
DESA "DI ATAS" LAUT: Suasana permukiman warga yang terisolasi rob permanen di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak (18/4).
Tak Ada Lagi Anak-Anak yang Main Bola di Depan Rumah
Di Timbulsloko yang dilumat abrasi, halaman serta tanaman hilang, rumah-rumah terus ditinggikan, dan jembatan yang cuma muat satu orang menyulitkan memakamkan yang meninggal.
FERLYNDA PUTRI, Demak
---
DI depan rumah Rusika di Demak, Jawa Tengah, air laut menggenang sepanjang tahun. Abrasi mengisolasi 170 kepala keluarga di sana.
Timbulsloko, nama desa tempat Rusika tinggal, memang berada di tepi laut. Sekitar 20 kilometer dari kantor bupati Demak dan 24 kilometer dari kantor gubernur Jawa Tengah. Serta tak jauh dari jalur pantai utara (pantura) Jawa yang sibuk menggerakkan ekonomi.
Namun, akses ke Timbulsloko betapa tak mudah. Kalau mau ke sana, harus datang sebelum pukul 15.00 kalau tak mau menerjang air pasang yang biasanya setinggi lutut orang dewasa.
Kalau pakai mobil, diparkir di luar desa. Sepeda motor tak bisa masuk ke setiap rumah. Rumah salah seorang warga yang lebih jauh dari laut dan biasanya tak terendam air pun dijadikan tempat parkir. Tarifnya mencapai Rp 2.000.
”Dua rumah yang besar itu ditinggal sama pemiliknya,” kata Rusika sambil menunjuk ke dua rumah yang tampak kosong.
Kenapa tak diberikan saja kepada tetangga? ”Kalau diberikan, tidak ada yang mau. Soalnya, kami juga punya rumah yang setiap tahun pasti butuh perbaikan,” ujar perempuan 42 tahun tersebut kepada Jawa Pos yang menemuinya sekitar sebulan lalu.
Maladewa, begitu orang-orang menyebut Timbulsloko, mengacu pada negara kepulauan di Samudra Hindia yang juga terancam abrasi. Bentuk rumah-rumah yang masih berpenghuni di desa tersebut tak lazim. Sebab, pintunya lebih pendek daripada rumah pada umumnya. Maklum saja, lantai rumah mereka sudah ditinggikan beberapa kali.
Abrasi menjadi problem besar di sepanjang pantura Jawa. Di Kabupaten Jepara, juga di pantura Jawa Tengah, misalnya, bibir Pantai Beringin bergeser 50 meter ke daratan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempuh sejumlah langkah mitigasi. Salah satunya, memperluas hutan mangrove di sepanjang pesisir pantura. Selain itu, sisa abu pembakaran batu bara PLTU milik PLN yang dijadikan tetrapod dimanfaatkan sebagai pemecah gelombang laut.
Rumah Rusika sudah dua kali ditinggikan. Buntutnya, Jawa Pos harus menundukkan kepala saat harus melewati pintu rumahnya.
Rumahnya berlantai kayu. Tentu di bawah lantai itu adalah air asin. Kamar mandi dan dua kamar tidur juga memiliki pintu yang pendek. ”Untuk air mandi, kami menampung air hujan. Dulu ada sumur bor dekat sini, tapi mati,” ungkapnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
