
UBAH NASIB: Vini Farida Sugiri saat menunjukkan aplikasi Marketplace Jajanan PKH yang dia gunakan untuk berjualan. (Galih Adi Prasetyo/Jawa Pos)
Bukan sekadar memastikan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah tepat sasaran. Namun, para pendamping sosial itu juga diandalkan untuk menggiring agar orang-orang yang terjerat masalah ekonomi bisa mentas. Salah satunya, membantu usaha dagang mereka agar lebih dikenal orang.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
SUDAH pukul 16.00 sore, Vini Farida Sugiri tampak sibuk membuka notifikasi pesan di gawai miliknya. Bergegas pesan itu dibalas, kemudian tangannya sigap mengambil kue kering di rak. Dibungkusnya kue dalam stoples itu dalam kantong.
”Ada yang pesan, minta dikirim cepat. Katanya mau dibawa ke luar kota. Alhamdulillah, rezeki,’’ ujar ibu empat anak itu.
Pendapatan suami sebagai tukang bangunan membuat Vini putar otak agar asap dapur terus mengepul. Juga tidak melulu mengandalkan statusnya sebagai peserta program keluarga harapan (PKH).
Tidak sampai lima menit, datang pendamping PKH Kecamatan Kenjeran, Dea Ari Rajasa dan Raden Ayu. Kali ini kedatangan mereka bukan soal urusan bantuan.
Mereka mengambil kresek berisi jajan itu dan membawanya pergi. ”Ini mau saya antar ke yang pesan,’’ ujar Ari.
Ya, itu merupakan salah satu upaya pendamping PKH Kecamatan Kenjeran membantu keluarga penerima manfaat (KPM) yang masuk program itu. Secara khusus, pendamping membuat aplikasi. Namanya Marketplace Jajanan PKH. Program tersebut khusus menampung dagangan milik peserta PKH, terutama di Kecamatan Kenjeran.
”Kalau jualan lewat aplikasi yang sudah ada, sekarang sulit pendaftarannya. Sudah pernah kami bantu, namun tidak lolos. Jadi, kami tampung di aplikasi ini. Sementara waktu saya yang merangkap jadi kurirnya. Yang penting, usaha teman-teman KPM ini jalan dulu,’’ ujar alumnus Magister Manajemen STIE Mahardhika itu.
Aplikasi tersebut bikinan Ari sendiri. Background pendidikan di bidang TI banyak bermanfaat meski profesinya kini sebagai seorang pendamping PKH. Koordinator pendamping PKH Kecamatan Kenjeran itu membuatnya karena ingin membantu para penerima PKH.
”Memang para pendamping ini dituntut bukan untuk memastikan bantuan sampai ke yang berhak saja. Namun, sekaligus bagaimana caranya agar pola pikir mereka bisa berubah. Lepas dari statusnya sebagai penerima bantuan dan memperbaiki masa depannya,’’ ucap pria yang sudah hampir enam tahun menjadi pendamping PKH itu.
Dia melihat banyak PKH yang memiliki usaha kuliner. Aplikasi itu cukup bermanfaat untuk membantu KPM. Tiap ada produk baru, dia mem-posting-nya sambil mengajari mereka beradaptasi dengan metode digital market saat ini. Peluang itu ada dan sekarang Ari coba mengarahkannya ke sana.
Fitur aplikasi itu pun komplet dan sangat sederhana penggunaannya, layaknya aplikasi marketplace profesional lain. Mulai fasilitas order hingga memajang foto dan deskripsi produk. ”Aplikasi ini saya buat pertama 2018 lalu. Selesai dalam waktu tiga bulan dengan 52 kali uji pakai. Sampai sekarang kami lakukan penyempurnaan terus,’’ kata peraih penghargaan juara II pendamping PKH inovator pemberdayaan dari Dinsos Jatim pada 2018 itu.
Tidak heran berkat aplikasi tersebut, Ari diganjar penghargaan dari Kemensos sebagai salah satu pendamping PKH berprestasi se-Indonesia. Kini di aplikasi itu sudah ada 30 KPM program PKH yang bergabung. Bukan dari Kenjeran saja, banyak juga dari kecamatan lain yang ikut merasakan manfaatnya.
Ari berharap aplikasi itu bisa dilirik serius dan menjadi program yang dapat diterapkan di seluruh Surabaya, bahkan Indonesia.
Memang menurut para pendamping PKH itu, beban terberat KPM bukan perkara ekonomi saja. Justru masalah mental. Tidak sedikit yang mengandalkan PKH sebagai cadangan keuangan. Bahkan, ada yang rela berkali-kali hamil agar paket bantuan program PKH tetap bisa diterima.
”Namun, sekarang sudah tidak bisa seperti itu karena Kemensos membatasi komponen bantuan hanya sampai anak kedua saja. Jadi, ini yang sekarang menjadi PR bagi kami. Menyadarkan mereka agar tidak terseret dalam lingkaran kemiskinan tersebut. Intinya, biar mereka sejahtera,’’ tambah Ayu.
Ayu mengakui, di lapangan hal-hal yang terjadi cukup pelik. Misalnya, soal pemanfaatan bantuan PKH. Banyak yang lebih mengutamakan konsumtif hingga menggadaikan kartu sebagai jaminan pinjaman.
”Jujur, sekarang kami terus pantau dan bantu mereka untuk memanajemen bantuan itu. Konsumtif boleh, namun alangkah baiknya ada yang disisihkan untuk usaha. Sebab kalau mengandalkan pemasukan dari mereka tidak cukup karena rata-rata memiliki anak lebih dari dua,’’ ujar perempuan yang sudah dua tahun menjadi pendamping PKH itu.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
