
KREATIF: Founder Cekka Studio Nurul Idzi (kanan) menunjukkan salah satu koleksi produk dari material agel kepada Menparekraf Sandiaga Uno saat pameran di Kemenparekraf.
Nurul Idzi mampu mengembangkan produk kerajinan ramah lingkungan. Dia memakai material agel. Selain membuat produk, alumnus ITS itu juga merintis berdirinya start-up bernama Cekka Studio.
SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya
SERAT pohon gebang atau sering disebut agel saat ini menjadi salah satu material unik yang mulai banyak digunakan untuk kerajinan tangan.
Material ramah lingkungan itu dimanfaatkan alumnus S-2 Magister Manajemen Teknologi (MMT) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Nurul Idzi untuk membuat beragam produk kreatif yang bernilai jual tinggi. Hingga akhirnya, dia menggagas pendirian start-up bernama Cekka Studio.
”Start-up ini adalah pertama di Indonesia yang memanfaatkan material agel sebagai bahan kerajinan rumah,” katanya.
Di balik start-up Cekka Studio yang dia dirikan, Idzi menyelipkan misi di dalamnya.
Yakni, ingin menggaungkan produk kerajinan ramah lingkungan yang dapat berdampak sosial melalui pemberdayaan masyarakat.
”Cekka Studio ingin mendobrak pengembangan produk dengan material dari alam dan tentu harus berdampak sosial pada masyarakat atau komunitas. Pastinya ramah lingkungan,” ujar perempuan lulusan S-1 Desain Produk Industri (Despro) ITS itu.
Start-up tersebut didirikan sejak Agustus 2020. Meski baru berjalan tiga tahun, Cekka Studio mampu membuktikan bahwa perusahaan rintisan yang didirikan tersebut dapat berkembang.
Saat ini Cekka Studio berada di bawah inkubator layanan bisnis ITS (ILBI). Penjualan produk dengan material agel sudah mencapai 2.500 produk. ”Selain di Indonesia, kami kirim hingga ke Singapura,” katanya.
Idzi mengatakan, saat ini belum banyak warga yang memanfaatkan agel sebagai kerajinan rumah. Hal itu menjadi tantangan sendiri.
Khususnya, dalam pemasaran produk. Karena itu, memperkenalkan produk dari material agel tersebut sering kali melalui pameran dan bazar.
”Kami mengefektifkan pemasaran dengan direct selling di setiap pameran. Dengan begitu, kami bisa memberikan brand awareness kepada masyarakat. Mereka juga jadi tahu produk-produk dari agel,” ujar founder Cekka Studio itu.
Idzi menjelaskan, banyak keunggulan dari material agel. Salah satunya tidak mudah terkontaminasi oleh bahan kimia sehingga tidak merusak lingkungan. ”Kualitas produk pun masih terjamin bagus,” kata dia.
Agel, lanjut dia, adalah serat daun gebang yang dipintal dan dianyam. Jadi, agel dapat menjadi alternatif material alam lain yang lebih dulu dikenal masyarakat, seperti rotan dan eceng gondok. Agel juga memberikan bentuk yang natural dengan warna kecokelatan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
