Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 November 2016 | 23.10 WIB

Bila Mahasiswi Italia Kunjungi Masjid Muhammad Cheng Hoo, Kagumi Anak-Anak dengan Toleransi Tinggi

TEMAN KULIAH: Rossella Nicoletti (kanan), Fikri Sasongko, dan Wiharjo Hadisuwarno berpose bareng pengurus takmir Masjid Cheng Hoo. - Image

TEMAN KULIAH: Rossella Nicoletti (kanan), Fikri Sasongko, dan Wiharjo Hadisuwarno berpose bareng pengurus takmir Masjid Cheng Hoo.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya menjadi salah satu jujukan wisata religi di Surabaya. Arsitekturnya yang khas Tionghoa, tetapi dibangun di Surabaya membuat para pengunjungnya terkagum-kagum.





SALMAN MUHIDDIN





ROSSELA Nicoletti memasang kerudung yang terkalung di lehernya. Pelan, tetapi pasti, dia lantas memasuki Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya. Baru kali ini dia masuk masjid.



Mahasiswi kewarganegaraan Italia yang menjalani pertukaran pelajar di FK Unair itu beberapa kali mendongakkan kepalanya untuk melihat arsitektur masjid yang lebih mirip kuil tersebut.



’’Terasa aneh. Seperti bukan di Indonesia,’’ ujar perempuan yang baru dua pekan tinggal di Surabaya itu. Dia menyatakan selama ini hanya mengetahui bahwa masjid mempunyai kubah dan menara.



Tulisan yang terpampang juga tulisan Arab, bukan aksara Tionghoa. Sebelum berkunjung ke sana, dia baru saja mengunjungi Kelenteng Sanggar Agung di Kenjeran Park.



Karena itu, jangan heran bila komentarnya tidak jauh dengan yang dilihatnya. ’’Lebih mirip Sanggar Agung ketimbang masjid,’’ kata perempuan berambut pendek tersebut.



Nicolleti semakin terheran ketika melihat anak-anak kecil bermain basket di depan masjid. Baru kali ini dia melihat tempat ibadah dilengkapi sarana olahraga.



Anak-anak itu berhenti bermain basket saat azan asar berkumandang. ’’Mereka sangat toleran,’’ ucapnya. Selama di Surabaya, dia mengaku rindu kampung halamannya di Cecilia.



Dia rindu ibunya. Namun, dia belum puas menikmati Surabaya meski sudah berkunjung ke banyak tempat seperti Kenjeran Park, Jembatan Suroboyo, dan Museum House of Sampoerna.



’’Saya ingin pulang, tapi betah di sini. Serba salah,’’ ungkapnya, lalu meringis. Nicolleti mengaku diajak teman satu kampusnya, Wihardjo Hadisuwarno, ke Masjid Muhammad Cheng Hoo.



Mereka mengikuti tur rombongan kursus bahasa Mandarin Shin Hwa High School (SHHS) Surabaya. Di tempat itu, Wihardjo juga ikut kursus.



Kepala Sekolah SHHS Bambang Tjahjadi menuturkan, kunjungan tersebut dilakukan kali pertama. Dia ingin menunjukkan bahwa saat ini Indonesia hidup dalam kebhinekaan.



’’Cheng Hoo juga Tionghoa. Dia saudara kami juga meski kami berbeda agama,’’ jelasnya.



Ketua Harian Masjid Muhammad Cheng Hoo Hasan Basri menyatakan, semua orang diterima di masjid yang mulai dibangun pada 15 Oktober 2001 itu, tidak memandang agama.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore