
BUKTI PRESTASI: Tofel menunjukkan sertifikat kelulusan dari sekolah tata rambut milik Rudy Hadisuwarno. Dia adalah alumnus terbaik sekolah tersebut. Kini Tofel sangat beken di Bawean.
Karir Tofel sebagai penata rambut bisa saja melejit bila dia meneruskannya di Jakarta. Dia adalah salah seorang lulusan terbaik sekolah kecantikan milik Rudy Hadisuwarno. Dia juga sempat bekerja di sana. Namun, Tofel memilih pulang ke Bawean.
SALMAN MUHIDDIN
Tapi, prestasinya tak sependek namanya. Ada 36 pigura yang memenuhi dinding rumah Tofel di Desa Pudakit Timur, Kecamatan Sangkapura, Bawean. Sebanyak 17 di antaranya berisi sertifikat dan piagam penghargaan yang diraihnya selama menjadi penata rambut dan rias. Ya, dia bukan penata rambut sembarangan. Teknik menggunting didapatkan dari sekolah. Bukan ototidak.
Di salah satu pigura tertulis bahwa dia alumnus sekolah tata rambut Rudy Hardisuwarno angkatan 1991–1993. Hal itu terlihat pada salah satu pigura paling usang yang diletakkan di sebelah kiri ruangan. Kertas di pigura tersebut sudah menguning.
Rumah Tofel bergaya Belanda. Warisan buyutnya. Dindingnya saja setebal setengah meter. Ubin oranye masih terawat. Kaca-kaca kristal di jendela juga menandakan bahwa keluarga Tofel adalah keluarga berada.
Namun, dia tidak mau berpangku tangan. Gairah merantau orang Bawean membawanya bertualang ke ibu kota. Jakarta.
Rumah Tofel berada di atas bukit. Letaknya pun tidak strategis. Jauh dari jalan utama. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah salon. Yang bikin heran, pelanggan terus berdatangan saat Jawa Pos bertamu ke rumahnya, Rabu (10/5).
”Yaelah. Nggak perlu tanda, orang juga sudah tahu kok,” jelas Tofel sembari mencukur rambut salah seorang pelanggan asal Kecamatan Tambak.
Jelas saja. Jumlah salon di Bawean memang hanya hitungan jari. Apalagi yang punya keahlian make-up dan merias kemanten. Jumlahnya mungkin hanya 2-3 orang.
Lantas, mengapa Tofel kembali ke Bawean? Dia menerangkan bahwa ibunya, Gustariyah, tinggal seorang diri. Dia tidak tega meninggalkan perempuan yang kini berusia 65 tahun itu. ”Kalau saya di Jakarta, ibu sama siapa?” ujar pria yang pernah tinggal di Kediri tersebut.
Kakak laki-laki Tofel bekerja di luar pulau. Karena itu, tugas menjaga ibunya dia emban sendiri. Terhitung sudah 15 tahun dia mengabdikan diri sebagai penata rias dan tukang cukur di Bawean. Keputusan tersebut diambil setelah Tofel bekerja di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, selama enam bulan.
Tofel tak iri melihat teman-temannya yang sukses di ibu kota. Bila mengikuti langkah teman-temannya, mungkin saja dia sudah punya salon besar di Jakarta atau Surabaya. ”Ada teman saya yang buka di Surabaya. Hmmm berapa itu tarifnya. Mahal banget,” celetuknya.
Katanya, untuk cukur di salon temannya saja, tarifnya bisa ratusan ribu rupiah. Dia tidak mungkin menerapkan tarif yang sama di Bawean. Tarif termurah untuk potong rambut hanya Rp 20 ribu.
Namun, keputusan pulang kampung itu ternyata justru membawa berkah. Tidak banyak pesaing membuat usahanya lancar-lancar saja. Bisa dibilang, dia ’’memonopoli’’ dunia persalonan Pulau Putri, sebutan lain Bawean.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
