
LATIHAN DUA BULAN: Para anggota satuan Inline Skate Satpol PP Surabaya bersantai setelah bertugas di Taman Bungkul.
Sebelum tampil sebagai petugas keamanan superkeren dengan helm dan sepatu roda, ada proses yang tidak mudah bagi sepuluh personel satuan inline skate Satpol PP Surabaya ini. Mereka harus jatuh bangun sampai benar-benar menguasai sepatu dengan empat roda tersebut. Mereka pernah jatuh, bangun, jatuh lagi, dan bangun lagi.
TAUFIQURRAHMAN
SEKITAR pukul 15.00, setiap hari Mahella Tiara dan sembilan temannya bersiap-siap. Mereka punya aktivitas baru. Yakni, mengontrol jalur-jalur pedestrian.
Persiapan pertama adalah memasang sepatu roda, helm, dan body protector yang melindungi bagian-bagian tubuh seperti lutut, siku, dan telapak tangan.
Biasanya tim patroli inline skate itu menelusuri jalan-jalan dengan jalur pedestrian yang lebar. Contohnya, sepanjang Jalan Urip Sumoharjo. Di jalan itu, kerap ditemui pelanggaran ketertiban umum (trantibum).
Misalnya, pedagang asongan, sepeda motor parkir, maupun kendaraan yang nekat melintas di jalur pedestrian. Tim tersebut selalu bergerak bersama-sama.
Saat magrib, mereka beristirahat untuk melepas lelah atau membiarkan kaki bernapas sejenak. Bagi yang tidak terbiasa, kaki akan terasa sakit setelah berlama-lama memakai sepatu roda.
’’Biasanya teman-teman memang berkumpul di Taman Surya sini,’’ kata Tiara saat berbincang dengan Jawa Pos sore itu. Menjadi inline skater bukan pekerjaan mudah. Tiara mengaku baru saja mengenal inline skate.
Sepatu roda jenis itu memang beda. Berbeda dengan sepatu roda konvensional dengan dua roda di depan dan belakang, inline skate memiliki roda yang disusun segaris (in line).
Sepatu roda tersebut punya kecepatan dan manuver yang lebih baik. Yang dipakai Tiara dan kawan-kawannya termasuk level profesional. Empat roda plastik tanpa rem. Untuk bisa berhenti, perlu manuver khusus.
Badan menghadap ke samping dengan satu kaki di depan dan lainnya di belakang. Saat berhenti, kaki depan harus melintang melawan arah luncur. ’’Bentuk kakinya kayak huruf T,’’ kata Tiara.
Khusus pelajaran mengerem menyisakan banyak cerita dan peristiwa lucu. Kadang saat meluncur, dua anggota tim sama-sama tidak bisa mengerem. ’’Akhirnya tabrakan, jatuh bareng, ketawa bareng,’’ tutur Tiara.
Sebelum lolos menjadi anggota tim inline skate, Tiara dan kawan-kawannya menjalani serangkaian seleksi dan latihan. Dua bulan mereka belajar mempercepat, memperlambat, berhenti, berbelok, dan bermanuver.
Termasuk gaya-gaya luncur. Misalnya, meluncur berdiri atau duduk. ’’Yang paling sulit itu meluncur duduk. Mas Sulaiman yang paling pinter,’’ ujar Tiara yang menyebut salah seorang temannya.
Sulaiman adalah satu di antara lima personel laki-laki dalam kesatuan tersebut. Badannya tinggi besar dan dikenal sebagai skater yang paling mahir.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
