alexametrics

Congyang Itu seperti Kekuasaan, kalau Lebihi Batas ya Tumbang

2 Desember 2020, 12:30:45 WIB

Daerah-Daerah yang Akrab dengan Minuman Beralkohol (3)

Asal diminum sesuai dengan anjuran, congyang berkhasiat melancarkan peredaran darah dan membuat otot serta saraf rileks. Sudah satu dekade ini legal dan biasa dijadikan buah tangan.

AGAS PUTRA HARTANTO, Semarang, Jawa Pos

HUJAN baru selesai mengguyur malam itu. Semarang yang biasanya berhawa menyengat menjadi lumayan dingin.

Waktu yang tepat bagi Supriyadi untuk menghangatkan diri. Dua botol congyang Cap Tiga Orang ada di hadapannya. ’’Monggo coba, di badan anget. Virus Covid-19, bakteri apa pun, wis bablas,’’ kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang itu kepada Jawa Pos yang menemuinya pada Selasa malam pekan lalu (24/11).

Supriyadi mengakrabi congyang sejak duduk di bangku SMP.

Dia menceritakan sambil terkekeh bagaimana dirinya pernah sampai diskors sekolah. ’’Ketahuan minum congyang saat istirahat pelajaran,’’ katanya, lantas tergelak.

Tapi, pria yang kini berusia 50 tahun itu tak kapok. Bagi dia, minuman khas Semarang yang sekarang sudah legal tersebut berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah dan membuat otot serta saraf rileks. Asal diminum sesuai dengan anjuran.

Namun, jika melebihi dosis yang dianjurkan, congyang dapat memabukkan. ’’Congyang itu kayak kekuasaan. Jika dinikmati sesuai dengan ukuran, akan nyaman dan menyehatkan. Tapi, kalau melebihi batas ukuran, ya tumbang dan tidak sadar,’’ ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Awal mula congyang diracik Koh Tiong, esensinya adalah sebagai jamu kesehatan. Khususnya untuk meningkatkan kejantanan atau keperkasaan bagi pria. Mengonsumsinya cukup satu sampai dua seloki (gelas kecil).

Rasanya segar, hangat, agak pekat, dan menghantam. Juga meninggalkan aroma harum setelah diteguk.

Koh Tiong merupakan pewaris generasi peracik obat berdarah Tionghoa yang menetap di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Congyang kali pertama diproduksi di sebuah rumah. Tepatnya di sebelah Kelenteng Siu Hok Bio, Jalan Wotgandul Timur, Kranggan. Sentra daerah pecinan di pusat kota Semarang. Kini rumah tersebut berganti menjadi ruko yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga.

Supriyadi ingat, tempat langganannya membeli congyang ada di prapatan (perempatan) Citarum. Di pedagang kaki lima yang menggunakan gerobak dorong. Namun, seiring berjalannya waktu, pemerintah menertibkan mereka. Terakhir sekitar 1998.

Congyang merupakan evolusi dari minuman beralkohol (mihol) merek A Djong yang moncer di Semarang era 1970-an. Kadar alkoholnya mencapai 35 persen.

Namun, lambat laun mihol A Djong ditinggalkan pembeli. Sebab, rasanya yang terlalu panas kurang bersahabat di lidah, tenggorok, dan perut. Mirip seperti arak Tiongkok.

Baca juga: Di Desa Sukadana, Menolak Minum Brem Dianggap Tidak Sopan

Sebagai penerus, Koh Tiong melakukan riset dan inovasi ramuan baru. Terdiri atas fermentasi beras putih, gula pasir, aroma perisa kopi moka, karmoisin, tartrazin, dan biru berlian. Racikan itu lantas diproduksi dan dilempar ke pasaran pada 1980.

Semula distribusi congyang dikemas dengan menggunakan besek dari bambu. Dalamnya diberi pengaman dari dami (batang padi kering) agar botol tidak pecah bila terbentur. Di kemasan botol tersebut tertulis congyang dengan gambar logo anak kecil yang diapit raja dan ratu.

Namun, logo kembali diubah dengan gambar tiga dewa. Hingga berubah lagi menjadi logo tiga orang yang dikenal luas saat ini.

Bagi para penikmatnya, congyang adalah air kedamaian yang sedikit manis, tapi menghangatkan. Minuman merakyat, dikonsumsi semua kalangan.

’’Mulai tukang becak, kuli, pengusaha, seniman, sampai artis atau band Jakarta itu oleh-olehnya congyang. Nggak cuma lumpia, roti ganjel rel, atau bandeng presto,’’ beber Pak Pri, sapaan akrab Supriyadi.

Begitu pula dirinya. Dia selalu membawakan congyang sebagai buah tangan ketika melakukan kunjungan ke luar kota.

Supriyadi mengaku punya trik untuk mengatasi aroma congyang yang kuat setelah diminum. Dicampur dengan kopi.

Namun, dia tidak menyarankan bagi orang yang memiliki sakit jantung. ’’Karena congyang ini bikin aliran darahnya naik,’’ imbuhnya.

Peredaran congyang legal sejak 2010. Terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan serta tercatat sebagai komoditas cukai. Namun, congyang memang dibatasi lantaran memabukkan jika dikonsumsi berlebihan.

Meski sudah legal, peredaran mihol tersebut diawasi dengan ketat oleh Pemerintah Kota Semarang. Masuk kategori mihol golongan B karena mengandung 19,66 persen alkohol.

Supriyadi tidak menampik banyak warga Kota Lumpia, khususnya anak-anak muda, yang mengonsumsi congyang tidak sesuai dengan aturan dan berlebihan. Malah ada yang dicampur dengan minuman alkohol lain.

’’(Dicampur) apa pun itu tidak bagus. Pertama merasa wah kok enak, akhirnya minum tanpa terkendali,’’ ungkapnya.

Soal Rancangan Undang-Undang (RUU) Mihol, Supriyadi menuturkan boleh dibuat regulasi asal tidak mematikan industri. Sebab, peredaran mihol sudah diatur melalui peraturan daerah (perda). Tidak dijual di sembarang tempat. Konsumennya juga kalangan terbatas. Turis asing, misalnya.

’’Masing-masing daerah sudah punya perda, ya serahkan saja ke pemerintah daerah untuk mengatur itu. Jika diawasi berlebihan, bukan tidak mungkin berdampak buruk ke sektor pariwisata,’’ terangnya.

Menurut dia, industri congyang di Semarang memiliki potensi ekonomi yang besar. Tidak kalah dengan Bali. Apalagi, congyang memiliki nilai akulturasi budaya yang menjual.

Managing Director Institute of Developing Economies and Entrepreneurship Sutrisno Iwantono juga menganggap RUU Mihol justru memicu masalah lain terkait dengan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Sebab, mengonsumsi minuman beralkohol adalah bagian dari gaya hidup mereka.

’’Kalau hotel-hotel tidak boleh menyediakan itu, ya susah. Kan kita tidak mau juga menjual mihol di sembarang tempat. Gimana orang mau datang? Di Malaysia saja boleh,’’ kata ketua kebijakan publik Asosiasi Pengusaha Indonesia itu.

Congyang, kata Dany Siswanto, warga Petolongan, Semarang, juga berfungsi sebagai alat perekat persaudaraan warga kota. Selama satu dekade ini congyang juga bisa dibilang naik kelas.

Mulai dijual di beberapa diskotek dan tempat-tempat karaoke. Harga jualnya Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per botol.

’’Lebih gampang nemu daripada dulu yang jualannya harus ngumpet-ngumpet,’’ katanya.

Senin malam (30/11) Jawa Pos menyambangi salah satu band indie Semarang, Rubber Heat. Seusai latihan, mereka memilih nongkrong di pelataran studio.

Dua botol congyang menjadi teman mereka. Minumnya pun bergiliran dengan menggunakan satu gelas. ’’Ben (biar) hemat,’’ ujar Abdulrozzaq, gitaris Rubber Heat.

Maklum, kata Cebok, sapaan akrabnya, harga congyang melambung tinggi setelah terdaftar cukai. Padahal, sebelumnya bisa didapat dengan harga Rp 9 ribu hingga Rp 15 ribu per botol.

Tapi, bagi Gading Angga, gitaris Rubber Heat lainnya, harga congyang tetap lebih bersahabat ketimbang mihol lain. ’’Rasanya juga mantap, sedikit pahit, tidak terlalu manis, dan membuat tidur nyenyak,’’ katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c19/ttg


Close Ads