
CEKATAN: Arif bersiap melakukan gerakan kip-up untuk bangun dari posisi berbaring saat memeragakan Tari Warok Selasa (15/11) di SLB AC Dharma Wanita, Jalan Pahlawan Sidoarjo.
Dia lahir dengan keterbatasan. Di lain sisi, keluarganya tidak berasal dari kalangan seniman tari. Namun, hal itu tak menghalangi Arif untuk menekuni dunia tari. Melalui seni tari, Arif menemukan kesempurnaannya.
JOS RIZAL
HALAMAN Sekolah Luar Biasa (SLB) AC Dharma Wanita di Jalan Pahlawan tampak ramai Selasa (15/11). Para siswa berseliweran ke sana kemari.
Maklum, saat itu pukul 09.30. Siswa TK dan SD hendak pulang, sedangkan siswa SMA memasuki waktu istirahat. SLB AC Dharma Wanita menampung murid difabel dari tingkat TK hingga SMA.
’’A’’ berarti tunanetra, sedangkan ’’C’’ tunagrahita. Di salah satu sudut yang menjadi ruang tari, seorang siswa SMA tampak sibuk. Siswa kelas 10 tersebut mengambil kaset-kaset VCD di dalam tasnya.
Dia kemudian meminta Suparti, guru sekaligus kepala sekolah, memutar salah satu kaset itu. Moch. Mas Arif, siswa tersebut, hendak memperagakan tari warok. Tarian itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesenian reog Ponorogo.
’’Cepat putar,’’ katanya kepada sang guru. Dibantu guru lain, Suparti kemudian menyalakannya. Setelah itu, alunan gamelan lengkap dengan penyanyi yang melantunkan lagu Jawa terdengar santer.
Mendengar lagu tersebut, Arif seketika membusungkan dada. Dia berdiri tegak, lalu mengatupkan kedua tangan sejajar dengan dada hingga mirip dengan seseorang yang hendak bertapa.
Tak lama kemudian, tangan dan kakinya bergerak ke sana kemari mengikuti irama musik. Dia kadang melebarkan tangan dan mengepak-ngepak seperti seekor burung, lalu merangkak di lantai seperti harimau hendak menerkam mangsa.
Hebatnya, dia kembali berdiri dengan menggunakan gaya kip-up. Beberapa menit kemudian, seorang ibu mendekat untuk menyudahi pertunjukan itu. ’’Stop. Sudah,’’ ungkapnya. Ibu tersebut lalu ikut melihat aksi Arif.
Namanya Masturoh. Dialah ibunda Arif. Pagi itu dia sengaja datang untuk menemani buah hatinya yang kini berusia 21 tahun. Volume musik tersebut langsung dikecilkan. Arif tampak megap-megap bernapas.
Sang ibu memang sengaja membatasi durasi menari Arif. Dia boleh menari maksimal 15 menit. Maklum, pemuda yang mengidap down syndrome itu mudah lelah. Jika capek, dia gampang kehilangan trombosit.
Bila hari libur, Arif baru diperbolehkan menari hingga 20 menit dalam sekali pertunjukan. Pada 2015, Arif memenangi kompetisi pencarian bakat bagi kaum difabel yang diselenggarakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Pesertanya saat itu lebih dari 300 orang. Sejak saat itu, namanya melejit. Dia kerap diminta manggung dalam sejumlah acara yang diadakan Pemkab Sidoarjo dan Pemkot Surabaya.
Beberapa universitas di Surabaya dan Sidoarjo juga kerap menghadirkan Arif sebagai penari dalam pembukaan seminar atau acara lain. Salah satunya, Sidoarjo Education Expo (Siedex) beberapa waktu lalu.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Cetak Prestasi! Masuk 8 Klub Indonesia Lolos Lisensi AFC Champions League Two Tanpa Syarat
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
