
KELUARGA SENIMAN: Dwi Purwoto bersama istri dan dua anaknya di bengkel gamelan kawasan Kwangsan, Sedati, Sidoarjo.
Seni tak bisa dipisahkan dari kehidupan Dwi Purwoto. Tak hanya aktif berkesenian bersama anggota keluarganya, dia juga memproduksi dan menjual berbagai alat musik tradisional. Peminatnya membanjir.
MAYA APRILIANI
TANGAN Dwi Purwoto, 40, begitu lincah saat memukul kendang. Di sisi kanannya, Andrean Putra Pradana, 17, tak mau kalah. Aksi pukulan tangan sulung di antara tiga bersaudara itu juga mantap.
Kolaborasi bapak dan anak di bengkel gamelan kawasan Kwangsan, Sedati, Senin (2/1) malam tersebut benar-benar memikat hati. Penampilan mereka makin sempurna ketika Arie Nursitawati bernyanyi.
Suara istri Purwoto itu begitu merdu. Tembang Bajing Loncat yang dibawakannya seolah mampu ’’menyihir’’ orang yang mendengar. Cengkoknya begitu pas dan enak didengar.
Malam itu mereka baru saja pulang pentas di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda. Purwoto dan keluarga memang sering tampil di sana.
Dia tak pernah bingung mencari personel. Selain keluarga inti, ada kakak kandung dan rekan-rekannya yang biasanya ikut manggung.
Purwoto memang memiliki latar belakang keluarga seniman. Bahkan, sejak SD dia berkecimpung di bidang seni. Tak heran, sampai sekarang dia tetap jatuh hati.
Apalagi, dia berjodoh dengan perempuan yang pandai menari dan menyanyi. Anak-anaknya pun ternyata menyukai bidang yang sama. Klop.
’’Saya tak pernah memaksa anak-anak terjun ke seni. Mereka sendiri yang suka,’’ kata pria kelahiran Wonogiri tersebut. Tanpa paksaan, semangat putra putrinya justru tumbuh dan bertambah kuat.
Si sulung bahkan mengambil jurusan karawitan di sekolah. Anggia Shinta S.P., putrinya yang nomor dua, jago menari seperti ibunya. Tentu saja Purwoto begitu bangga. Anak-anaknya mewarisi darah seni keluarga.
Awalnya, bapak tiga anak itu hanya asyik berkesenian. Pegawai tata usaha (TU) di salah satu universitas negeri di Surabaya tersebut belum terpikir membuka usaha atau bisnis yang berhubungan dengan seni.
Dia lebih ’’tergoda’’ menjalankan usaha di bidang lain. Mulai usaha fotokopi, menjual bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari, hingga buku-buku pelajaran.
Tetapi, semua usaha yang dilakukan itu kandas di tengah jalan. Tak berkembang dan kurang menguntungkan. Belakangan, Purwoto sadar jiwanya tak total menjalani semua bidang tersebut.
Itulah akar masalah yang membuat usahanya tak berjalan mulus sesuai dengan harapan. Akhirnya, dia memutuskan untuk merintis usaha di bidang kesenian sejak 2008.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
