
Lulinha Madura United
Saat Itu Merasa Masih Terlalu Muda untuk Merantau
Setelah menolak Chelsea dan Manchester United, karier Lulinha lebih banyak dihabiskan di Brasil dan Asia. Belajar banyak dari Beto Goncalves tentang kehidupan sehari-hari di Indonesia.
BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Pamekasan
---
MESIN waktu belum ditemukan sampai sekarang. Jadi, tidak ada yang bisa membawa Lulinha kembali ke musim panas 2007.
Ketika itu dua klub raksasa Inggris, Chelsea dan Manchester United, mendekati bintang muda Brasil tersebut. Luiz Marcelo Morais dos Reis, nama lengkap Lulinha, memang baru saja tampil gemilang di Copa America U-17. Torehan 12 gol pemain berposisi gelandang serang tersebut turut mengantarkan Selecao junior menjuarai ajang itu.
Mengutip Sky Sports, Chelsea sudah bersiap menawarkan transfer 5 juta pound sterling saat itu. Tapi, Andres Sanchez, presiden Corinthians, klub Lulinha saat itu, menyebut siapa pun yang tertarik merekrut pemain kelahiran Maua, Brasil, 10 April 1990, itu harus siap merogoh kocek 20 juta pound sterling.
Di luar itu, Lulinha juga masih ingin bersama Corinthians. Dia meneken perpanjangan kontrak empat tahun di musim panas tersebut. ”Saat itu saya lebih suka tinggal di Brasil. Apalagi, saat itu saya bermain untuk Corinthians, klub yang sangat saya idolakan sedari kecil,” kata Lulinha kepada Jawa Pos melalui e-mail.
Sikap Lulinha itu tak berubah saat Manchester United juga menunjukkan ketertarikan pada akhir 2007. ”Setelah Chelsea, Manchester United datang dan ingin melakukan negosiasi. Tapi, seperti yang saya bilang, saya merasa masih terlalu muda (untuk merantau). Jadi, lebih mudah bagi saya memutuskan bertahan di Corinthians,” beber Lulinha.
Penolakan itulah yang membuat Manchester United berpaling. The Red Devils kemudian merekrut rekan Lulinha di Copa America 2007, Fabio da Silva. Dia direkrut berbarengan dengan sang adik, Rafael, pada 2008. Sementara itu, Lulinha meneken perpanjangan kontrak dengan Corinthians sampai 2012.
Pada akhirnya, dia tidak pernah bermain di klub raksasa Eropa. Kini dia adalah bagian dari Madura United. Hingga Liga 1 dihentikan sementara menyusul terjadinya tragedi Kanjuruhan, Lulinha sudah mencetak 6 gol dari 8 laga.
Sampai usianya yang telah 32 tahun kini, Lulinha tak pernah mendapat penawaran dari klub besar Eropa lagi. Dia memang pernah membela dua klub Portugal, Estoril Praia (2009–2010) dan Olhanense (2010–2011), tapi keduanya dengan status pinjaman. Satu musim lainnya yang dia habiskan di Eropa adalah saat membela klub Siprus Pafos pada 2018–2019.
Selebihnya, kariernya yang dulu sempat diprediksi gemilang akhirnya lebih banyak dihabiskan di Brasil. Sebelum kemudian memulai petualangan di Asia bersama klub Korea Selatan Pohang Steelers pada 2016.
Lalu, menyesalkah Lulinha atas keputusannya menolak Chelsea dan Manchester United? ”Tentu saja memperkuat Chelsea atau Manchester United adalah kesempatan unik. Tapi, saat itu saya harus memikirkan keluarga saya, termasuk Corinthians. Itu jalan terbaik,” ungkapnya.
Corinthians yang dikenal memiliki suporter sangat fanatik membina Lulinha sejak dia berusia 8 tahun. Sebelumnya, dia lebih banyak bermain futsal.
Sejarah memang tak mengenal pengandaian. Tapi, seandainya saja dia menerima pinangan Chelsea atau Manchester United, ada kemungkinan kariernya secemerlang James Rodriguez. Bintang Kolombia itu satu angkatan dengannya di Copa America U-17 2007.
Rodriguez membela FC Porto, AS Monaco, Real Madrid, dan Bayern Munchen selain tampil gemilang di Piala Dunia 2014. Bahkan, karier si kembar Fabio dan Rafael pun terbilang lumayan. Lama di Manchester United, Fabio kini masih beredar di Ligue 1 Prancis bersama Nantes dan Rafael membela salah satu klub besar Brasil Botafogo. Keduanya juga dua kali tercatat membela skuad Brasil senior.
Sementara itu, Lulinha tak pernah lagi berkostum Selecao di level apa saja selain skuad U-17. Tapi, dia mengaku menikmati kariernya.
Setidaknya dia pernah menjajal Eropa dalam usia belia meski bukan di klub besar. ”Saat itu saya berusia 19 tahun dan merasa sudah senang bisa bermain di Portugal,” tambahnya.
Indonesia adalah negara Asia keempat yang pernah dijajal kompetisinya setelah Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Jepang. ”Saya sangat bahagia dengan suasana para penggemar di sini (Indonesia) yang sangat mirip dengan di Brasil. Mereka selalu memenuhi stadion saat pertandingan. Saya jatuh cinta sejak pertandingan pertama di Indonesia,” bebernya.
Apalagi, dia memiliki banyak rekan asal Brasil. Musim ini skuad Laskar Sape Kerrab –julukan Madura United– memang dihuni banyak sosok dari Negeri Samba. Semua tim pelatih berasal dari negeri juara Piala Dunia lima kali itu. Demikian pula para penggawa asingnya yang semua beraroma Brasil. Mulai Hugo Gomes, Cleberson, sampai pemain berpaspor Timor Leste Pedro Henrique.
Tapi, di antara sekian banyak sosok dari Brasil, satu orang yang paling dihormati Lulinha adalah striker naturalisasi Alberto ”Beto” Goncalves. Keduanya selalu bersama saat di dalam maupun luar lapangan.
Dari Beto, Lulinha banyak belajar soal kehidupan di Indonesia. ”Saya diajari banyak hal oleh Beto, termasuk tradisi kehidupan di sini. Apa saja yang boleh dilakukan, apa yang tidak,” bebernya.
Beto jelas tahu kultur di Indonesia. Sebab, pemain 41 tahun itu bermain di sini sejak 2008. Dia juga beristri perempuan Indonesia, Roesmala Dewi.
Saat semua pemain Brasil berkumpul, mereka selalu menyempatkan untuk membuat barbeque bersama. Churrasco memang menjadi tradisi umum di Negeri Samba tiap ada acara kumpul bersama.
Dia berharap kebersamaan tersebut bisa terjaga terus di lapangan. Dengan begitu, Lulinha bisa menambah torehan golnya. ”Memang penting untuk mencetak gol, tapi tujuan utama saya bersama Madura United bukan itu (top scorer). Saya ingin memiliki peran penting agar Madura United bisa meraih puncak prestasi di Liga 1,” tegasnya.
Tapi, dia tahu bahwa meraih gelar bukan pekerjaan mudah. ”Dalam dua laga awal, saya sudah bisa melihat potensi lawan yang kuat. Kami harus fokus dari pertandingan ke pertandingan,” tambahnya.
Madura United masih berada di trek juara sampai kompetisi dihentikan sementara. Mereka mengumpulkan 23 poin dari 11 laga dan berada di posisi kedua di bawah Borneo FC yang juga mengumpulkan angka sama. Madura United kalah selisih gol.
Kalau liga jalan lagi, mungkin di akhir bulan ini, perjalanan Madura United masih jauh untuk bisa mewujudkan cita-cita juara. Lulinha sadar itu. Dia juga sadar klub-klub lain semakin termotivasi untuk mengalahkan dirinya dan rekan-rekan. ”Sekarang kami harus terus fokus dan kerja keras sehingga kemenangan terus datang,” katanya.
Kalau berhasil direalisasikan, itu bakal menjadi gelar pertama di level klub yang bisa dia capai di luar Brasil. Tentu bakal sangat membahagiakannya meski tidak meraihnya bersama Chelsea atau Manchester United.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
