Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juni 2024 | 18.17 WIB

Kawasan Cagar Budaya Muarajambi, Dulunya Kawasan Kosmopolitan Tempat Orang Datang untuk Belajar

MERAWAT TRADISI: Balok kayu bulian dimasukkan ke dalam galian untuk kemudian dipakaikan kain dan dirias. - Image

MERAWAT TRADISI: Balok kayu bulian dimasukkan ke dalam galian untuk kemudian dipakaikan kain dan dirias.

Untuk mendukung revitalisasi, bakal ada museum di Cagar Budaya Muarajambi yang tidak hanya mendisplai barang, tapi juga dilengkapi laboratorium tempat belajar berbagai bidang ilmu.

ZALZILATUL HIKMIA, Jambi

---

TERIK matahari tak mengurangi kekhidmatan suasana di area Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi, Jambi.

Samar, suara alunan musik tradisional terdengar dari gambang gendang dan kelintang kayu yang dimainkan para petugas adat di lokasi.

Musik tersebut menandai dimulainya prosesi Tegak Tiang Tuo dalam pembangunan Museum KCBN Muarajambi pada Rabu (5/6) siang lalu. Perlahan, para petugas syara’, pemangku adat, datuk kepala desa, alim ulama, cerdik pandai, dan tuo tengganai memasuki area tengah sembari menggotong balok kayu Bulian yang cukup besar.

Panjangnya kurang lebih 4 meter. Sesuai adat setempat, kayu ini biasanya diletakkan di tengah lokasi bangunan dan berukuran lebih besar dari tiang-tiang lainnya. Kedatangan mereka kemudian diikuti dengan pembawa cecokot yang terdiri atas tapak kuda, tahi angin, tahi besi, emas, perak, garam, dan setabun tawar.

Prosesi Tegak Tiang Tuo, menurut pemangku adat Desa Danau Lamo Ismail Ahmad, merupakan tradisi yang diwariskan turun-temurun di Desa Danau Lamo. ”Biasanya, prosesi dilakukan ketika akan membangun rumah atau bangunan lainnya,” katanya.

Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hilmar Farid, prosesi itu sangat penting sebagai langkah awal untuk melindungi dan mengkaji warisan budaya Muarajambi. ”Ini utamanya adalah kami sedang merekonstruksi peradaban sebagai sumber inspirasi kita ke depan,” tuturnya.

MERAWAT TRADISI: Hilmar Farid mengikuti prosesi tradisi Tegak Tiang Tuo dengan meletakkan perak, salah satu unsur cecokot, ke dalam lubang yang akan ditanam balok.

KCBN Muarajambi diperkirakan dibangun pada abad ke-6 dan dihuni masyarakat hingga sekitar abad ke-13. Selaras dengan periode kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang saat itu tengah menguasai perdagangan dan kebudayaan di Asia Tenggara.

Masa 600 tahun itu pun, menurut Hilmar, bukanlah waktu singkat. Tak heran, banyak sekali peninggalan sejarah yang ditemukan di area seluas 4.000 hektare tersebut. Setidaknya, ada 115 situs percandian dan lebih dari 3.000 koleksi yang berhasil ditemukan saat ini.

Dari kajian yang telah dilakukan, KCBN Muarajambi ini ternyata bukan sebatas tempat yang digunakan untuk kepentingan spiritual. Tapi, juga pusat pendidikan di masa lalu.

Hilmar bahkan menyebut, kawasan itu cukup kosmopolitan di zamannya. Hal ini tergambar dari temuan-temuan yang ada. Mulai dari riasan emas, patung andesit, hingga keramik dari Tiongkok.

Tak heran, saat itu banyak orang dari berbagai tempat di Asia yang belajar bahasa Sanskrit hingga mendalami agama Buddha. ”Itu menandakan situs ini berinteraksi dengan daerah luar cukup intens,” ungkapnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore