
DISKUSI ANAK-ANAK MUDA: Dari kiri Azra Syahirah, Alma Dhyan Kinansih, dan Adinda Aulia Pratiwi saat berdiskusi sebelupm masuk kelas kuliah di Taman Unair Surabaya. Dilihat dari tahun kelahiran, mereka tergolong generasi Z. Generasi ini b elakangan mendapa
Stereotipe Generasi Stroberi: Penuh Gagasan Kreatif, Cuma Kurang Ketahanan Mental
Karakteristik generasi stroberi yang dianggap kurang menghargai proses sebenarnya juga tak terlepas dari didikan orang tua sekarang. Tapi, tidak semuanya demikian. Tak sedikit juga yang tidak gampang stres, tertekan, atau burn out.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
RENTETAN kegiatan kampus yang tengah diikuti Adinda Aulia Pratiwi cukup menguras energi. Mulai himpunan mahasiswa hingga kepanitiaan orientasi mahasiswa baru. Belum lagi tenggat tugas dan jadwal presentasi mata kuliah yang bikin burn out (kelelahan).
Jika sudah begitu, remaja 19 tahun itu akan mengunci diri di kamar dan menghilang dulu. ”Kalau sudah merasa capek gitu, biasanya aku bakal membiarkan diriku rehat sebentar, terus tidur. Kalau nggak, bakal ngaruh banget ke mood hari itu,” ujar Dinda, sapaan akrab Adinda Aulia Pratiwi.
Bagi dia, kesehatan mental nomor satu. Mayoritas kawan sebayanya pun berpikir demikian. Generasi Dinda memang dikenal concern terhadap kesehatan mental. Namun, hal itu justru membuat mereka mendapat julukan baru: generasi stroberi.
”Di Indonesia, strawberry generation lebih banyak ditujukan pada gen Z berdasar banyaknya temuan dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan. Mayoritas mereka cenderung ingin selalu berada dalam zona nyaman dan kurang adanya keinginan untuk bekerja keras,” jelas psikolog Artani Hapsari.
Secara umum, generasi Z adalah mereka yang lahir pada 1995–1997 sampai 2010. Mereka dianggap rapuh.
Sebab, hanya mementingkan stabilitas mental daripada tantangan yang dihadapi.
Sebagaimana buah stroberi yang lunak dan mudah hancur saat diberi tekanan yang kuat. Prof Rhenald Kasali menggambarkannya sebagai generasi yang kreatif. Hanya, mudah menyerah dan gampang sakit hati.
”Ini bisa kita lihat dari media sosial. Begitu banyak gagasan kreatif yang dilahirkan anak-anak muda. Tapi, tidak kalah banyak pula cuitan resah yang menggambarkan suasana hati mereka,” tuturnya dalam kuliah online di kanal YouTube-nya.
Menurut guru besar Universitas Indonesia itu, mereka seperti spons yang menyerap air. Mudah sekali terpapar informasi dari media sosial. Apalagi seputar kesehatan mental dan gejala gangguan psikologis.
”Mereka mencoba mencocok-cocokkan dengan dirinya. Karena cocok, jadi merasa tertekan, stres, bahkan depresi. Self-diagnosis tanpa melibatkan ahlinya ini menjadi salah satu alasan munculnya fenomena strawberry generation,” papar Rhenald.
Sebagai ”anak zaman sekarang”, Dinda mengiyakan hal tersebut. Dia merasa cukup relate dengan stereotipe yang ditujukan untuk generasinya. ”Generasi kami tuh kreatif, tapi agak lemah mentalnya. Sedikit-sedikit capek, stres, lemah di perasaan lah intinya. Mayoritas yang aku lihat memang seperti itu,” ujar mahasiswa ilmu komunikasi itu.
Istilah strawberry generation kali pertama muncul di Taiwan. Sama halnya dengan snowflake generation di Amerika dan Eropa. Julukan itu ditujukan untuk generasi muda yang lemah, manja, malas, dan egois.
Artani Hapsari menyebut sudah banyak penelitian ilmiah yang membandingkan karakteristik antargenerasi. Termasuk dampak terhadap pembentukan perilakunya. Namun, belum banyak yang menggunakan istilah tersebut.
”Istilah ini lebih digunakan sebagai stereotipe dari generasi sebelum Gen Z agar lebih mudah dipahami di masyarakat luas. Sebab, menggunakan analogi buah stroberi yang familier,” terangnya.
Generasi muda, lanjut Artani, lahir dan tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Hal itulah yang sedikit banyak memengaruhi pola perilaku mereka yang serbainstan. Meskipun memiliki kreativitas tinggi dan daya pikir kritis, mereka dianggap kurang menghargai proses dan hanya berorientasi pada hasil.
”Kita akan melihat Gen Z sebagai individu yang ambisius dan tidak cepat puas. Keinginan yang besar itu kurang diimbangi dengan upaya sepadan,” imbuhnya.
Hal itu didukung dengan kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh orang tua. Artani menyebut orang tua masa kini berusaha untuk membahagiakan anaknya. Mereka ingin anak-anaknya hidup enak tanpa merasakan jatuh bangun yang mereka alami dulu.
”Namun, hal itu justru merugikan si anak. Mereka dibuat terbiasa untuk berada di zona nyaman dan menjadi pribadi yang kurang mandiri. Saat menghadapi kesulitan, alih-alih menghadapinya, mereka cenderung memilih untuk menghindar,” lanjutnya.
Rhenald Kasali membenarkan hal itu. Orang tua yang membesarkan anaknya dalam situasi yang lebih sejahtera cenderung memberikan apa pun yang diminta anak. Akibatnya, anak akan kesulitan untuk menghadapi situasi di luar lingkungan amannya di rumah.
”Anak-anak ini akan lebih mudah kecewa dan tersinggung karena perbedaan kondisi di dalam dan luar rumah. Mereka jadi lebih mudah untuk lari dari kesulitan,” tuturnya.
Tak heran, mulai bermunculan berbagai istilah yang akrab digunakan generasi stroberi. Di antaranya, mager atau malas gerak, remaja jompo, healing, dan moody. Dinda sendiri mengaku kerap menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan dirinya.
”Aku anaknya mager banget, sering burn out, suka healing, dan aku memang remaja jompo yang mengoleksi obat-obat seperti minyak kayu putih, krim otot, terus moody juga,” akunya.
Berbeda dengan Dinda, Azra Syahirah beranggapan tidak semua generasi Z adalah generasi stroberi. Dia tidak merasa sesuai dengan stereotipe tersebut. Mahasiswa asal Surabaya itu juga jarang menggunakan istilah-istilah tersebut.
”Banyak teman yang aku kenal berjuang mati-matian untuk membayar kuliah sendiri, baik mencari beasiswa maupun bekerja. Aku sendiri juga bukan orang yang gampang stres, tertekan, atau burn out,” ungkapnya.
Sebaliknya, remaja 19 tahun itu justru menikmati kegiatannya sebagai mahasiswa. Azra memilih untuk tidak banyak ambil pusing. Jika dirasa mulai lelah, dia akan tidur satu dua jam. Alih-alih melarikan diri dari masalah, dia kembali dengan energi baru untuk menyelesaikannya.
”Aku orangnya selalu balance antara kerjaan atau tugas dengan istirahat. Kalau sudah tidur, pikiranku jadi lebih kebuka dan cenderung nyari sisi positif dari kegiatan-kegiatan yang melelahkan,” ujarnya.
Artani Hapsari pun membagikan tips agar tidak menjadi generasi yang lunak seperti stroberi dan kuat mental. Generasi muda harus mulai berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan lebih mengenali dirinya.
”Nikmati juga prosesnya. Mengeluh boleh, tapi harus diimbangi dengan upaya untuk bergerak menyelesaikan masalah. Jangan lupa pusatkan perhatian pada masa kini untuk menghindari overthinking,” katanya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
