
SENI YANG TERABAIKAN: Martha, seorang pengujung, melintas di deretan foto bagian relief-relief Sarinah yang patah, retak, dan tergores dalam pameran Relief Era Soekarno di Galeri Salihara, Jaksel.
Para seniman yang terlibat harus bekerja keras menciptakan ulang relief-relief yang sebagian rompal dan patah. Era relief sengaja ditampilkan kembali untuk mengisi khazanah karya seni yang kini didominasi lukisan.
EDI SUSILO, Jakarta
---
PENAMBANG pasir, nelayan, pekerja berbadan kekar, emak-emak menyunggi keranjang, pohon kelapa, dan pepaya. Gambaran riuh aneka orang itu terpampang dalam relief ’’Manusia Indonesia’’ karya S. Soedjojono.
Semua tersorot ke dinding dari pancaran sinar proyektor berukuran 25 x 3 meter di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, pada Sabtu (11/5) dua pekan lalu. Karya ikonik seniman kelahiran 14 Desember 1913 itu adalah satu dari enam relief lainnya karya para silpin (pembuat relief) yang terpajang dalam pameran ’’Relief Era Bung Karno’’.
Selain Soedjojono, ada pula karya Harijadi Sumadidjaja dan Surono.
’’Manusia Indonesia’’ yang dulunya dipahat di eks Bandara Kemayoran, Jakarta, itu sudah rompal di beberapa bagian. Juga mengalami keretakan lantaran tak terurus setelah kesibukan Kemayoran berpindah ke Bandara Soekarno-Hatta.
Di ruang pameran, terpampang pula gambaran relief yang dimunculkan dalam patung bentuk tiga dimensi (3D) dengan tinggi 40 sentimeter dan panjang 2,2 meter. Berwujud 15 orang berbaris yang memakai caping dengan tangkapan ikan yang dibuat berdasar gambaran relief Sarinah yang sampai sekarang belum diketahui karya silpin siapa.
’’Kami membuatnya selama dua bulan. Bersama lima orang,’’ kata pematung Nus Salomo kepada Jawa Pos.
Tantangan terberatnya, lanjut Nus, dia ingin cetakan 3D printer Sarinah sama persis dari relief aslinya yang memiliki panjang 15 meter dengan tinggi 3 meter tersebut. Nus bersama timnya pun harus memotret hingga ratusan kali sebelum antarprotret itu disambung dan menjadi gambar utuh.
Bukan hanya itu, mereka juga harus mampu berimajinasi untuk menciptakan gambaran relief secara utuh. ’’Karena beberapa bagian relief sudah patah. Kami harus mengira-ngira,’’ ujarnya seraya tertawa.
Era relief sengaja ditampilkan kembali untuk mengisi khazanah karya seni yang kini didominasi lukisan. Diambil dari enam titik di empat provinsi, terpatri dalam ruang hotel, bandara, sampai plaza di rentang 1957–1965.
Para seniman yang tergabung dalam pameran itu pun bekerja keras menciptakan ulang era seni rupa yang bisa dikata hilang itu. ’’Basis pameran ini sebenarnya adalah fotografi,’’ ucap kurator pameran Asikin Hasan.
Dari foto, kemudian didigitalisasi dan diolah untuk ditampilkan semirip mungkin dengan bantuan proyektor. Ditampilkan dengan ukuran 1:1 dari relief aslinya.
Pameran yang digelar hingga 9 Juni mendatang itu menampilkan karya-karya para silpin papan atas era Bung Karno. Yang tak hanya mahir dalam karya seni lukis, tetapi juga piawai dalam menciptakan relief, cabang seni yang gaungnya kalah pamor dengan seni lukis itu sendiri.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
