
KOLEKSI ISTIMEWA: Lerem Pundilaras bersama koleksi batik lawasnya. Dia memegang batik Semarang. Kain di kiri atas adalah batik Lu Ie Tien dari Sidoarjo yang diperkirakan berumur 80 tahun.
Bak menyimpan emas permata, Lerem Pundilaras menjaga betul 200-an koleksi batik kuno miliknya. Batik-batik itu punya ciri khas berbeda dari setiap daerah. Tak pelak, harganya melambung.
ASA WISESA BETARI
SENYUM Lerem Pundilaras merekah saat sanak saudara dan kerabat berdatangan untuk memberikan selamat di pameran batik lawas dan lukisan miliknya. Sebanyak 46 batik tulis lawas digelar dalam pameran tunggal di Mercure Hotel Surabaya pada 13 Oktober.
Sehari sebelum pameran diadakan, tepatnya 12 Oktober, adalah ulang tahun pernikahan ke-25 Lerem Pundilaras dan suaminya, dr Iri Agus Subaidi MM MSi. Pameran tersebut menjadi salah satu kado dari sang suami untuk istrinya.
Laras, sapaan Lerem Pundilaras, memang mewarisi jiwa seni ayahnya yang pelukis. Meski sempat dilarang untuk menjadi pelukis, Laras tidak meluruhkan hobinya itu. Dia melukis sejak 1996 pada usia 33 tahun.
”Zaman dahulu, pelukis dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan. Maka dari itu, ayah melarang. Kemudian saya terjun di perbankan,” kenangnya. Laras kini bekerja sebagai priority banking manager di Bank Jatim dan pengusaha SPBU di Kabupaten Pamekasan.
Laras memang dididik dari keluarga yang kental akan budaya Jawa. Saban hari di teras rumah, Laras kecil hobi menonton sang ayah melukis. Dia duduk di teras yang berdebu, tanpa alas, mengenakan kaus dan celana jins lusuh hingga menjelang sore.
Saking asyiknya, Laras sampai enggan mandi sore. ”Kamu jangan jadi pelukis ya, Nduk. Nanti nggak pernah mandi,” ucap Laras yang menirukan pesan ayahnya. ”Padahal, ayah sendiri tidak mandi, kok saya disuruh mandi,” tambahnya, lalu tertawa.
Sembari menunggu sang ayah merampungkan lukisan, Laras melihat ibunya meratus batik. Lembaran kain batik dibentangkan di atas kurungan ayam yang di bawahnya sudah diberi ratus (campuran berbagai macam rempah seperti kayu manis, daun sirih, jeruk purut, dan bahan lain yang dibakar).
Itu salah satu cara untuk merawat kain batik yang dipraktikkan sang ibu. ”Ibu saya sangat menyukai batik. Bahkan, beliau memiliki banyak sekali koleksi batik lawas warisan nenek,” ucap perempuan kelahiran Tulungagung, 18 Agustus 1963, tersebut.
Tak heran, sejak kelas I SMP, Laras amat mengenal batik. ”Untuk anak perempuan, ibu selalu kasih kado ulang tahun batik. Kadang kalau belanja batik harus dobel. Untuk saya dan adik perempuan,” tuturnya.
Menurut Laras, sang ibu tidak pernah sekali pun melewatkan tradisi atau selametan yang dilakukan secara turun-temurun untuk lima anaknya. Di usianya yang 53 tahun, Laras masih menyimpan semua batik yang digunakan untuk berbagai macam upacara peringatan.
Ada batik Grompol asal Solo yang dikenakannya saat upacara tarapan, ketika haid pertama di usia 13 tahun. Koleksinya yang lain adalah batik Sidoluhur kenangan mododareni.
Ada juga batik Sidomukti untuk panggih manten dan Sidoasih Prada untuk dodot paes ageng Solo yang dikenakan saat resepsi pernikahan pada 1991. Semua batik wahyu tumurun itu dilipat rapi dan diberi label, lengkap dengan tahun upacara digelar.
Batik memang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Jawa mulai lahir hingga mati. Setiap corak batik memiliki makna dan mengandung nilai adiluhung.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
