
PALING TUA: Heny Kustiarsih di depan joglo yang dibuat pada 1705 milik Hills Joglo Villa di Ungaran. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
NAMANYA saja Hills Joglo Villa. Sepanjang mata memandang, joglo-joglolah yang mendominasi tempat penginapan itu. Pemiliknya, Heny Kustiarsih, jatuh cinta pada joglo sejak lama. Dia mulai berburu pada 1998. Ketika itu joglo belum menjadi tren seperti sekarang.
”Sejak muda memang suka barang lawas dan antik. Keluarga juga suka pada budaya,” tutur Heny saat dijumpai Jawa Pos di Ungaran pada Rabu (18/1). Kecintaannya kian menjadi-jadi setelah menikah karena sang suami yang berasal dari Negeri Kanguru juga kesengsem budaya Indonesia.
Jenuh pada Jakarta, Heny memilih Ungaran sebagai kota untuk menghabiskan masa tuanya. Model rumah yang dia pilih adalah joglo. Sebab, dia punya kenangan yang indah saat berlibur di rumah eyangnya di Jawa Tengah. Rumah eyang Heny itulah yang menginspirasinya untuk berburu joglo.
Dia dan suami berburu di area sekitar Ungaran. Yakni, Kudus, Demak, dan Rembang. Tentu saja pengirimannya tidak repot. Joglo tertua milik Heny dibuat pada 1705. Yang paling mahal, dia beli senilai Rp 35 juta. Joglo pertama yang dia beli berasal dari Kudus. ”Saya beli di harga Rp 11 juta,” katanya.
Saat itu joglo yang Heny taksir masih dihuni. Setelah sepakat dengan pemilik rumah, perempuan berambut ikal itu menghubungi RT dan RW. Selain sebagai saksi jual beli, Heny ingin meminta izin kepada perangkat desa agar proses bongkar hingga pengangkutan aman. Ketika itu dia belum punya gambaran akan mengomersialkan joglonya.
Perburuan berlanjut. Dalam empat tahun, Heny dan suami mendapatkan sembilan joglo. Bersamaan dengan itu, jumlah barang lawas yang mereka kumpulkan bertambah. Ada gerabah, kursi, krepyak, gebyok, dan bagian lainnya. Pada 2002, Heny menghentikan perburuan. ”Saya berikan kesempatan kepada yang lain untuk mengumpulkan,” ujarnya.
Berawal untuk koleksi, akhirnya joglo-joglo itu dia jadikan galeri, resto, dan hunian. ”Awalnya ingin punya tempat ngopi kecil saja di sini (Ungaran, Red),” ungkapnya.
Photo
EKSOSTIS: Bagian dalam rumah joglo tertua milik Henny yang lantainya sudah diberi sentuhan modern. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
Sementara itu, Toni Prasetyo sengaja mengusung ornamen lawas ke Madiun untuk membangun Setasiyun Kawak. Empat palon atau pilar kandang kerbau berdiri gagah menyambut pengunjung kafe milik Toni tersebut. Di dalam, ada dua kandang yang dijadikan tiga gazebo. Seluruhnya memiliki kayu yang besar.
Selain kandang kerbau, ada juga luku atau alat untuk membajak sawah dari kayu. Luku dijadikannya pagar di lantai 2. Krepyak atau daun jendela lawas juga disusun memenuhi salah satu dinding sehingga menjadi spot foto yang apik. ”Mimpi awalnya mau bikin photo booth,” ungkap Toni.
Namun, temannya menyarankan agar tempat yang dulu merupakan gudang itu dijadikan kafe saja. Ada rumah loji yang bisa difungsikan dan tinggal ditambah ornamen lain. Saran itu pun kemudian diwujudkan. Dan, terciptalah kafe yang berkarakter.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
