
INOVASI: Dokter Niko Azhari Hidayat SpBTKV (K), dosen FTMM Unair, menunjukkan aplikasi MTI buatannya.
Lewat aplikasi MTI, Niko berupaya menggabungkan antara layanan kesehatan dan pariwisata. Pasien mendapatkan layanan lengkap, mulai penjemputan, trip wisata, hingga diantar ke tempat asal.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
SEJUMLAH rumah sakit, klinik, hingga laboratorium kini mulai memakai aplikasi Medical Tourism (medicaltourism.id). Inovasi yang digagas oleh dr Niko Azhari Hidayat SpBTKV (K), dosen FTMM Unair, itu mampu menghubungkan masyarakat dengan fasilitas unggulan yang dimiliki oleh faskes tersebut.
Konsep aplikasi Medical Tourism Indonesia (MTI) adalah pengobatan untuk menyembuhkan penyakit yang disertai dengan kegiatan wisata. Platform tersebut menawarkan pelayanan komprehensif, mulai penjemputan wisatawan medis, ketersediaan akomodasi, pengantaran ke fasilitas medis, trip wisata pemulihan, hingga kembali ke tempat asal.
”Aplikasi ini sudah beberapa kali menerima pasien-pasien. Banyak dari mereka yang bertanya untuk mencari informasi tentang layanan kesehatan unggulan,” ujar Niko.
Tidak hanya layanan kesehatan unggulan di Surabaya, platform tersebut juga menjangkau hingga luar provinsi. Program MTI terdiri atas empat hal. Pertama, medical tourism (kedokteran yang berkeunggulan).
Kedua, herbal dan wellness tourism (pengobatan tradisional, kebugaran, spa, dan lain-lain). Ketiga, health science tourism (wisata medis berbasis ilmu kesehatan). Keempat, sport health tourism (kedokteran olahraga).
Saat ini MTI sudah menjalin kerja sama dengan berbagai rumah sakit di Indonesia. Beberapa di antaranya RS Awal Bros Group, RS Siloam, RS Mitra Keluarga, dan lain-lain.
”Setelah pandemi Covid-19 mulai mereda, beberapa rumah sakit bergabung dan menandatangani memorandum of understanding (MoU). Sebab, negara tetangga mulai berpromosi untuk menarik minat masyarakat berobat ke negaranya,” ujarnya.
Selain mengembangkan aplikasi secara nasional, Niko juga ingin MTI bisa menjadi ikon secara global. Salah satunya, menggelar Global Health Tourism pada awal tahun. Saat itu, kegiatan dibuka langsung oleh Menteri Pariwisata, Ekonomi, Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.
”Di acara tersebut, kami menghadirkan pembicara dari berbagai negara. Termasuk, kami mengolaborasikan para penggiat medical tourism di Indonesia,” jelasnya.
Niko mengatakan, medical tourism Indonesia tidak hanya berupa aplikasi di Android, tetapi juga memperluas jangkauan hingga di atas rata-rata. Harapannya, MTI bisa menggairahkan setiap lini. Termasuk bayi tabung yang merupakan health science tourism.
’’Masyarakat bisa tahu bahwa Indonesia memiliki klinik bayi tabung dengan teknologi yang maju. Tidak kalah dengan negara lain,” kata dia. (*/c6/aph)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
