Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 November 2016 | 16.45 WIB

Ini Kisah Bledheg Sangheta, Warga Kampung Anak Negeri Dinas Sosial, Jawara Tinju Piala Wali Kota Surabaya

Bledheg Sangheta - Image

Bledheg Sangheta

Kampung Anak Negeri binaan Dinas Sosial Surabaya sering mencetak anak berprestasi. Salah satunya Bledheg Sangheta. Cowok 17 tahun itu adalah juara tinju kelas ringan Piala Wali Kota Surabaya.





THORIQ SOLIKUL KARIM





SEPASANG sarung tinju warna merah melingkar di leher Bledheg Sangheta saat Jawa Pos menemuinya di asrama Kampung Anak Negeri, Rabu (16/11).



Singlet merah yang dikenakannya pun masih kering. Belum ada noda keringat sama sekali. Bledheg sedang duduk sembari memasang hand wrap di tangannya.



’’Ini salah satu bagian dari persiapan menuju latihan,’’ ucapnya. Hand wrap merupakan kain panjang yang digunakan untuk membalut tangan dan jari petinju. Ia dikenakan sebelum sarung tinju.



Benda itu termasuk pelindung jari dan tangan. Tanpa hand wrap, kulit jari petinju bisa robek saat memukul lawan. Lebih dari 15 menit Bledheg memasang hand wrap di kedua tangannya.



’’Harus telaten,’’ katanya. Setelah terpasang, siswa kelas X SMKN 10 Surabaya itu mengenakan sarung tinju miliknya.



Sarung tinju tersebut merupakan hadiah dari pembina Kampung Anak Negeri atas keuletannya dalam mendalami tinju.



’’Saya tidak tahu harganya. Yang jelas, sarung tinju itu benda berharga bagi saya,’’ ujarnya. Semua sudah terpasang. Bledheg pun memulai latihan kemarin siang.



Jenis-jenis pukulan dalam tinju pun dia praktikkan. Misalnya, hook atau pukulan kait. Pukulan itu cukup ampuh digunakan dalam pertarungan jarak dekat.



Tangan dipukulkan mengayun membentuk kait hingga menghantam bagian samping kepala atau badan musuh. Kalau pas, jurus itu juga jitu sebagai bagian pertahanan.



’’Saya favorit dengan pukulan ini,’’ ujarnya di sela-sela latihan. Tentu, pukulan lain juga dia praktikkan. Di antaranya, jab, long hook, straight, low blow, dan cross.



Sulung dua bersaudara itu memadukan teknik, kecepatan, dan tenaga. Tidak lebih dari 15 menit, keringat mulai mengucur. Singlet warna merah mulai basah. Napasnya sedikit tersengal-sengal.



’’Saya rutin melakukannya setiap hari,’’ ungkapnya. Dia bersyukur bisa menemukan semangat menuju masa depan. Paling tidak, Bledheg yang sekarang lebih dewasa dan mulai memiliki tujuan hidup.



Tidak seperti dulu yang berjalan tanpa arah dan tanpa bimbingan. Perjalanan hidupnya cukup berliku. Dia lahir pada 12 November 1999 dari pasangan Aminin dan Sulistyowati.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore