal-hal tertentu bisa mewujud di pentas secara ajaib dan apik. Wow…



Itulah yang dipamerkan komunitas D’Miracle di ruang redaksi Jawa Pos, Rabu (5/7). Mereka datang dalam rangka mengucapkan selamat kepada koran ini yang pada 1 Juli berulang tahun ke-68. Sebagai seorang pesulap, mereka tak sekadar mengucapkan happy birthday. Mereka juga membawa ’’sihir’’. Tepat di tengah-tengah awak redaksi yang sedang berkutat mengejar tenggat.



Tengok yang dilakukan Deden Wicahya, koordinator komunitas. Membawakan sulap jenis close-up magic (jarak dekat), dia menyiapkan dua koin. Rp 200 dan Rp 1.000. Semuanya dari penonton.



Deden lantas meminta salah seorang penonton, yang merubung di tengah-tengah ruangan, untuk menjadi relawan. Tampillah Jayendra Anita Widhiarta, penyunting bahasa Jawa Pos.



Jayendra lantas diminta memilih salah satu koin. Perempuan berparas manis itu menginginkan Rp 1.000. Dua koin lantas digenggam sekaligus oleh Jayendra. Genggaman tangan kirinya erat.



Beberapa detik kemudian, Deden meminta Jayendra membalik genggamannya. Punggung tangan ada di atas. ’’Sekarang karena Anda memilih koin Rp 1.000, koin itu akan saya ambil dari genggaman Anda,’’ ujar Deden kepada Jayendra dan penonton. Tangan pesulap itu lalu membuat gerakan seolah-olah mencubit punggung tangan tersebut.



Begitu tangan Jayendra dibuka, di luar dugaan (atau memang sudah diduga penonton), koin tersebut lenyap. Penonton bertepuk tangan. Keheranan. Bukan takjub oleh sihir. Tapi, bingung memikirkan bagaimana cara trik tersebut…



Malam itu, Deden tidak tampil sendirian. Dua koleganya datang. Yakni, Chavid Da Wolski dan Fendy Flarino. Mereka juga mempertontonkan keahlian ber-simsalabim.



Sejatinya, ada delapan orang yang dijadwalkan datang. Tapi, lima lainnya punya acara di luar kota.



D’Miracle berisi anak-anak muda penggemar sulap. Mereka bergabung pada 2008. Tentu, sebelumnya mereka punya dasar-dasar trik yang didapatkan dari sekolah sulap sebelumnya.



Adalah Demian Aditya, pesulap yang tampil dalam kontes America’s Got Talent 2017, yang menyatukan para pemuda berbakat itu. Harapannya, jagat sulap kian berkembang. Tidak malah lenyap karena triknya itu-itu saja. Komunitas tersebut juga mendapat perhatian khusus dari Demian. Dengan begitu, trik mereka terus terbarui.



Sebulan sekali, D’Miracle mendapat PR. Petunjuk pengerjaannya dikirim Demian lewat Facebook, Twitter, atau WhatsApp. Saat berlibur ke Surabaya, Demian juga kerap datang langsung untuk memberikan tutorial. Biasanya di sebuah kafe. Jadwalnya tak tentu. Bisa sekali sebulan, dua kali sebulan, hingga enam bulan sekali.



’’Simpel. Yang dijadikan PR atau bahan sulap bisa apa aja. Karena pada dasarnya, sulap itu seni mengubah sesuatu yang ada di sekitar kita,’’ jelas Fendy Flarino di lounge Jawa Pos setelah tampil.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore