alexametrics

Menanti Tuntasnya Reaktivasi Jalur KA Cibatu-Garut-Cikajang

Naik Kereta dengan Suguhan Pemandangan Indah
17 Juli 2019, 19:05:41 WIB

Pemerintah berencana mengaktifkan lagi empat jalur kereta api di Jawa Barat. Salah satunya adalah jalur Cibatu-Garut-Cikajang. Tahap pertama ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Warga antusias. Menjadi alternatif transportasi masal karena angkot suka ngetem lama.

BAYU PUTRA, Garut

SUARA bising lokomotif uap kembali mengisi kepala Jajat Sudrajat Sabtu lalu (6/7). Ketika Jawa Pos memintanya untuk menceritakan suasana Stasiun Garut pada 1970-an. Kala pria asli Garut itu masih berusia 20-an tahun. Saat KA masih menjadi primadona angkutan jarak jauh di tanah Jawa.

“Dulu ada dua kereta yang masuk ke sini. Kami menyebutnya si Gomar dan si Kuit,” katanya saat kami mengobrol santai di depan warung peracangan miliknya.

Warung itu berdiri di depan bangunan Stasiun Garut yang telah bertahun-tahun tak berfungsi.

Disebut si Gomar karena suaranya gahar. Berbahan bakar batu bara. Di samping masinis, ada cerobong kecil. Bila rantainya ditarik, cerobong itu akan mengeluarkan suara keras. Cerobong besar di depan loko mengeluarkan asap. “Brooom… gujes… gujes,” ucap Jajat, menirukan suara si Gomar ketika bergerak. Sementara suara si Kuit melengking seperti peluit.

Kini stasiun itu merana. Bangunannya memang masih kukuh. Tegak berdiri. Namun tak berfungsi. Beberapa tahun terakhir di sekitarnya berdiri bangunan lain. Tapi, bangunan-bangunan sekitar itu kini sudah diratakan dengan tanah. Demi mengembalikan fungsinya sebagai stasiun.

Di sebelah barat, ada tempat penyimpanan barang. Sementara itu, di sudut timur terdapat rumah dinas kepala stasiun. Bangunan stasiun masih asli bikinan masa penjajahan Belanda. Hanya, sudah banyak perubahan pada interiornya setelah stasiun ditutup. Terakhir, stasiun tersebut menjadi markas salah satu ormas cabang Garut.

Pintu berputar sudah hilang. Loket ditutup meski untungnya tidak permanen. Peron stasiun juga sudah dibalur dinding permanen. Dinding bagian depan juga dicat dengan warna khas ormas tersebut sebelum akhirnya dicat ulang oleh PT KAI beberapa bulan lalu.

Kabar beroperasinya kembali Stasiun Garut membuat Jajat gembira. Bagi dia, keberadaan jalur yang dibangun pada 1889 itu penting bagi warga. Jalur Garut-Cibatu adalah urat nadi transportasi warga Garut yang hendak ke luar kota. Baik ke Tasikmalaya, Bandung, Jakarta, maupun DIJ. “Dulu peralatan tempur juga dinaikkan kereta dari sini,” jelasnya.

Jajat yakin bahwa jalur Cibatu-Garut ditutup pada 1982 bukan karena sepi penumpang. Justru, menurut dia, penumpang yang naik dari Stasiun Garut begitu ramai. Menurut Jajat, tutupnya jalur tersebut akibat ulah para penumpang yang berujung kerugian PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) saat itu.

Pada ’70-an, tidak sedikit penumpang bandel yang coba-coba naik KA secara gratis. “Tinggal bilang saja keluarga, pasti dikasih masuk gratis,” kenang Jajat. Keluarga yang dimaksud adalah keluarga pejabat PJKA di Garut. Jajat mengaku pernah mencobanya dan berhasil.

Sebelum bertemu Jajat, Jawa Pos terlebih dahulu menelusuri jalur KA yang akan direaktivasi tersebut. Dimulai dari Bandung dengan menggunakan KA Pangandaran jurusan Tasikmalaya. Sepanjang perjalanan, tampak pemandangan menakjubkan kawasan pegunungan Jawa Barat. Di sisi utara, terbentang Gunung Kerenceng, Rancang, hingga Gunung Pilar. Di sisi selatan, ada Gunung Guntur.

Di beberapa titik, jalur berkelok. Cobalah mengambil tempat duduk di gerbong paling belakang. Di kawasan Nagreg, niscaya kita bisa memandang lokomotif di depan berbelok menarik gerbong-gerbongnya. Sementara itu, di sisi jalur KA terbentang jurang yang dalam. Indah sekaligus ngeri-ngeri sedaaap…

Sesekali KA harus berhenti di dekat stasiun kecil untuk memberi kesempatan KA dari arah berlawanan untuk lewat. Kadang KA Pangandaran yang Jawa Pos tumpangi didahulukan. Jalur KA di Jawa Barat rata-rata memang belum double-track sehingga mau tidak mau harus bergantian.

Turun di Stasiun Cibatu, Kepala Stasiun Nurachman menyambut. Kami mulai ngobrol. Namun, ketika topik mulai membahas reaktivasi jalur tersebut, dia menolak untuk membicarakannya. Alasannya, kewenangan dia hanya seputar Stasiun Cibatu. Tidak ada hak menjelaskan reaktivasi jalur KA.

Dengan menggunakan ojek, Jawa Pos lantas menyusuri jalur yang akan direaktivasi sekitar 18 km antara Cibatu dan Garut. Jalur itu merupakan tahap pertama yang direncanakan beroperasi pada awal 2020. Tahap 2 adalah jalur Garut-Cikajang.

Beberapa kali ojek berhenti. Misalnya di dua jembatan yang melintasi sungai kecil. Yakni, Jembatan Citameng dan Jembatan Cikoang. Juga, calon stasiun tidak jauh dari jembatan tersebut. Hampir seluruh jalur sudah rata. Truk dan alat berat hilir mudik menurunkan dan meratakan tanah urukan.

Satu hal yang nyaris tidak dijumpai di perjalanan adalah angkot. Padahal, ada trayek yang melayani jurusan Cibatu-Garut. “Angkotnya terkenal suka ngetem,” tutur Randi Alfiandi, warga yang tinggal tidak jauh dari Stasiun Cibatu.

Dampaknya, orang makin malas naik angkot. Dalam kondisi itu, kredit motor booming sehingga warga lebih mudah memiliki motor. Mereka lebih memilih naik motor meskipun melelahkan akibat jarak yang jauh. Jarak dari Stasiun Cibatu ke Alun-Alun Kabupaten Garut tidak kurang dari 23 km via jalan raya. Karena itu, reaktivasi jalur KA begitu ditunggu warga Cibatu.

Di Kabupaten Garut dan sekitarnya, terdapat banyak tempat yang bisa menjadi lokasi wisata. Salah satunya kebun teh di kawasan Dayeuhmanggung. Hanya 13 km dari pusat Kabupaten Garut. Dengan membayar tiket sebesar Rp 5.000, pengunjung bisa menikmati alam perkebunan sepuasnya. Hingga saat ini, Kemenhub dan PT KAI masih fokus membangun lagi jalur tersebut. “Perihal KA dan perjalanannya, belum dong,” ujar Kepala Humas PT KAI Daop 1 Edy Kuswoyo saat dimintai keterangan Minggu (14/7). Yang jelas, proses reaktivasi terus berjalan dengan target selesai akhir tahun ini.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat meninjau progres reaktivasi jalur KA Cibatu-Garut. Jalur itu dinilai akan sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat. Tingkat kunjungan ke Garut diyakini makin tinggi seiring mudahnya akses transportasi. Apalagi, Garut memiliki berbagai produk unggulan daerah.

Jokowi menyebutkan, bukan hanya satu jalur yang direaktivasi, melainkan empat. “Termasuk nanti yang masuk ke kawasan-kawasan wisata,” terang dia seusai peninjauan Januari lalu.

Targetnya jelas, menumbuhkan perekonomian daerah. Potensi wisata di Kabupaten Garut dan sekitarnya begitu besar. Tidak heran, komedian Charlie Chaplin sampai singgah di Garut. “Dulu Charlie Chaplin pernah ke Garut dua kali karena melihat keindahan ini,” lanjut dia.

Optimisme itu tidaklah berlebihan. Indonesia bukan hanya Bali. Garut pun punya tempat-tempat yang memesona.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c11/ayi)

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads