
MUDA DAN BERPRESTASI: Dokter Satria Arief Prabowo saat presentasi hasil riset dalam kongres European Society of Paediatric Infectious Diseases (ESPID) di Madrid, Spanyol, 25 Mei 2017.
Dokter Satria Arief Prabowo pantas berbangga. Di usia yang masih 24 tahun, dia telah berkeliling ke 35 negara di dunia. Bahkan, dokter lulusan Universitas Airlangga itu menjadi anggota termuda dalam penelitian vaksin tuberkulosis (TB) dengan 20 negara.
ANTIN IRSANTI
ORANG yang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Dibutuhkan usaha, kerja keras, tekad yang kuat, dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk menggapainya. Begitu pula capaian yang diraih dr Satria Arief Prabowo.
Lulus SMA pada usia yang masih sangat belia, yakni sekitar 15–16 tahun. Kemudian, Satria melanjutkan pendidikan sarjana di Jurusan Kedokteran Universitas Airlangga. Tak banyak yang menyadari, pria kelahiran Surabaya 13 Oktober 1992 itu sebenarnya sedang berjuang keras. ”Di saat teman-teman lain menikmati masa muda, saya sudah menempuh kuliah. Sehingga butuh waktu untuk adaptasi,” tutur putra pasangan Siswanto dan Siti Nur Elly Yani itu.
Godaan sebagai anak muda pun kerap kali muncul. Namun, semangat Satria tidak mudah goyah. Ada hal lain yang lebih besar untuk dia kerjakan. Dia yakin, segala jerih payah baik akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.
Orang tua adalah sumber semangat utama bagi sulung di antara tiga bersaudara tersebut. Sebagai anak, dia ingin terus berbakti kepada orang tua dan memberikan senyum di wajah mereka. ”Sejak dini di benak saya selalu tertanam supaya dalam hidup ini dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat,” ujar pengagum Nabi Muhammad SAW itu.
Tak hanya itu, Satria juga memiliki passion yang tinggi di bidang riset penyakit tropis dan infeksi. Karena itu, dia aktif di forum ilmiah dan studi mahasiswa yang bergerak di bidang penalaran. Selain itu, dia aktif sebagai student ambassador mewakili Indonesia untuk International Student Congress on Medical Sciences di Belanda.
Pada 2012, Satria mendapatkan beasiswa dari University of Groningen, Belanda, untuk program Clinical and Research Internship. Dia terpilih oleh Unair karena merupakan mahasiswa berprestasi dan lulusan terbaik di fakultas kedokteran.
Selama enam bulan di Groningen, pria yang menjadi dokter sejak usia 21 tahun itu terlibat dalam konsorsium riset vaksin TB di Eropa. Dia juga berhasil memublikasikan dua karya jurnal internasional. Berbekal jurnal internasional dan rekomendasi dari internist-infectiologist di Belanda Prof Tjip S. Van Der Erf MD PhD, Satria mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi PhD di London School of Hygiene and Tropical Medicine tanpa gelar master.
Riset vaksin TB pun berlanjut. Bahkan, Satria berkolaborasi dengan peneliti dari 20 negara di dunia. Riset tersebut mendapatkan dana EUR 25 juta atau setara Rp 400 miliar. Dalam penelitian itu, dia merupakan peneliti sekaligus kandidat doktor termuda.
Alumnus SMAN 5 Surabaya itu lantas menjelaskan penelitian yang sedang dikerjakannya. Secara umum, masalah TB di Indonesia hampir sama dengan negara-negara berkembang lainnya. Yakni, perlu vaksin baru yang lebih efektif dan terapi yang lebih singkat.
Sementara itu, pengobatan TB dianggap belum efektif. Lebih parah lagi, dalam kasus TB tersebut diketahui ada multi-drug resistant tuberculosis (MDR-TB) atau kekebalan terhadap pengobatan. Akibatnya, keberhasilan terapi hanya mencapai kisaran 50 persen dan jangka waktu pengobatan hingga 20 bulan. Jenis TB itu dilaporkan semakin sulit untuk diobati.
Tidak hanya itu, vaksin BCG yang diberikan kepada anak-anak saat ini hanya efektif mencegah TB jenis tertentu. Yakni, TB milier dan meningitis selama dua tahun pertama pada anak. Untuk mencegah TB paru pada orang dewasa, efektivitas BCG hanya 0–50 persen.
Karena itu, penelitian doktoral tersebut bertujuan untuk menjawab dua permasalahan itu. Melalui konsorsium riset yang didanai oleh Grant dari Uni Eropa, proyek tersebut bertujuan untuk mengembangkan sebuah vaksinasi terapeutik bagi penderita TB.
Umumnya, vaksinasi diberikan untuk mencegah penyakit. Tapi, ternyata bisa juga diberikan kepada penderita yang sudah sakit untuk membangkitkan sistem kekebalan tubuh dan potensial memperpendek masa pengobatan penderita TB. ”Jika terapi dapat diperpendek dari enam bulan menjadi satu bulan misalnya, hal itu akan berdampak besar. Angka penyakit TB bisa berkurang secara signifikan di dunia,” terangnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
