Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Februari 2021, 20.42 WIB

Perbedaan Itu Manis seperti Ampyang

SEMARAK: Atraksi barongsai dari Perguruan Tri Pusaka Lithang, Solo, saat perayaan Imlek 2020. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO) - Image

SEMARAK: Atraksi barongsai dari Perguruan Tri Pusaka Lithang, Solo, saat perayaan Imlek 2020. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)

Kelenteng Tien Kok Sie, konon yang tertua di Solo, sibuk mempersiapkan Imlek. Tidak jauh, tepatnya di Jalan Drs Yap Tjwan Bing atau Jagalan, terdapat kelompok Barongsai Tripusaka yang anggotanya mayoritas suku Jawa.

---

KELENTENG itu dibangun sekitar 1748. Terletak di dekat Benteng Vastenburg yang dibangun Belanda. Kelenteng seolah menjadi penanda kawasan Tionghoa di Solo. Perumahan dan kawasan perekonomian Tionghoa mulai menjamur di sekitar kelenteng pasca pembangunan. Sekarang, Sudiroprajan, kelurahan tempat kelenteng itu berdiri, terkenal dengan kawasan pecinan.

Zaman berlalu. Hubungan masyarakat Tionghoa dengan etnis lain masih harmonis. Tak jarang ada pernikahan antaretnis. ”Belum lama ini kakak saya menikahkan anak perempuannya dengan pemuda Jawa,” kata penggiat budaya Tionghoa Solo Aji Chandra. ”Waktu pernikahan itu, kami pakai adat Solo dan saya yang ular-ular pakai bahasa Jawa,” sambungnya.

Aji yang pernah tinggal di kawasan Sudiroprajan tak asing melihat pernikahan antaretnis tersebut. Pernikahan antara etnis Tionghoa dan Jawa di Solo kerap disebut ampyang. Nama ampyang memang digunakan untuk makanan yang terbuat dari gula jawa dan kacang tanah. Rasanya manis. Kerap menjadi oleh-oleh bagi pelancong di Solo.

Penganan ampyang dalam pernikahan Tionghoa dan Jawa di Solo menggambarkan keragaman. Gula merah melambangkan orang Jawa, sedangkan kacang tanah adalah simbol etnis Tionghoa. Perbedaan itu biasa, yang penting rasanya manis seperti ampyang.

Baca juga: Perkumpulan Tionghoa pun Peringati Haul Gus Dur

Aji memiliki kelompok barongsai yang anggotanya campur, Tionghoa-Jawa. Justru lebih banyak Jawa-nya. ”Ya 90 persen Jawa,” ungkap Aji.

Barongsai Tripusaka didirikan sekitar 1998. Saat itu politikus Amien Rais hendak mengundang barongsai. Namun, di Solo belum ada sehingga harus mengundang dari Semarang. Hal itu membuat Aji bersemangat. Perguruan wushunya bisa dilatih. Wushu merupakan modal awal bagi calon pemain barongsai. Sebab, kuda-kudanya harus kukuh.

Murid kelompok wushu yang berlatih di Lithang, tempat ibadah Konghucu, yang berada di Jalan Drs Yap Tjwan Bing atau Jagalan, itu memang banyak orang Jawa. Dalam sepekan biasanya mereka berlatih tiga kali. Karena di area terbuka, banyak orang yang menonton. Itu menjadi daya tarik tersendiri. ”Biasanya menjelang Imlek itu banyak yang nanggap,” katanya.

Aji hanya berharap pandemi segera berakhir sehingga mereka bisa berlatih dan pentas. Pentas Barongsai Tripusaka selalu menjadi kebanggaan bagi Aji karena menunjukkan keberagaman Solo.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=K_9jkZf3bEo

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore