
WARISAN LELUHUR: Empat perempuan memasak nasi dari beras hasil panen sendiri pada akhir bulan lalu. Kesepuhan Sinar Resmi mengembangkan varietas padi sendiri secara turun-temurun.
Tak lagi mengembara sejak 1959, nomad di area Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Jawa Barat ini menetap di Desa Sirnaresmi, Cisolok, Sukabumi.
Mereka mendirikan kampung bernama Kasepuhan Sinar Resmi. Menjunjung tinggi norma adat, mereka mempertahankan tradisi bertani yang selaras dengan alam.
PENDUDUK kampung memegang teguh prinsip bercocok tanam yang diwariskan nenek moyang sejak mereka masih berkelana. Bagi mereka, padi adalah saudara. Karena itu, leuit alias lumbung yang merupakan rumah bagi padi juga mudah ditemukan di kampung yang sebagian besar rumahnya beratapkan ijuk dan rumbia tersebut.
Bahkan, deretan leuit dengan bentuk atap runcing-lah yang menyambut para tamu di kampung itu. Termasuk saat tim Jawa Pos berkunjung ke sana akhir bulan lalu.
Hujan lebat yang mengiringi kedatangan tim ke Kasepuhan Sinar Resmi tak mengganggu keseruan enam bocah yang asyik bermain bola di tanah lapang. Hari itu, tujuan tim adalah Imah Gede yang dalam bahasa setempat artinya rumah besar.
’’Silakan masuk. Tidak dikunci.’’ Kalimat itu terdengar dari dalam rumah saat tim mengetuk pintu. Ketua Adat Kasepuhan Sinar Resmi Asep Nugraha rupanya sudah menanti. Selain menjadi tempat tinggal ketua adat, Imah Gede sekaligus berfungsi sebagai guest house. Di situlah para tamu singgah dan menginap.
Asep menjadi tetua kampung setelah sang ayah, Udjat Sudjati, meninggal pada 2002. Sejak saat itu, penduduk kampung memanggilnya Abah Asep. Dia adalah penerus generasi ke-10 sekaligus penjaga warisan dan tradisi inti dari leluhur.
Tentang bercocok tanam padi, Abah Asep menjaga benar supaya tidak ada penggunaan pupuk kimia dan eksploitasi tanah berlebihan. Dia selalu menekankan kepada warganya agar menjaga keseimbangan alam.
Ketua Adat Kasepuhan Sinar Resmi Asep Nugraha.
Caranya, menanam padi setahun sekali. Itu pun harus ada prosesi panjang sebelum padi mulai ditanam. Ada perhitungan waktu khusus untuk masa tanam, menebar benih, sampai masa panen. Semuanya harus melewati ritus yang pakem. ’’Kami mulai menanam saat bintang kidang dan kerti tampak di langit,’’ kata pria kelahiran 7 Desember 1966 itu.
Menurut Abah Asep, sebelum mulai masa tanam, ada ritual menjodohkan padi laki-laki dan perempuan. Masing-masing keluarga punya masa tanam yang tidak sama. Itu disesuaikan dengan hari lahir sang penabur benih. Ketika tiba masa panen, ada lagi ritual yang harus dilakukan. Yakni, prosesi lamaran untuk meminang padi yang sudah ’’matang’’.
Bercocok tanam tanpa pupuk kimia juga berkonsekuensi pada panen yang relatif lebih lambat. Jika padi yang dipupuk kimia bisa panen dalam 100 hari setelah tanam, tidak demikian dengan padi di Kasepuhan Sinar Resmi. Rata-rata warga baru bisa panen setelah 6 bulan. ’’Kami mengandalkan kualitas, bukan kuantitas,’’ kata Abah Asep.
Karena itu, setiap rumah punya leuit untuk memastikan stok pangan aman. Warga terbiasa menyimpan padi setelah panen. Stok pangan itu mereka ambil sedikit demi sedikit untuk diolah menjadi beras dan nasi sesuai kebutuhan tiap keluarga. Di kampung adat itu, ada pantangan menjual beras.
Lantas, bagaimana jika stok pangan malah diserang hama? ’’Kami ada perjanjian dengan hama,’’ ujar Abah Asep, tenang. Tikus, menurut dia, tak akan memakan padi yang warga simpan di lumbung. Sebab, warga sudah memberi jatah sendiri kepada tikus saat panen. Sejauh ini, kesepakatan itu masih berlaku dan dipatuhi kedua pihak.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
