
BERHATI MULIA: Puger Mulyono bersama anak-anak dengan HIV/AIDS yang diasuhnya. Puger tak sampai hati membiarkan anak-anak itu telantar.
Puger akhirnya membawa pulang anak tersebut. Dia lalu mencarikan tempat tinggal. Kala itu masih berupa kamar kos-kosan dengan seorang mantan WPS (wanita pekerja seks) sebagai pengasuhnya. Semakin hari, jumlah ADHA yang ditampung Puger semakin banyak. Dia pun harus memutar otak untuk mencari tempat tinggal yang layak. Teman seperjuangan Puger di LSM, Yunus Prasetyo, menjual motornya untuk menyewa rumah kontrakan di kawasan Mangkuyudan selama dua tahun.
Kemuliaan hati Puger dan teman-temannya untuk mengurus ADHA ternyata tidak selalu direspons positif oleh masyarakat. Menurut Puger, masyarakat, tampaknya, malah berlomba-lomba menolak keberadaan Puger dan anak-anak tak berdosa itu. Masyarakat, dengan pengetahuan seadanya, takut Puger dan anak-anak itu akan memberikan dampak buruk jika tinggal di lingkungan mereka.
Puger berkisah, penolakan tersebut bukan sebatas kata-kata. Pernah sekali waktu dia menemukan kontrakan yang ditinggalinya bersama anak-anak dikosongkan paksa oleh warga sekitar. ’’Barang-barang kami dikeluarkan paksa oleh warga. Di jalanan,’’ kenangnya.
Puger mengaku pusing tujuh keliling. Dia bingung untuk mengamankan anak-anak asuhnya tersebut. Dalam kondisi terpepet itu, tiba-tiba datang seorang ustad yang memberikan bantuan. Dia menyewakan sebuah rumah kontrakan di kawasan Purwosari, tidak jauh dari tempat Puger bekerja. Puger dan anak-anak diminta menempati rumah tersebut. Tanpa pikir panjang, dia langsung membawa anak-anak ke rumah baru itu, sedangkan barang-barangnya menyusul.
Puger menyatakan, kesehatan anak-anak itu lebih penting daripada barang-barang. Semakin lama mereka terpapar di luar rumah, apalagi sampai kehujanan, mereka rawan sakit. Dan jika sudah sakit, ancamannya tidak sebatas flu, tapi sampai kehilangan nyawa. Dengan kekebalan tubuh mereka yang tidak seperti orang sehat, anak-anak harus betul-betul menjaga diri mereka.
’’Kehujanan itu paling tidak boleh dialami anak-anak. Air hujan itu jahat. Sekali kehujanan, tidak perlu menunggu besok, saat itu langsung demam. Kalau sudah begitu, bahaya. Harus dirawat di rumah sakit,’’ tegasnya.
Karena itu, selain memberikan obat ARV secara rutin kepada ADHA, Puger memberikan suplemen untuk meningkatkan kekebalan tubuh mereka. Menurut dia, hal tersebut dilakukan sebagai ikhtiar untuk menjaga kesehatan anak-anak. Di rumah kontrakan Puger, terdapat sekotak penuh obat-obatan dan suplemen vitamin.
Untuk tempat tinggal, Puger selama ini memang masih mengontrak dan harus bersiap pindah jika sewaktu-waktu warga kembali mengusir mereka atau mereka yang tidak sanggup membayar ongkos kontraknya.
Padahal, sebenarnya Pemerintah Kota Surakarta sudah memberi Puger tempat yang bisa dimanfaatkan untuk mengurus anak-anak malang tersebut. Pemkot pernah memberi Puger sebuah rumah di kawasan Setabelan. Namun, warga menolak Puger dan anak-anaknya.
’’Pemkot lalu memberi tempat lain. Lokasinya di utara Monumen Pers. Baru selesai seremoni serah terima, kami sudah didatangi warga. Mereka protes dan mengusir kami. Saya bisa apa?’’ ungkap Puger.
Penolakan juga terjadi di sekolah anak-anak ADHA. Saat mendaftarkan anak-anak sekolah, Puger memang tidak memberi tahu bahwa mereka adalah ADHA. Dia sadar, sekali berkata jujur soal itu, anak-anaknya sudah bisa dipastikan akan putus sekolah. Tidak ada sekolah yang mau menerima anak-anak dengan kondisi seperti itu. Jika ada, belum tentu orang tua siswa menerima ’’anak-anak’’ Puger tersebut.
’’Jadi, slogan ’jauhi virusnya bukan orangnya’ itu pada praktiknya tidak ada. Tetap saja mereka dikucilkan. Bahkan oleh sekolah. Untungnya ada satu sekolah yang mau menerima mereka,’’ ungkap Puger.
Yang membuat Puger tidak habis pikir, ada sebuah rumah sakit yang menolak anak-anaknya untuk berobat. Tapi, kali ini dia tidak mau tinggal diam. Dia siap berjuang habis-habisan. Sebab, kondisi anak-anak itu sangat bergantung pada rumah sakit. Jika rumah sakit menolak, apa jadinya anak-anak tersebut?
Puger lalu melayangkan surat protes kepada manajemen rumah sakit tersebut. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa penolakan tersebut bukan karena mereka memilih-pilih pasien. Tapi, saat itu mereka belum mampu menangani. Dokter dan perawat rumah sakit tersebut belum berkompeten menangani pasien dengan HIV/AIDS.
’’Penjelasan mereka semula begitu. Namun, ketika manajemennya berganti, mereka akhirnya mau menerima anak-anak tanpa biaya sepeser pun. Setiap bulan kami juga selalu mendapat obat gratis dari rumah sakit itu,’’ terang Puger tanpa bersedia menyebutkan rumah sakit yang dimaksud.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
