Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 24 Februari 2017 | 05.25 WIB

Geliat Komunitas Comedy in English (Comeng) Surabaya

MATERI RINGAN: Aloysia Karin saat open mike komunitas Comedy in English, Sabtu (18/2). - Image

MATERI RINGAN: Aloysia Karin saat open mike komunitas Comedy in English, Sabtu (18/2).

Ngelucu dalam bahasa Indonesia saja susahnya bukan main. Apalagi dalam bahasa Inggris. Bukannya bikin ketawa, para pendengar bisa jadi justru ’’roaming’’. Enggak mudeng antara mencerna arti dan melahap humor. Itulah tantangan komunitas Comedy in English (Comeng).



BRIANIKA IRAWATI



ALOYSIA Karina bicara soal kerenggangan hubungan ibu dengan anak. Terutama saat si anak memasuki masa remaja. ’’Disaster come (bencana datang, Red),’’ katanya saat open mike komunitas Comedy in English (Comeng) Surabaya di Spazio Sabtu (18/2).


Dalam situasi tersebut, anak sering terasa menjauh dari orang tua. Ibu masuk kamar anak pun bisa dilarang. Ada urusan pribadi anak yang orang tua tidak boleh ikut campur. ’’Don’t come! This is the personal space (ini ruang pribadiku, Red), Mom,’’ ucap Karin, sapaan Aloysia Karina, menirukan kegusaran para remaja tersebut.


Tentu para ibu enggak mau kalah. ’’You know, you also came out from my personal space!’’ seru Karin. Ya, guyonan tentang anak yang memang keluar dari ’’ruang pribadi’’ para ibu itu adalah salah satu punch line penampilan Karin. Tentu, penonton pun langsung gerrr...


Karin memang salah seorang Comengers, sebutan anggota komunitas Comeng Surabaya. Mereka adalah perkumpulan stand-up comedian dalam bahasa Inggris. Sejak didirikan pada akhir November 2016, anggota Comeng Surabaya berjumlah 16 orang.


Karin bergabung dengan Comeng sejak awal terbentuk. Sebelumnya, tidak pernah terlintas di benaknya menjadi Comengers. Hanya, Karin memang suka humor. Suatu ketika, dia bersama kelompok trainer ditantang untuk membawakan stand-up comedy. ’’Saya dijebak. Nggak ada temen-temenku yang maju,’’ ujarnya. Itulah pengalaman perdana Karin sebagai ’’pelawak’’.


Ternyata hasilnya nggak terlalu buruk. Teman-teman Karin tertawa melihat ekspresinya saat membawakan lelucon. Dengan humor, dia merasa selalu muda. Sebagai freelance trainer, humor juga sangat dibutuhkan. Karin menggunakan humor sebagai salah satu trik mengempaskan kebosanan saat bertemu dengan klien.


Itulah yang membuatnya ketagihan. Perempuan asli Surabaya tersebut selalu mencari materi candaan yang ringan tapi juga lucu. Dia selalu belajar membawakannya dalam bahasa Inggris. ’’Bahasa Inggrisnya memang penting, tapi ekspresi kita yang jauh lebih utama,’’ ungkap perempuan kelahiran 9 Juni 1990 tersebut.


Setiap kali tampil, Karin selalu menyiapkan lima bahan lelucon. Jika satu materi tidak berhasil membuat tertawa, dia lantas mencoba yang kedua. Begitu selanjutnya hingga lima bahan terpakai dalam satu materi. ’’Masak iya, lima-limanya itu nggak ada yang nyantol buat orang ketawa,’’ tuturnya.


Menurut Karin, materi yang ringan atau sering dijumpai sehari-hari menjadi topik favorit. Dengan begitu, materi stand-up comedy lebih mudah ditangkap penonton. Dalam sekali penampilan, Karin membawakan materi komedi selama 5–6 menit. ’’Jangan terlalu lama. Nanti penonton bosan. Saya juga mati gaya ntar,’’ kata Karin.


Beda Comengers, beda pula cara pembawaannya. Selain Karin, ada Arlan Setiawan. Dia bahkan menjadi founder sekaligus Comengers tertua dalam Comeng. Arlan lebih suka menekankan materinya bila dibandingkan pada mimik wajahnya. ’’Cerita dan pemilihan katanya juga harus lucu,’’ jelas pria 66 tahun tersebut.


Ide materi dapat datang dari mana saja. Peristiwa yang sudah maupun sedang terjadi juga bisa menjadi materi yang lucu. Comengers juga harus pintar mengemas bahan yang lucu. Misalnya, Arlan menceritakan pengalamannya bepergian ke Eropa. Petugas imigrasi di bandara bertanya kepada Arlan tentang seberapa banyak uang yang dibawanya. ’’Saya jawab one thousand (seribu, Red),’’ cerita Arlan.


Petugas mengira one thousand dalam dolar. Namun, ternyata Arlan hanya membawa seribu rupiah dalam kantongnya. Contoh candaan-candaan ringan itulah, menurut Arlan, yang mampu membuat pendengarnya tertawa.


Memang, cerita bisa terasa berbeda saat dibawakan dalam bahasa Inggris. Tantangan yang dihadapi Comengers lebih besar. Belum tentu semua penonton dapat mengerti arti cerita yang dibawakannya. Karena itulah, Comengers memiliki agenda open mike setiap bulan. Dalam gathering tersebut, setiap Comengers ditantang untuk tampil. Saat itu penontonnya bebas. Dari anggota sendiri, orang umum, dan anggota komunitas lainnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore