
JEJAK HEWAN PURBA: Warga mencari fosil gigi megalodon dengan menggali dan melubangi tanah di perbukitan Surade, Sukabumi (1/2).
Urat batu dan fosil kerang jadi pegangan para penggali dalam menentukan apakah pencarian fosil hiu purba di perbukitan Surade, Sukabumi, dilanjut atau tidak. Di masa keemasan, menemukan gigi dengan panjang 10 sentimeter ke atas bukan hal sulit.
EDI SUSILO, Sukabumi
---
RERUNTUHAN batu sebesar kepala manusia itu berwarna cokelat kekuningan.
Berserakan di bawah galian tanah sedalam 3 meter, di tepian jalan lintas Sukabumi–Cianjur, Jawa Barat.
Di atas reruntuhan batu, selembar terpal biru terbentang, diikat di antara batang pohon, membentuk sebuah tenda. ”Galian ini sepertinya sudah selesai. Ayo kita ke sana, turun ke bawah,” ucap Obot, nama panggilan, yang memandu Jawa Pos mencari para penggali fosil yang masih bekerja Kamis (1/2) pekan lalu di kawasan Surade, sebuah kecamatan di Sukabumi.
Dari ibu-ibu yang sedang menanam padi, kami diberi petunjuk menuju sebuah bukit.
Benar saja, di atas sana, di bawah rindang pohon bambu, tampak empat pekerja sedang mengaso. Sebuah genset diesel, sekop, ember, dan troli dibiarkan tergeletak.
Sambil menyeruput kopi, mereka berbincang mengenai prediksi peruntungan. Bahwa di dalam sana, di lubang yang mereka gali, terserak aneka gigi megalodon.
Megalodon (Otodus megalodon) yang berarti ”gigi besar” adalah spesies hiu purba yang sudah punah. Hiu ini diperkirakan hidup 23 hingga 2,6 juta tahun yang lalu pada zaman miosen awal hingga pliosen akhir. Para ilmuwan menduga megalodon terlihat seperti hiu putih yang lebih kekar walaupun hiu ini juga mungkin tampak seperti hiu raksasa (Cetorhinus maximus) atau hiu harimau pasir (Carcharias taurus).
Daratan Pajampangan yang kini berbukit-bukit di wilayah Surade dulu merupakan lautan atau dikenal sebagai laut purba Jampang pada era miosen yang kaya keanekaragaman biota laut. Salah satunya megalodon.
BUTUH KESABARAN: Bekas galian dibawa dengan troli untuk dicek apakah ada fosil gigi megalodon.
Dengan panjang mencapai 16–18 meter dan berat mencapai 70 ribu kilogram, megalodon saat itu duduk sebagai puncak rantai makanan. Meski berkuasa di lautan, berbagai perubahan bumi mengakibatkan meluasnya gletser di wilayah kutub.
Pengaruh pergerakan lempeng tektonik (subduksi) kala itu juga memicu aktivitas vulkanis. Kondisi bumi yang tak stabil ini diduga menjadi salah satu penyebab si raja lautan itu punah.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
