
SEMARAK: Atraksi barongsai dari Perguruan Tri Pusaka Lithang, Solo, saat perayaan Imlek 2020. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)
Kelenteng Tien Kok Sie, konon yang tertua di Solo, sibuk mempersiapkan Imlek. Tidak jauh, tepatnya di Jalan Drs Yap Tjwan Bing atau Jagalan, terdapat kelompok Barongsai Tripusaka yang anggotanya mayoritas suku Jawa.
---
KELENTENG itu dibangun sekitar 1748. Terletak di dekat Benteng Vastenburg yang dibangun Belanda. Kelenteng seolah menjadi penanda kawasan Tionghoa di Solo. Perumahan dan kawasan perekonomian Tionghoa mulai menjamur di sekitar kelenteng pasca pembangunan. Sekarang, Sudiroprajan, kelurahan tempat kelenteng itu berdiri, terkenal dengan kawasan pecinan.
Zaman berlalu. Hubungan masyarakat Tionghoa dengan etnis lain masih harmonis. Tak jarang ada pernikahan antaretnis. ”Belum lama ini kakak saya menikahkan anak perempuannya dengan pemuda Jawa,” kata penggiat budaya Tionghoa Solo Aji Chandra. ”Waktu pernikahan itu, kami pakai adat Solo dan saya yang ular-ular pakai bahasa Jawa,” sambungnya.
Aji yang pernah tinggal di kawasan Sudiroprajan tak asing melihat pernikahan antaretnis tersebut. Pernikahan antara etnis Tionghoa dan Jawa di Solo kerap disebut ampyang. Nama ampyang memang digunakan untuk makanan yang terbuat dari gula jawa dan kacang tanah. Rasanya manis. Kerap menjadi oleh-oleh bagi pelancong di Solo.
Penganan ampyang dalam pernikahan Tionghoa dan Jawa di Solo menggambarkan keragaman. Gula merah melambangkan orang Jawa, sedangkan kacang tanah adalah simbol etnis Tionghoa. Perbedaan itu biasa, yang penting rasanya manis seperti ampyang.
Baca juga: Perkumpulan Tionghoa pun Peringati Haul Gus Dur
Aji memiliki kelompok barongsai yang anggotanya campur, Tionghoa-Jawa. Justru lebih banyak Jawa-nya. ”Ya 90 persen Jawa,” ungkap Aji.
Barongsai Tripusaka didirikan sekitar 1998. Saat itu politikus Amien Rais hendak mengundang barongsai. Namun, di Solo belum ada sehingga harus mengundang dari Semarang. Hal itu membuat Aji bersemangat. Perguruan wushunya bisa dilatih. Wushu merupakan modal awal bagi calon pemain barongsai. Sebab, kuda-kudanya harus kukuh.
Murid kelompok wushu yang berlatih di Lithang, tempat ibadah Konghucu, yang berada di Jalan Drs Yap Tjwan Bing atau Jagalan, itu memang banyak orang Jawa. Dalam sepekan biasanya mereka berlatih tiga kali. Karena di area terbuka, banyak orang yang menonton. Itu menjadi daya tarik tersendiri. ”Biasanya menjelang Imlek itu banyak yang nanggap,” katanya.
Aji hanya berharap pandemi segera berakhir sehingga mereka bisa berlatih dan pentas. Pentas Barongsai Tripusaka selalu menjadi kebanggaan bagi Aji karena menunjukkan keberagaman Solo.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=K_9jkZf3bEo

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
