Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 11 Maret 2017 | 08.55 WIB

Hasil Lebih Maksimal setelah Pasang Dinamo di Velg

NOL POLUSI UDARA: Widyakarsa Soewono menjajal motor listrik bikinannya. - Image

NOL POLUSI UDARA: Widyakarsa Soewono menjajal motor listrik bikinannya.

Widyakarsa Soewono begitu puas. Kerja keras bersama tim mekaniknya sejak 2012 akhirnya membuahkan hasil. Sebuah sepeda motor listrik berhasil dia ciptakan.



ARIS IMAM MASYHUDI



KUALIFIKASI motor berwarna merah dengan rangka dominan hitam itu tak kalah dengan kendaraan yang ada di pasaran. Larinya kencang, hemat energi pula. Selain itu, ini yang penting, motor ciptaan Widyakarsa bebas polusi karena tidak memakai bahan bakar minyak.


Pemilik bengkel Duta Jaya Mobil itu juga sukses memodifikasi dua mobil berbahan bakar bensin menjadi mobil listrik. Dua kendaraan tersebut bahkan sudah bisa dipakai reguler.


Kini misi terbesar A Ling, sapaan akrab Widyakarsa, adalah memodifikasi Jaguar S-type 3.0 V6. Dia ingin menjadikan mobil tersebut sebagai prototipe modifikasi kendaraan dari berbahan bakar bensin menjadi mobil listrik. ”Sebenarnya modifikasi pertama sudah berhasil. Namun, agar lebih maksimal, saya melakukan sejumlah perubahan,” katanya.


Di sela-sela rutinitasnya mengelola bengkel miliknya di kawasan Rungkut, cita-cita membuat kendaraan listrik sebenarnya sudah lama terpendam. Keinginannya mengurangi polusi di jalanan menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, sebenarnya mobil dan motor listrik bukan hal yang baru di dunia. Di beberapa negara, kendaraan beremisi malah dilarang. ”Seperti di Tiongkok. Hanya mobil listrik yang bisa beroperasi,” ujarnya.


Keinginannya makin menggebu pada 2012. Menteri BUMN kala itu, Dahlan Iskan, sangat getol mengampanyekan produksi mobil listrik nasional. ”Dari situ saya bersemangat memulai proyek ini,” katanya.


Uji coba pertama adalah memodifikasi Mitsubishi Jetstar. Proyek itu tak butuh waktu lama, hanya sekitar lima bulan. Sebab, seluruh bahannya sudah ready. Hasilnya lumayan sukses. Mobil tersebut sanggup melaju dengan kecepatan maksimal 100 km/jam dengan waktu tempuh lima jam. Setelah itu, baterai diisi lagi.


Proyek kedua dikerjakan pada 2015. Widyakarsa memodifikasi satu Daihatsu Xenia keluaran tahun itu. Hasilnya juga sukses. Mobil tersebut bisa dipakai reguler. Di sela-sela proyek kedua itu, Widyakarsa dan para mekaniknya memproduksi motor listrik. Namun, teknologi yang dipakai agak berbeda. ”Electromotor (dinamo, Red)-nya kita tempatkan di velg. Berbeda dengan sebelumnya yang dipasang tersendiri. Hasilnya bisa lebih maksimal,” jelas Surono, kepala bengkel.


Keberhasilan produksi motor listrik itu menjadi inspirasi bagi Widyakarsa untuk mengembangkan proyek tersebut. Bahkan, dia mendapat request khusus untuk memproduksi motor listrik yang lebih ramping. ”Bisa diproduksi untuk segmen pengguna perempuan,” katanya.


Dia juga terus mengembangkan proyek modifikasi mobil listrik. Lewat mobil Jaguar keluaran 2011 itulah, dia ingin hasil uji cobanya benar-benar bisa menjadi stereotipe.



Secara garis besar, modifikasi kendaraan yang dilakukan A Ling bersama tim teknisinya tidak rumit. Mesin sebagai sumber utama penggerak kendaraan diganti dengan electromotor atau yang lazim disebut dinamo. Sumber energi yang dipakai adalah baterai dengan voltase tinggi, rata-rata di atas 100 volt. ”Ditambah dengan sejumlah modifikasi agar kualitas kendaraan listrik maksimal,” katanya. (*/c7/oni/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore