Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Oktober 2022 | 20.49 WIB

Karena 80 Persen Sampah Laut Berasal dari Darat

JAGA KELESTARIAN: Dinni Septianingrum menanam mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove Angke, Kapuk, Jakarta. (DOKUMENTASI SEASOLDIER) - Image

JAGA KELESTARIAN: Dinni Septianingrum menanam mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove Angke, Kapuk, Jakarta. (DOKUMENTASI SEASOLDIER)

10 Tahun Seasoldier, Tetap Aktif Kawal Lingkungan

Menyelesaikan problem lingkungan tak cukup hanya dibicarakan. Harus ada aksi nyata. Berbekal kepedulian yang sama, Dinni Septianingrum dan Nadine Chandrawinata mendirikan Seasoldier.

M. HILMI SETIAWAN, Jawa Pos

---

DINNI Septianingrum cukup cekatan memimpin kegiatan penanaman bibit mangrove di Taman Wisata Alam Mangrove, Kapuk, Jakarta Utara, pada 24 September lalu. Diawali pengarahan singkat, lalu proses pemilihan bibit yang bagus. Kemudian, sejumlah relawan dan karyawan CGS-CIMB Sekuritas Indonesia nyemplung ke tempat penanaman mangrove. Airnya sekitar sepinggang orang dewasa.

Penanaman pohon mangrove berlangsung hingga tengah hari. Peserta begitu antusias ikut basah-basahan. Total ada 5.000 bibit yang ditanam. Selain di Jakarta, penanaman mangrove juga dilakukan di Tangerang, Mempawah, Bali, dan Surabaya.

’’Di daerah lain, penanaman mangrove juga melibatkan masyarakat setempat,’’ kata Dinni seusai acara.

Perempuan kelahiran Jakarta, 5 September 1985, itu menceritakan awal mula pendirian Seasoldier hingga kini memiliki sekitar 10 ribu relawan. Dinni mengatakan, sebelum mendirikan Seasoldier, dirinya melakoni hobi traveling sejak 2005. ’’Saya senang melihat keindahan alam,’’ tuturnya. Dinni sempat menjadi juru foto keliling. Dia juga pernah menjadi kontributor sebuah majalah. Aktivitas tersebut membuat Dinni mulai menyukai isu-isu lingkungan. Apalagi, dia terlibat dalam gerakan 1.000 Guru Foundation yang kegiatan utamanya mengajar di daerah pedalaman.

Sampai akhirnya pada 2011, dia bertemu dengan artis Nadine Chandrawinata. Mereka lalu berteman akrab. Setiap bertemu, mereka membahas permasalahan lingkungan. Mulai sampah, plastik di lautan, hingga ancaman hutan dan lainnya. ’’Pokoknya ngomong sampai butek,’’ katanya.

Dinni dan Nadine akhirnya menyadari bahwa persoalan lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan. ’’Daripada nggrundel terus ngomongin lingkungan berdua doang, bagaimana kalau dikonkretkan menjadi sebuah gerakan,’’ katanya. Ide tersebut mendapat respons positif dari Nadine. Akhirnya, terbentuk gerakan Seasoldier dengan istilah kampanye yang digunakan #SEASOLDIER di media sosial.

Perempuan yang sedang menyelesaikan program magister di Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia (UI) itu mengatakan, nama Seasoldier memiliki filosofi khusus. Yaitu, gerakan para tentara laut. Ide itu didasari situasi nyata bahwa 80 persen sampah di laut berasal dari daratan. Karena itu, sudah seharusnya orang-orang kota atau daratlah yang menjadi penjaga atau tentara laut. Maka, Dinni dan Nadine mulai mengajak masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan, khususnya ekosistem laut.

Dinni berharap gerakan Seasoldier dapat menjadi wadah untuk belajar bersama-sama menjaga lingkungan. Dia juga berupaya meluruskan stigma bahwa perempuan tidak memiliki kekuatan, apalagi untuk urusan lingkungan. Dia menegaskan, apa pun gendernya, semua memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin, termasuk bergerak memimpin penyelamatan lingkungan.

Photo

Penanaman mangrove melibatkan relawan dan pihak swasta. (HILMI SETIAWAN/JAWA POS)

’’Kami memiliki motivasi mengajak anak-anak muda untuk kerja bareng-bareng melakukan kegiatan ramah lingkungan setiap hari, dimulai dari diri sendiri,’’ terangnya. Dengan demikian, mereka percaya bahwa setiap kebaikan dan kegiatan menjaga lingkungan yang muncul dari hati dan tidak terpaksa akan menghasilkan dampak luar biasa.

Dinni tidak mengira tanggapan dari masyarakat terhadap Seasoldier begitu luar biasa. Sampai akhirnya gerakan Seasoldier dibuat lebih terorganisasi menjadi sebuah lembaga berupa yayasan (foundation). Tujuannya, lebih mudah untuk berkolaborasi dengan banyak pihak. Mulai pemerintah, akademisi, hingga perusahaan swasta.

Perempuan yang juga pendiri Sejuksapa itu mengatakan, sekitar 10 tahun berdiri, sudah banyak capaian yang ditorehkan Seasoldier. Kegiatan mereka tersebar di 15 provinsi dan memiliki hampir 10 ribu relawan. Selain itu, ada ribuan tim pendukung dan ratusan tim inti di seluruh Indonesia.

Selain program konservasi mangrove, mereka juga menggerakkan kegiatan lingkungan lainnya. Misalnya, bersihkan warungku di 15 kota. Lalu, ada program pendampingan pemilahan sampah untuk pelaku UMKM. Kemudian, ada program edukasi di sekolah-sekolah hingga upaya konservasi pohon atau hutan darat di kawasan Bandung, Jawa Barat.

’’Khusus konservasi mangrove sudah berjalan sekitar tiga sampai empat tahun lalu,’’ katanya. Dia memperkirakan sudah ada 25 ribuan bibit mangrove yang mereka tanam. Kegiatan itu mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Saat ini tercatat ada 30 mitra atau rekanan nasional dan internasional yang berkolaborasi dengan Seasoldier.

Lulusan program akuntansi Kwik Kian Gie School of Business itu merasa sudah seperti rumah baginya untuk belajar dan berproses. Tidak hanya soal pelestarian lingkungan. Tetapi, bagaimana menjalin koneksi dengan banyak pihak yang memiliki visi sama.

Seasoldier juga aktif kampanye wisata ramah lingkungan. Kampanye itu mereka suarakan dengan gerakan #SmartTraveling. Dengan gerakan tersebut, kegiatan wisata tetap menjaga lingkungan. Dimulai dari packing sebelum berangkat, saat wisata, hingga pulang ke rumah. ’’Contohnya, membawa botol minum sendiri, tidak terlalu banyak membawa camilan dengan bungkus plastik,’’ katanya.

Kegiatan menanam mangrove di kawasan Kapuk, Jakarta, itu juga diikuti Direktur Keuangan dan SDM Bursa Efek Indonesia (BEI) Risa Effennita Rustam. Dia begitu antusias dengan upaya konservasi mangrove oleh Seasoldier. Dia berharap semakin banyak orang yang tergerak untuk menjaga lingkungan hidup.

’’Kami di BEI juga melakukan CSR penanaman mangrove. Khususnya di Bali, kami lakukan sebelum pandemi Covid-19 lalu,’’ tuturnya. Risa menyatakan baru mengetahui ada area konservasi mangrove yang luas dan indah di Jakarta.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore