alexametrics

Di Balik Dinding Pembuatan Antivenom Negeri Gajah Putih (1)

Bikin Peternakan Ular Berbisa di Belakang Laboratorium
5 April 2019, 17:58:03 WIB

Urusan antivenom, Thailand nomor wahid se-Asia. Sejak 1922 mereka meriset sekaligus memproduksi penawar racun ular. Di bawah payung Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI). Wartawan Jawa Pos Amri Husniati beruntung mendapat kesempatan langka. Mengintip pembuatan antivenom tersebut.

FOR PATRIA, for scientia, for humanitate. Moto dalam bahasa Latin yang berarti demi negara, demi pengetahuan, dan demi kemanusiaan itu tertulis besar-besar di dinding yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai 2 gedung Queen Saovabha Memorial Institute (QSMI).

Bangunan bergaya klasik di kawasan Pathumwan, Bangkok, itu menjadi ”markas” institusi yang merupakan bagian dari Palang Merah Thailand (The Thai Red Cross Society). Seperti misinya yang memadukan antara pengabdian, pengetahuan, dan kemanusiaan, di gedung tersebut aktivitas yang dilakukan bukanlah profit oriented.

Yang paling menonjol adalah pembuatan antivenom. Bukan hanya pusat riset, produksi penawar racun gigitan ular tersebut juga dilakukan dalam skala masal. ”Produksi kami mencapai 200 ribu vial per tahun,” jelas Prof Dr Sumana Khomvilai, deputy director technical and administrative affairs QSMI.

Untuk antivenom tersebut, Indonesia tertinggal jauh. Di negeri ini baru ada satu macam SABU (serum antibisa ular) polyvalen. Yang bisa untuk mengatasi gigitan tiga macam jenis ular. Yaitu, ular kobra, welang, dan ular tanah. Padahal, jenis ular berbisa di Indonesia mencapai 76 jenis.

Adapun Thailand, mereka sudah memiliki 7 antivenom monovalen dan 2 antivenom polyvalen. Yang monovalen digunakan untuk gigitan king cobra (Ophiophagus hannah), cobra (Naja kaouthia), banded krait (Bungarus fasciatus), malayan pit viper (Calloselasma rhodostama), russels’s viper (Daboia russeli siamensis), green pit viper (Trimeresurus albolaris), serta malayan krait (Bungarus candidus).

Wartawan Jawa Pos dan ular piton albino (JAWA POS PHOTO)

Sementara itu, yang polyvalen adalah neuro polyvalen (untuk king cobra, cobra, dan malayan krait) serta haemoto (untuk malayan pit viper, green pit viper, dan russel’s viper). Ular-ular jenis itu kebanyakan ditemukan di Asia dan Afrika.

Negeri Gajah Putih memang memberikan perhatian lebih untuk pengembangan pengetahuan. Untuk pembuatan antivenom, misalnya, mereka sudah melakukannya sejak hampir seabad lalu. Kini mereka memiliki laboratorium yang modern.

Ketika Jawa Pos mengunjungi Sterile Pharmaceutical Production Department itu, pegawai di sana mengenakan pakaian kerja biru. Tertutup penuh. Hanya menyisakan mata. Mereka bekerja di ruangan yang udaranya difilter berlapis. Tingkat kelembapannya sangat dijaga. Demikian pula suhunya.

”Kondisi mereka harus benar-benar sehat. Fit. Flu sedikit saja tidak boleh masuk,” tegas Lalida Skolpap, head of Sterile Pharmaceutical Production Department, yang menemani berkeliling.

Pegawai diminta bekerja dengan tenang, penuh kehati-hatian. Tidak boleh grusa-grusu. ”Work slowly,” ujar Lalida. Dalam sekali sif, mereka bekerja 4 jam saja.

Soal kesterilan memang sangat diutamakan. ”Karena manusia tidak akan terkontaminasi produk. Tapi, produk bisa terkontaminasi manusia,” tegasnya.

Dia lantas mencontohkan, ”Jika merasa akan bersin, harus cepat-cepat keluar ruangan. Jika hendak masuk ke ruangan lagi, harus berganti baju laboratorium, yang steril.”

Akses keluar-masuk ruangan itu pun sangat diperhatikan. Jangan bayangkan pintu ruang-ruang produksi industri antivenom tersebut seperti rumah kita. Yang tinggal putar handle pintu, kita sudah berada di luar ruangan. Demi menjaga kesterilan produk, ruang produksi antivenom didesain dengan sistem airlock. Ada ruang antara yang berfungsi sebagai buffer atau penyangga.

Jadi, ada dua pintu di sana. Cara bekerjanya, pintu harus dibuka bergantian untuk menjaga tekanan udara. Pintu seberang baru boleh dibuka untuk lewat jika pintu sisi masuk sudah tertutup.

Contoh lain yang menunjukkan keutamaan steril itu, pencucian barang atau alat laboratorium saja menggunakan purified water. Air yang kandungannya sudah dimurnikan dari mikroba maupun bahan pencemar lain.

Masih di satu kompleks, selain ruang-ruang produksi, QSMI punya peternakan ular sendiri untuk diambil bisanya. Berbagai jenis ular berbisa yang ada di negeri yang sedang menghelat pemilu tersebut dibiakkan. Misalnya, white-lipped pit viper, big-eyed pit vipet, dan siamese russel’s viper.

Menariknya, sebagian koleksi ular itu terbuka untuk umum. Warga lokal maupun turis mancanegara bisa datang untuk melihat ular-ular berbisa yang diletakkan dalam kandang tertutup dari kaca. ”Ini untuk mengedukasi masyarakat,” kata Dr Lawan Chanhome, head of Snake Farm.

Pengunjung dikenai tiket. Yang terhitung ramah di dompet. Yaitu, dewasa THB 200 (Rp 90 ribu) dan anak-anak THB 50 (Rp 22.500).

Tidak sekadar melihat koleksi ular, pada pukul 11.00 dan 14.30 ada pertunjukan. Selain mengenal jenis ular, pengunjung diberi tahu apa yang harus dilakukan jika berhadapan dengan hewan melata itu. Misalnya, usahakan diam. Jangan banyak bergerak. Juga, bagi orang awam, jangan pernah memegang ular dengan tangan kosong.

Sesi pertunjukan yang langka adalah melihat cara petugas memerah bisa ular untuk ditampung dalam wadah. Memerah? Iya. Racun ular diambil dari taringnya. Jelas, itu butuh keahlian tersendiri. Nanti, bisa tersebut disuntikkan ke tubuh kuda. Sistem kekebalan tubuh kuda akan menghasilkan antibodi pelawan bisa ular.

Nah, langkah berikutnya, darah kuda diambil untuk dijadikan serum. Sekali ambil, cukup 2 liter darah. Metode ular dan kuda ini ditemukan Albert Calmette, anak didik bapak vaksinasi dunia Louis Pasteur.

Karena di departemen produksi ini pembuatan antivenom dilakukan dari hulu ke hilir, di kompleks tersebut juga ada kuda. ”Kuda yang dipakai adalah kuda yang dipastikan sehat dan bebas dari antibiotika,” ungkap Lalida.

Koleksi kuda mereka mencapai 450 ekor. ”The horse is our princess. Karena itu, benar-benar dirawat. Tidak pernah ada kejadian kuda mati karena diinjeksi bisa ular. Dan kuda yang diinjeksi selalu diberi tanda,” lanjutnya.

Saat membicarakan kuda itu, Dr dr Tri Maharani MSi SpEm, pakar gigitan ular dan binatang berbisa lain dari Indonesia yang juga ikut dalam kunjungan ke QSMI itu, berbisik, ”Andai kata Indonesia punya pusat riset antivenom seperti ini, kita pinjam saja kuda Pak Prabowo. Koleksinya kan banyak. Pasti boleh,” ujarnya optimistis.

Belajar tentang ”perularan” saja kurang lengkap tanpa disertai selfie. Demi memuaskan hasrat itu, seluruh pengunjung yang bernyali diberi kesempatan untuk menggendong ular koleksi ”bonbin mini”. Tentu saja dicarikan ular yang berkode hijau alias tidak berbisa.

Yang jadi serbuan adalah ular piton albino. Berbobot setengah kuintal, ular berwarna kuning itu terasa makjleb ketika dipanggul. Serasa memanggul sekarung beras yang gedeee.

Tak ada lembaran baht yang dipungut dari pengunjung yang ingin berfoto. Pengunjung pun antre dengan tertib menanti giliran. Rampung selfie dengan si ular jumbo nan jinak, pengunjung wajib cuci tangan. Sudah disediakan wastafel yang dilengkapi sabun antiseptik.

Masih di area yang sama, pengunjung bisa melanjutkan wisata edukasi ke museum ular. Kendati sebutannya museum, kemasannya artistik. Jauh dari kesan membosankan. (bersambung)

Editor : Ilham Safutra