Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juni 2024 | 20.14 WIB

Ketika Siswa Sekolah Alam Pacitan Menginap di Desa, Berkemah sembari Menjaga Lingkungan, dan Menjelajah Alam

PEDULI LINGKUNGAN: Suasana syukuran di Sekolah Alam Pacitan setelah masuk Top 10 World - Image

PEDULI LINGKUNGAN: Suasana syukuran di Sekolah Alam Pacitan setelah masuk Top 10 World

Model pembelajaran di Sekolah Alam Pacitan berupa penguatan materi ajar, penguatan di teknologi informasi, dan praktik langsung. Orang tua siswa juga ikut dilibatkan dalam inovasi yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.

SUCI OKTA, Pacitan

---

SATU hari, para siswa Sekolah Alam Pacitan, Jawa Timur, diajak Sindeso, semacam belajar langsung dengan menginap di desa. Kali lain, mereka green camp, berkemah sembari menjaga alam sekitar. Dan, di hari yang lain lagi mereka tracking atau menjelajah.

Aksi-aksi lingkungan seperti itulah yang akhirnya turut mengantarkan sekolah yang memiliki 208 murid tersebut ke pengakuan internasional. Pekan lalu sekolah yang berada di kawasan Jalan Brawijaya, Pacitan Kota, itu masuk shortlist (daftar pendek) Top 10 World’s Best School Prize for Environmental Action 2024.

Untuk bisa masuk top 10 itu tidak mudah. Harus bersaing dengan ribuan sekolah di seluruh dunia. Adapun sembilan sekolah lain di kategori yang sama dengan Sekolah Alam Pacitan berasal dari 10 negara berbeda. Di antaranya, Axular Lixeoa (Spanyol), Dubai International Academy Emirates Hill (UEA), dan Dulwich College (Singapura).

Adapun World’s Best School Prizes didirikan oleh T4 Education bekerja sama dengan Accenture, American Express, dan Lemann Foundation. T4 Education merupakan platform global yang menyatukan sekitar 200 ribu guru dari 100 negara untuk mentransformasi pendidikan.

Ada lima kategori World’s Best School Prize. Yaitu, Kolaborasi Komunitas, Aksi Lingkungan, Inovasi, Mengatasi Kesulitan, dan Mendukung Kehidupan yang Sehat.

’’Kami ambil tema aksi lingkungan sesuai dengan visi dan misi sekolah,’’ tutur Kepala Sekolah Alam Pacitan Bangun Narutama kepada Jawa Pos Radar Madiun yang menemuinya di sela syukuran atas pencapaian tersebut di Pacitan pada Jumat (14/6) pekan lalu.

Sekolah Alam Pacitan adalah sekolah dasar yang berada satu kompleks dengan pendidikan anak usia dini. Untuk menunjang pembelajaran, sekolah tersebut memiliki sawah serta kebun dengan luas total sekitar 400 meter persegi.

Menurut Bangun, model pembelajaran di sekolah dasar yang berdiri sejak 2008 itu adalah penguatan materi ajar, penguatan di teknologi informasi, dan praktik langsung. ”Ada empat pilar dalam pendidikan di sekolah kami. Pertama akhlakulkarimah, kedua logika pengetahuan, ketiga leadership atau kepemimpinan, dan keempat wirausaha,” terang Bangun.

Kepada para siswa, misalnya, diajarkan dengan praktik langsung bagaimana mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah. Juga, bagaimana melakukan daur ulang serta membuat kompos dan pestisida alami.

Adapun inti dari pendekatan pendidikan Sekolah Alam Pacitan adalah program laboratorium hijau. Ini melibatkan siswa dalam kegiatan seperti pertanian organik dan pengelolaan limbah yang berkelanjutan.

Di antara inovasi yang telah diterapkan Sekolah Alam Pacitan adalah pengurangan penggunaan kertas sampai 72 persen. Juga penghematan energi melalui pencahayaan alami serta sistem daur ulang air. Inisiatif-inisiatif tersebut secara kolektif mereduksi jejak karbon sekolah dan di saat yang sama menambah pengetahuan para siswa.

”Pembelajaran langsung ini memastikan bahwa siswa tidak hanya memahami, tetapi juga menerapkan prinsip-prinsip ekologi setiap hari,’’ jelasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore