Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Maret 2017 | 18.32 WIB

Nasirun, si Pengumpul Karya Pejuang Kebudayaan

BERSAMA GURU: Nasirun (kiri) dan pengajarnya di SMSR Jogjakarta, Supono P.R. Kini dia membantu Nasirun mendata koleksinya. - Image

BERSAMA GURU: Nasirun (kiri) dan pengajarnya di SMSR Jogjakarta, Supono P.R. Kini dia membantu Nasirun mendata koleksinya.


Apalah artinya menyebut diri sebagai manusia berbudaya kalau tak memiliki kepedulian dan berguna untuk manusia lainnya. Melalui rasa peduli itu, perupa Nasirun mengumpulkan ribuan karya seni bernilai sejarah tinggi. Wartawan Jawa Pos JANESTI PRIYANDINI sempat dipertunjukkan harta karunnya tersebut.





EH, Mbak. Apa kabar? Sebentar ya, habis nyapu. Saya kalau pagi senang nyapu,” ujar Nasirun kepada saya Rabu (22/3). Dia hanya mengenakan sarung dan bertelanjang dada. Rambut gondrongnya diikat seadanya. Pelukis kelahiran Adipala, Cilacap, itu baru selesai menyapu ruang stockist yang terletak di belakang kediamannya di Bayeman, Jalan Wates, Jogjakarta.



Stafnya, Pipin, perlu beberapa menit untuk mencari keberadaan Nasirun. Sebab, kompleks rumah Nasirun memang luas dan terdiri atas beberapa bangunan. Saya masuk melalui studio yang terletak berdampingan dengan rumah utama. Dua bangunan itu terkoneksi. Pipin membawa saya duduk di kursi di belakang rumah; dekat taman yang rindang dan asri, kolam ikan yang dihuni puluhan ikan koi, serta kolam renang.



Setelah dicari ke sana kemari, ternyata sang tuan rumah sedang bersih-bersih di ruang stockist di belakang taman asri tersebut. Kami menuju ruangan itu melewati jalan setapak yang penuh batu taman basah, bekas tersiram hujan.



Kawasan bangunan modern bergaya tropis tersebut memang menarik hati dan langsung memberikan kesan ayem. Ditambah lagi, yang punya adalah seorang seniman. Jadi, arsitekturnya sudah kawin dengan ornamen-ornamen seni hasil tatanan si pemilik rumah. Sepanjang mata memandang, selalu ada karya seni di sana. Entah itu patung, lukisan, wayang, atau pahatan.



Di ruang stockist tersebut, lukisan ada di mana-mana. Baik yang sudah terpajang di dinding maupun yang masih tertumpuk di beberapa sudut atau tertata di rak. Ruangan itu memang dikhususkan untuk menyimpan lukisan yang sebagian besar belum terdata. ”Ada yang masih gulungan. Ada yang tinggal difoto. Yang masih ada di tukang frame dan belum kembali juga banyak,” terang Pipin.



Nasirun mulai mendata koleksinya tersebut dua tahun terakhir. Hasilnya, lebih dari 1.000 karya seni. Dan ketika saya ke sana, tim Nasirun berhasil mendata 250 karya lagi. ”Yang di sini sudah di-frame semua, tapi belum difoto,” ucap Supono P.R., pelukis senior yang kini ikut menangani pendataan koleksi Nasirun.



Sebuah lukisan karya Umi Dahlan di atas kanvas yang diletakkan di lantai menunggu giliran untuk didata. Lukisan karya Umi Dahlan termasuk yang paling banyak dikoleksi Nasirun.



Saya juga ”menemukan” lukisan karya RM Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara di antara koleksi pelukis 52 tahun itu. Lukisan Ki Hadjar berobjek sepeda motor.



Ada pula karya Emiria Sunassa berangka tahun 1933. Dia adalah pelopor perupa perempuan Indonesia. Beberapa karya Emiria yang dikoleksi Nasirun akan dipinjam untuk dipamerkan di Europalia Art Festival Indonesia di Belgia.



Koleksi-koleksi lainnya yang sudah selesai dirapikan dipajang di private collection room yang terletak di seberang rumahnya. Nasirun membangun ruang koleksi pribadi itu bekerja sama dengan arsitek Eko Prawoto. ”Ya, inilah cara saya untuk menghormati, mengucapkan terima kasih, dan menghargai para senior saya. Master,” ucap Nasirun tentang koleksinya tersebut.



Terutama untuk menghargai guru dan dosennya. Merekalah yang merenda, berjuang untuk kebudayaan. ”Dan saya agak sedikit tidak rela mereka ’dihilangkan’ dari sejarah (seni). Nggak ada yang menceritakan perjuangan mereka kepada generasi penerus,” lanjutnya.



Nasirun mulai menempuh pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Jogjakarta pada 1983. Kemudian, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta pada 1987 dan lulus 1994. Karyanya kini menyebar di berbagai negara serta menjadi koleksi banyak museum, galeri, dan pribadi. Harga lukisannya kini jangan ditanya lagi.



Selain produktif melukis, Nasirun seorang kolektor yang tekun dan serius. Jika melihat banyaknya koleksinya, tidak terbayang bagaimana dia mengumpulkan satu per satu artefak itu. ”Dari tahun 1995 saya jadi tukang traveling, silaturahmi ke ahli waris (para seniman yang telah meninggal dan karyanya dia koleksi, Red),” ungkapnya.



Menurut perupa yang dialek Banyumasannya masih kental itu, ada romantisme ketika menemui para ahli waris yang pernah bersinggungan dengan karya para seniman yang kini jadi koleksinya. ”Entah itu istrinya atau suaminya. Itu cara saya mencari artefak doa rupa yang punya nilai histori,” ucap bapak tiga anak tersebut.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore