Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 Mei 2022 | 14.48 WIB

Soraya Azzahra Wisanggeni, Rajut Sampah Plastik dan Berdayakan Crafter

KREATIF: Soraya (dua dari kiri) menunjukkan hasil karya olahan sampah kresek dengan teknik merajut bersama para crafter yang membantunya. (Mariyama Dina/Jawa Pos) - Image

KREATIF: Soraya (dua dari kiri) menunjukkan hasil karya olahan sampah kresek dengan teknik merajut bersama para crafter yang membantunya. (Mariyama Dina/Jawa Pos)

Sampah plastik masih menjadi salah satu sampah yang sulit ditangani. Sebab, penggunaannya juga masih banyak. Dari sana, Soraya Azzahra Wisanggeni berupaya memanfaatkan sampah tersebut menjadi aneka barang dengan teknik merajut.

MARIYAMA DINA, Surabaya

MENGOLAH sampah plastik, khususnya kresek, menjadi cara Soraya untuk mengurangi pencemaran sampah plastik. Merajut dipilih menjadi fokusnya. Sebab, dia merasa merajut itu menyenangkan. Menurut dia, awalnya memang susah. Tapi saat sudah menguasai caranya, merajut punya daya tarik sendiri baginya.

Belajar dimulai dengan otodidak lewat YouTube, yang kemudian langsung diaplikasikan melalui praktik. Karya-karya rajutnya pun beragam. Mulai tas, tote bag, sling bag, topi, dompet koin, tas botol hingga tas hand sanitizer dan masih banyak lagi. Karya-karya itu pun terlihat begitu memasuki tempat tinggalnya di daerah Bendul Merisi.

Begitu memasuki rumahnya, karya-karya rajut itu tersusun rapi di rak yang khusus dipakai untuk memajang karyanya.

Di sisi lain, para crafter juga terlihat sibuk membuat karya-karya baru. Soraya sedang menyusun kresek-kresek yang telah selesai dicuci dan dikeringkan.

Kemudian, masuk tahap pemotongan untuk menjadi bentuk tali sehingga lebih mudah untuk dirajut.

”Jadi, memang cara mengolahnya butuh waktu yang cukup panjang. Dari dicuci, dikeringkan, dipotong-potong, baru kemudian dirajut,” terangnya.

Kresek-kresek itu didapatnya dari lingkungan sekitar. Salah satu penyumbang terbanyak adalah tempat laundry. ”Soalnya, di tempat laundry itu baju kotor sama baju bersih pasti pakai kresek yang beda,” terangnya soal penggunaan kresek di tempat usaha tersebut.

Yang lebih disayangkan lagi, kresek-kresek yang habis pakai itu akan langsung dibakar saat sore. Hal itu justru bisa menimbulkan pencemaran lainnya.

Dari situ, dia mencoba untuk mengurangi pencemaran tersebut dengan cara mengolahnya. Ditemui pada Selasa (24/4), Soraya sudah menjadi wadah bagi 10 tempat usaha itu untuk pengolahan plastiknya. Targetnya, siswi yang masih duduk di kelas IV SDN Margorejo I tersebut ingin bisa mengolah sampah kresek hingga 20 tempat usaha dan 500 produk.

Selain mengolah sampah kresek, siswi 10 tahun itu juga melakukan sosialisasi dan menggelar workshop merajut sampah kresek. Sosialisasi biasanya digelar seminggu dua kali. ”Biasanya, saya sosialisasi soal pengolahan sampah ini sama bagaimana kita bisa menggunakan tas yang lebih ramah lingkungan dan bisa dipakai berulang-ulang,” jelasnya.

Biasanya, dia akan menggelar sosialisasi hingga workshop di tempat PKK, UMKM, tempat-tempat makan, hingga CFD di taman-taman. ”Di sini kita juga biasanya sambil bagi-bagi karya rajut kresek kita,” imbuhnya.

Proyek tersebut sebenarnya adalah salah satu proyek untuk mengikuti ajang pemilihan Putri Lingkungan Hidup Tunas Hijau. Namun, dia mengaku jika nanti tidak berhasil lolos, dirinya akan terus melakukan aksi tersebut. ”Sebenarnya, tahun lalu juga sudah ikutan. Dan masih gagal. Tapi, saya enggak berhenti di situ karena rasanya kayak ada tanggung jawab untuk terus menyosialisasikan gerakan ini,” tambahnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore