Antusiasme warga kelurahan Bandangarjo kota Semarang mengikuti kegiatan cek kesehatan gratis, Jumat (18/7/2025). (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
Hari Pertama CKG Pelajar: Ada Siswa yang Takut Tes Darah, Yang Obesitas Tidak Boleh Makan Fast Food
Pada Senin (4/8) pemerintah melakukan pelaksanaan awal program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Untuk kali ini CKG menyasar siswa SD hingga SMA. Pejabat di Kabinet Merah Putih disebar di 12 sekolah untuk melihat langsung pelaksanaan hari pertama. Target pemerintah ada 53,8 juta siswa mendapatkan manfaat program tersebut.
FERLYNDA PUTRI, Tangerang Selatan
Baradatu Aulia Akbar sedikit ciut ketika membaca petunjuk “pemeriksaan darah” di meja petugas kesehatan. Dia tahu di benda mirip pulpen atau kerap disebut pen lancet ada jarum kecil untuk menusuk telunjuk atau jari tengah. Ternyata kenyataannya tidak seburuk itu. Menurut siswa kelas X SMAN 6 Tangerang Selatan itu, rasanya seperti digigit semut.
“Minggu lalu orang tua dapat informasi lewat WA (WhatsApp) kalau ada pemeriksaan kesehatan” kata siswa yang akrab disapa Bara itu. Ini memang prosedur untuk CKG siswa, orang tua atau wali murid harus menyetujui apakah anaknya boleh mengikuti tes kesehatan atau tidak.
Dalam CKG untuk sekolah, ada 13 sampai 15 komponen pemeriksaan, tergantung jenjang pendidikan. Karena sudah SMA, Bara mendapatkan 14 jenis pemeriksaan kesehatan. Yakni status gizi, merokok, tingkat aktivitas fisik, tekanan darah, gula darah, tuberkolosis, dan talasemia. Dia juga menjalani pemeriksaan anemia, kesehatan telinga, mata, gigi, kejiwaan, hati, dan reproduksi.
“Saya memang mau ikut karena biar bisa tahu berat badan, tinggi, kesehatan mata dan telinga,” ucap anak usia 15 tahun itu. Dari pemeriksaan ini catatan untuk Bara adalah menjaga makanan. Dia tidak boleh makan fast food dan yang berlemak. Sebab Bara diketahui obesitas dengan berat badan 93 kg dan tinggi 167 cm.
Menurut pantauan Jawa Pos di SMAN 6 Tangerang Selatan tidak ada anak yang harus dibujuk untuk mengikuti CKG. Mereka rapi duduk mengantre pemeriksaan kesehatan. Selain Bara, ada Celsi Ramadani yang mengikuti tes ini. Sama seperti Bara, tes gula darah menggunakan pen lancet membuatnya takut. “Tapi tidak sakit. Saya dapat catatan soal gigi, harus jaga kebersihan,” katanya.
Jenis pemeriksaan CKG sekolah memang berbeda dengan kelompok umur lain. Pada pemeriksaan ini tidak perlu pengambilan darah yang banyak yang biasa digunakan untuk tes laboratorium. Selain itu, dalam CKG sekolah ada pemeriksaan kesehatan jiwa melalui kuisioner. Ada tes kebugaran dengan tingkat aktivitas fisik. Tes ini akan dibantu oleh guru pendidikan jasmani di setiap sekolah. Pada kelas 1 SD akan dilihat riwayat imunisasi dan siswi kelas IX SMP akan ditanya imunisasi HPV.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi yang meninjau SMAN 6 Tangerang Selatan mendapatkan temuan menarik. Banyak siswa yang mengalami masalah gigi. “Ada juga dua anak yang saya lihat langsung tekanan darahnya tinggi. Di atas 140 malah,” ucapnya. Dia menyebutkan bahwa temuan awal ini bisa ditindaklanjuti.
Hasan menegaskan bahwa CKG berfungsi untuk mendeteksi sejak dini. Ketika ada penyakit yang membutuhkan perawatan lebih lanjut maka dapat ditangani lebih cepat.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Asnawi Abdullah menegaskan bahwa CKG adalah pintu masuk untuk budaya hidup sehat. Selain itu juga menjadi tempat screening kesehatan. Selama ini kemenkes hanya memiliki data dari orang-orang yang sakit. Jika CKG ini sukses, maka dapat memotret kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. “Kita belum punya data sebesar ini untuk seluruh penduduk Indonesia. Selama ini yang kita punya yang sakit, yang datang ke puskesmas,” ungkapnya.
“Indonesia mengalami tren berat badan naik, obesitas. Terutama di kota-kota,” ucap Asnawi. Hasil screening CKG ini menurutnya baik untuk siswa karena mengetahui kondisi kesehatannya dan mengontrol agar tidak menjadi sakit. Dia menyebutkan bahwa di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia ada laporan kondisi kesehatan siswa. “Sekolah ada rapor akademik, juga memiliki rapor kesehatan,” imbuhnya.
Beda lagi dengan CKG di SDN Cideng 02, Jakarta Pusat. Jika CKG di tempat lain langsung fokus pada pemeriksaan, maka di SDN Cideng 02 ini agak beda. CKG justru diawali dengan kegiatan senam pagi bersama. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bahkan sempat bernyanyi bersama para murid di sana.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
