Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Januari 2024 | 21.06 WIB

Anak-Anak yang Alami Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal, Tempuh Perjalanan Lima Jam untuk Cuci Darah Tiap Minggu

DALAM KENANGAN: Supiyan bersama istrinya, Siti Juleha, menunjukkan foto anak mereka, Barran Attaki Amrillah, semasa hidup di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang (17/1). - Image

DALAM KENANGAN: Supiyan bersama istrinya, Siti Juleha, menunjukkan foto anak mereka, Barran Attaki Amrillah, semasa hidup di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang (17/1).

Sembuh bagi anak-anak korban gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) bukan berarti pulih tanpa ancaman. Orang tua korban meminta pemerintah lebih teliti mengawasi peredaran obat.

ZALZILATUL HIKMIA, Kabupaten Tangerang

---

’’HARI Selasa dia cuci darah, masih nggak papa, masih lari-lari. Terus hari Jumat udah nggak ada,’’ kenang Siti Juleha, ibunda almarhum Barran Attaki Amrillah, 2, sambil terisak saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten (17/1).

Perempuan 30 tahun itu sempat terdiam lama saat kenangan tentang sang anak kembali menghantamnya.Air matanya tak kuasa lagi dibendung ketika mulai menceritakan perjuangan almarhum Barran untuk bertahan hidup setelah terpapar etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) dalam obat Paracetamol cair yang dikonsumsinya. Barran masih 10 bulan kala mengonsumsi racun berkedok obat sirup itu.

Kisah Barran tak jauh beda dengan teman-teman senasib yang ratusan jumlahnya di berbagai penjuru tanah air. Ginjalnya sekarat seusai mengonsumsi Paracetamol sirup yang diresepkan dokter guna menurunkan demam tingginya pada Juli 2022.

Awalnya, pihak rumah sakit daerah tak menduga ada kelainan pada ginjal bayi pasangan Siti Juleha dan Supiyan (37) itu. Pasalnya, sempat ada rekomendasi untuk pergi ke klinik sunat jika Barran masih juga tak bisa pipis.

Namun, karena kondisi badan Barran yang makin bengkak, pihak rumah sakit akhirnya mengambil tindakan USG. Saat tahu kondisi ginjalnya, dia langsung dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. Di sana Barran sempat dinyatakan meninggal.

’’Karena harus cuci darah, harus operasi pasang CDL (catheter double lumen). Di situ sempat penurunan, sempat dinyatakan nggak ada juga sama dokter. Tapi ada lagi, habis dikasih kejut jantung,’’ kenang Juleha.

Barran sempat terbaring tak sadarkan diri selama sebulan di ICU RSCM. Tapi, semangatnya berhasil membawanya lepas dari jeratan maut. Meskipun penglihatannya sempat terganggu setelah sadar dari koma.

Kondisi Barran pun dinyatakan membaik seusai dirawat 3 bulan di rumah sakit. Nyaris pulih malah. Bocah pencinta Iron Man itu sempat dinyatakan tak perlu cuci darah lagi selama November 2022–Januari 2023. Dengan catatan, tetap kontrol sebulan sekali untuk mengetahui perkembangan kesehatannya. ’’Cuma pasang NGT (nasogastric tube) pas pulang,” tuturnya.

Tapi, sembuh bagi anak-anak korban GGAPA bukan berarti pulih total. Ureumnya kembali tinggi. Ternyata, kedua ginjalnya masih bermasalah.

Kondisi Barran pun drop sehingga harus dilarikan ke RSCM. Dia menjalani cuci darah kembali pada Februari 2023. ’’Dibilang awalnya makanan nggak terkontrol. Tapi, buktinya di rumah sakit malah naik ureumnya. Padahal makanan dari sana,’’ sahut Supiyan.

Kondisi Barran terus menurun hingga masuk ICU kembali dan menggunakan bantuan ventilator untuk bernapas. Setelah itu, Barran jadi mudah sakit. Terlebih sesak napas.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore