
ISTIMEWA: John Martono menunjukkan lukisan dengan media kain sutra di John Martono’s Art Studio, Bandung, Senin pekan lalu (30/1). Dia juga mengenakan baju berbahan kain sutra lukisannya.
Tak banyak seniman serupa John Martono. Puluhan tahun berkarya, dia konsisten melukis di atas sutra. Menjadi satu di antara sedikit pelukis sutra yang namanya akrab di telinga penggiat seni mancanegara.
SAHRUL YUNIZAR, Bandung
MELUKIS sudah jadi rutinitas John Martono. Meski darah seniman tidak mengaliri tubuhnya, dari kecil pria dengan panggilan John itu sudah menunjukkan bakat seni. Dia gemar melukis. Seperti anak kecil pada umumnya, pemandangan menjadi objek favoritnya. Gunung, petani, dan sawah berulang dia lukis.
Adalah Muhammad Hoesin ayah sekaligus sosok yang mendekatkan John dengan dunia lukis. Mengenalkan John kepada perupa senior di Batu, kota kelahiran sekaligus tempat dia menimba ilmu. ”Dulu Sabtu hari yang paling kutunggu,” kenang John saat berbincang dengan Jawa Pos Senin pekan lalu (30/1). Setiap Sabtu dia bisa melukis semalam suntuk. Menghabiskan waktu bersama imajinasi yang berkutat di kepalanya. Lepas isya sampai lewat tengah malam.
Berjam-jam John habiskan di depan kanvas. Media lukis yang dia buat adalah bekas karung tepung terigu. Esoknya aktivitas itu berlanjut. Bersama pelukis yang dikenalkan ayahnya, dia berkeliling Batu. Membawa kertas dan pensil. Melukis banyak objek. Pertokoan, perempatan jalan, sungai. Semakin hari, dia kian cinta dengan dunia lukis.
Pernah John diajak ayahnya ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Betapa kaget dia melihat kapal dalam wujud sebenarnya. ”Gimana lukisnya, besar sekali,” gumamnya kala itu.
John lalu dibawa ke kebun bintang. Melihat hewan raksasa serupa gajah, dia amat terkesima. Senang bukan kepalang lantaran imajinasi dalam kepalanya tidak lagi melulu gunung, petani, dan sawah.
Semakin jauh bepergian, kian banyak yang bisa jadi objek lukisan. Sampai masuk SD, SMP, dan SMA, John terus melukis. ”Sejak SMP aku sudah pameran di Batu, Malang, dan Surabaya,” ungkapnya. Aktivitas itu tidak berhenti meski dia masuk Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. Tekadnya bulat, dia tidak ingin bekerja di dunia industri.
Tekad itu melahirkan ide gila. Menggabungkan seni lukis dengan seni tekstil. Mengombinasikan kemampuan melukis dengan pengetahuan soal tekstil. ”Sejak 1993 aku sudah siapkan,” kata John. Mulai saat itu, pria yang berulang tahun setiap 31 Maret tersebut melukis di atas kain. Sutra menjadi pilihannya.
Bagi John, sutra adalah kain istimewa. Punya nilai lebih daripada jenis kain lainnya. ”Value-nya menggoda pikiran,” ucap dia. ”Mahal rasanya,” tambah ayah satu anak itu.
Bertahun-tahun melukis di atas kanvas, John pelan-pelan belajar melukis di atas sutra. Bukan perkara mudah tentunya. Di samping tanpa pendamping, karakter sutra beda jauh dengan kanvas. Media lukis itu membuat dia harus lebih hati-hati dan teliti ketika melukis. Tidak seperti melukis di atas kanvas, ada teknik-teknik khusus ketika menggerakkan kuas di atas sutra. Tak boleh terlampau kuat. Juga jangan sampai terlalu lembek. Selain itu, gerakan harus pas. Tangan dan isi kepala harus selaras. Sehingga ide yang hendak dituangkan mendarat sempurna.
Posisi melukis pun beda dengan biasanya. Tidak duduk menghadap media lukisan yang berdiri tepat di depan muka. ”Melukisnya di lantai dulu. Kalau tidak geleber-geleber,” jelasnya. Lantaran kain yang jadi media, pewarna pun beda. ”Tidak seperti pewarna untuk kanvas. Cair seperti ini,” kata dia sambil menunjukkan kopi yang sejak tadi menemani.
John lantas mengajak koran ini ke John Martono’s Art Studio, studio lukisnya. Letaknya tepat berada di lantai 2 rumah. Ada dua ruangan yang disulap menjadi studio lukis. Beragam lukisan menempel di dinding studio yang beralamat di Jalan Pagersari Nomor 198, Cibeunying, Bandung, itu. Hampir semua adalah lukisan yang dibuat dengan media kanvas. Termasuk lukisan yang dibuat selama sembilan tahun.
Ya, ada salah satu lukisan sutra yang dibuat John sejak 2001 sampai 2009. ”Itu belum selesai,” kata dia sambil menunjuk lukisan yang dipasang tepat di atas tangga. Coraknya istimewa. Merepresentasikan aliran lukisan yang kini jadi pilihan dia. ”Abstrak,” ujarnya singkat.
Tidak seperti lukisan pada umumnya, bukan hanya pewarna dari tinta yang dia pakai. Sulaman benang turut mewarnai lukisannya. Pria yang tengah menantikan kelahiran buah hati kedua dari pernikahannya dengan Citra Wulandari itu memang punya teknik melukis yang tidak umum. Selain sutra sebagai media lukis, sulaman jadi unsur penting pada setiap karyanya. ”Lukis, sulam, lukis, sulam, lukis lagi. Terus sampai aku rasa sudah selesai,” ungkap dia.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
