
Abdi Nur, Pengrajin aksesories kayu resam Jambi
JawaPos.com - Aksesoris memang sangat lekat dengan gaya hidup masyarakat sekarang. Baik itu gelang, cincin, kalung, dan sekarang Lacak Jambi menjadi aksesoris idaman para pria di Jambi. Setelah dipopulerkan oleh Gubernur Jambi, Lacak kini menjadi aksesoris yang digemari baik tua maupun muda. Kreatifitas membuat lacak, juga tak sekadar dari batik lagi, namun dari bahan baku lain, seperti kayu Resam.
JENNIFER AGUSTIA, JAMBI
Abdi Nur, pria kelahiran Kuala Tungkal 5 Agustus 1963 adalah seorang pengrajin kayu resam Jambi. Sudah 15 tahun dirinya menggeluti profesi ini. Gelang AB, adalah salah satu karyanya yang terkenal di berbagai kalangan.
Bukan hanya karena gelang ini cukup banyak dipakai di seluruh Indonesia, namun juga karena kasiat dari resam yang bisa menjadi anti oksidan dan anti bakteri.
Gelang dari kayu resam yang disebut dengan gelang AB Jambi ini menurutnya bisa menyatukan masyarakat di seluruh Indonesia. Karena setiap orang yang memakai gelang ini, otomatis berteman. "Ini menyatukan NKRI, karena setiap ada orang pakai gelang ini, berarti kita berteman. Makanya di Facebook, ketika ada yang pakai gelang ini saya upload," katanya.
Abdi Nur mengatakan gelang AB Jambi ini sudah pernah diuji laboratorium, diketahui di dalamnya terkandung anti bakteri dan anti oksidan. Sehingga berkhasiat untuk beberapa penyakit. "Gelang ini makin lama makin bagus kandungan anti oksidannya," kata Abdi Nur.
Tidak hanya gelang, dia juga membuat aksesoris cincin resam, dan belakangan ini membuat lacak dari kayu resam ini. Lacak, menurutnya sudah sangat digemari oleh kalangan pria di Provinsi Jambi. Sehingga dia menemukan ide untuk membuat lacak dari kayu resam.
"Lacak ini sebelumnya sudah ada, namun tak ada yang peduli. Kemudian dipakai Gubernur, baru jadi trend. Lacak dari resam ini, beberapa waktu lalu sudah dilaunching dan dipakai Darius Sinatria," katanya.
Permintaan atau pesanan lacak kayu resam menurutnya cukup tinggi pasca dipakai oleh orang terkenal. Dia mengatakan bagi pemesan lacak resam, harus menunggu selama seminggu dulu baru bisa mendapatkannya. "Kalau gelang, ada stok. Kalau lacak harus indent dulu seminggu," katanya.
Dalam sehari Abdi Nur bersama masyarakat desa Suka Maju di Mestong yang menjadi binaannya bisa menyelesaikan 500 gelang dan cincin, serta 10 lacak. "Kalau gelang sama cincin bisa selesai dalam dua menit setiap satu buah. Kalau lacak butuh waktu sejam bikinnya, karena lebih rumit dan ada lapisan di dalamnya," katanya.
Untuk gelang dan cincin dijual mulai dari harga Rp 5000 hingga Rp 10 ribu. Sementara untuk lacak Resam dijual dengan harga Rp 300 ribu per buah. Dalam memenuhi pesanan konsumen, dirinya memberdayakan masyarakat di desanya. "Kalau ada orderan, kita panggil. Kalau tidak ada orderan, kita latih saja mereka. Yang penting punya ilmu," tandasnya. (mui/nas/JPG)

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
