Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Juli 2017 | 16.30 WIB

Sempat Tegang Tangani Pasien Preeklampsia sampai Berat Bayi Lahir Rendah

BERPRESTASI: Ismu menunjukkan buku KIA dan pedoman pelayanan antenatal care yang menjadi dasar pelayanan ibu hamil. - Image

BERPRESTASI: Ismu menunjukkan buku KIA dan pedoman pelayanan antenatal care yang menjadi dasar pelayanan ibu hamil.


Ismu menjadikan profesi bidan sebagai panggilan hati. Dia siap menolong setiap ibu hamil sampai melahirkan. Ada masalah atau tidak, ibu dan bayi harus bisa diselamatkan.





ARIF ADI WIJAYA, Gresik





SUASANA di Puskesmas Alun-alun cukup sepi. Saat itu malam hari. Jarum jam menunjuk angka 10 kurang sedikit. Di dalam, seorang bidan bernama Ismu berjaga dengan seorang temannya, Retno.



Suasana hening tiba-tiba pecah. Ibu hamil datang bersama keluarganya. Perempuan asal Madura tersebut menggunakan kursi roda. Kakinya tidak mampu berjalan akibat kontraksi. Ismu dan Retno bergegas menuju ruang unit gawat darurat (UGD). Setelah dicek, kondisi ibu hamil sudah bukaan lengkap. Padahal, usia kehamilan baru 7,5 bulan.



’’Tidak mungkin dirujuk lagi. Mau tidak mau harus ditangani,’’ ujarnya.



Seharusnya, kelahiran prematur dirujuk ke rumah sakit. ’’Sempat panik. Yang penting penanganan sesuai prosedur,’’tuturnya.



Kurang dari lima menit, si jabang bayi pun berhasil lahir dengan selamat. Namun, berat badannya hanya 1.800 gram. Ismu meminta persetujuan pihak keluarga untuk merujuk si bayi ke rumah sakit. Namun, keluarga menolak.



Perempuan kelahiran 1969 itu pun semakin dilema. Sebab, bayi dengan kondisi berat bayi lahir rendah (BBLR) harus dirawat intensif di rumah sakit. Setelah dipertimbangkan, Ismu pun berkomitmen untuk merawat bayi BBLR tersebut.



Setelah empat hari dirawat, kondisi bayi membaik. Ismu pun memulangkan bayi itu. Setelah seminggu, pihak keluarga diminta membawa kembali bayinya ke puskesmas untuk kontrol. ’’Berat badannya sudah naik meski sedikit. Pemberian ASI eksklusif juga bagus,’’ terangnya.



Itu merupakan salah satu pengalaman Ismu menangani kasus ibu hamil dengan kondisi darurat selama 26 tahun bergelut dengan urusan kebidanan. Sejak lulus Akademi Kebidanan pada 1991, kehidupan Ismu tidak pernah lepas dari ibu hamil dan persalinan. Hingga kini, ratusan bahkan ribuan kelahiran dia tangani.



Pengalaman pertama tugas Ismu di Puskesmas Sampang. Hingga akhirnya, dia dipindahtugaskan ke Puskesmas Alun-Alun Gresik pada 1997. ’’Tidak pernah ada kasus kematian ibu dan bayi,’’ ungkapnya.



Menjadi seorang bidan, kata Ismu, merupakan panggilan hati. Jika standard operating procedure (SOP) dan petunjuk teknis (juknis) dilaksanakan, ibu hamil serta bayi pasti bisa diselamatkan.



Selama mengabdi, Ismu sudah ’’kenyang’’ dengan berbagai pengalaman menangani ibu hamil. Mulai ibu hamil sehat sampai yang berstatus risiko tinggi (risti). Meski cukup senior, Ismu tetap berhati-hati dalam penanganan.



Selain BBLR, Ismu kerap mendapati bumil risti. Kasus yang ditangani mulai hipertensi di masa kehamilan atau preeklampsia (PE) sampai perdarahan. Yang paling mengkhawatirkan, menurut dia, adalah bumil PE. ’’Bisa kejang sewaktu-waktu,’’ jelasnya.



Karena kenyang pengalaman, Ismu didaulat menjadi pelatih asuhan persalinan normal (APN) dan contraceptive technology update (CTU) Kabupaten Gresik. Ismu juga kerap mengisi pelatihan peningkatan kualitas bidan atau midwifery update yang rutin diselenggarakan dinas kesehatan.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore