
CERITA: Khairil (kanan) menerjemahkan salah satu panel bergambar paksi nagaliman di gebyok makam Sunan Prapen yang sebelumnya dipakai di makam Sunan Giri.
Gebyok pada cungkup makam Sunan Prapen menyimpan cerita sejarah. Selain pernah dipakai di makam Sunan Giri, ukiran di gebyok kayu itu sarat makna dan filosofi. Terutama nilai toleransi dan keberagaman.
ARIF ADI WIJAYA
LOKASI makam Sunan Prapen tidak jauh dari makam Sunan Giri. Hanya sekitar 200 meter. Untuk mencapai makam, kita harus menaiki 33 anak tangga. Di atas bukit, terdapat tiga makam besar. Dua makam berbahan batu kapur putih adalah makam Panembahan Kawis Guwo dan Panembahan Agung. Keduanya merupakan pemimpin Giri Kedaton setelah Sunan Prapen. Yang paling kanan adalah makam Sunan Prapen.
Makam tersebut ditutupi gebyok kayu. Gebyok kayu itu berukuran 9 x 6 meter dan diperkirakan ada sejak 1506 Masehi. Tepat setelah Sunan Giri meninggal. ’’Dulu sempat di sini (makam Sunan Giri, Red),’’ kata Achmad Shobirin, wakil ketua Yayasan Makam Sunan Giri.
Menurut Shobirin, pada masa Sunan Prapen, gebyok tersebut diganti dengan yang baru. Hadiah dari raja di Palembang. Namun, Sunan Prapen tidak berani membuang gebyok yang lama. ’’Akhirnya disimpan di bukit Desa Klangonan. Setelah Sunan Prapen meninggal, barulah gebyok itu dipakai,’’ jelasnya.
Gebyok lama dan baru makam Sunan Giri memang berbeda. Terutama bagian ukiran. Di gebyok yang lama, ukiran yang menghiasi bukan hanya motif flora. Ada beberapa fauna dan benda lain. Sebaliknya, gebyok baru hanya menggunakan motif flora.
Menurut literatur, jelas Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Gresik Khairil Anwar, setiap gebyok menggambarkan sosok yang dimakamkan. Khusus gebyok makam Sunan Giri yang dipakai Sunan Prapen, ada banyak hal menarik.
Khairil menjelaskan, gebyok tersebut tidak hanya menggambarkan sosok Sunan Giri sebagai seorang suci dan alim. Ukiran maupun hiasan gebyok menunjukkan sikap toleransi dan keberagaman.
Khairil mengungkapkan, ada pengaruh Hindu-Buddha hingga budaya Tiongkok di dalam gebyok makam tersebut. Salah satunya terlihat pada dua naga di pintu makam. ’’Itu menggunakan gaya naga dari Tiongkok,’’ ujarnya.
Selain naga, ada gambar paksi naga liman (garuda, naga, dan gajah) di salah satu panel. Gambar itu banyak digunakan umat Hindu-Buddha untuk menggambarkan sosok penguasa tiga alam. Udara, air, dan darat.
Selain penguasa tiga alam, lanjut Khairil, gambar paksi naga liman memiliki arti lain. Garuda bisa juga diartikan sebagai tingginya ilmu pengetahuan. Gajah berarti kekuatan. ’’Naga dipakai untuk simbol keagungan,’’ tutur lelaki yang juga pemerhati sejarah tersebut.
Gambar pada ukiran itu secara tidak langsung menceritakan orang yang dimakamkan di dalamnya. Selain sosok alim yang agung, gebyok tersebut menggambarkan Sunan Giri sebagai orang yang mampu merangkul semua golongan.
Tidak pelak, wali sekaligus raja bergelar Prabu Satmoto itu mampu berdakwah tanpa terjadi pertumpahan darah sejak 1487 Masehi hingga 1506 Masehi. Padahal, saat itu masih banyak penganut Hindu-Buddha. ’’Karena berilmu tinggi, Sunan Giri disegani dan ditokohkan,’’ terangnya.
Sosok Sunan Giri digambarkan melalui relief dan ukiran pada gebyok makamnya. Gebyok tersebut, lanjut dia, sudah tercatat sebagai cagar budaya nasional. Disparbud mengupayakan anggaran kepada pemerintah pusat untuk biaya pemugaran. ’’Kondisinya sudah rapuh. Jadi, perlu dipugar,’’ tandasnya. (*/c14/roz)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
